Ford di Bawah Tekanan: Kerugian EV, Rival Tiongkok, dan Masa Depan yang Terancam
Ford Motor Company (F) memasuki 2026 dengan menghadapi konsekuensi dari strategi elektrifikasi yang mahal, lanskap persaingan yang dibentuk ulang oleh produsen otomotif Tiongkok, dan hasil keuangan yang menuntut koreksi segera.
Divisi EV Ford, Model e, telah menjadi segmen yang paling berdampak secara finansial dalam sejarah modern perusahaan. Pada tahun fiskal 2025, divisi ini mencatat kerugian EBIT sebesar $4,8 miliar meski membukukan pendapatan $6,7 miliar, yang hanya mewakili 3,6% dari total omzet perusahaan. Kinerja divisi yang terus di bawah ekspektasi memicu total write-down sebesar $19,5 miliar, termasuk penurunan nilai aset EV jangka panjang sebesar $8,4 miliar dan pembatalan dua program utama: lini produksi F-150 Lightning dan proyek pikap listrik generasi berikutnya, T3. Ini bukan sekadar kemunduran kecil namun merupakan awal keruntuhan produk EV Ford.
Masalahnya cukup struktural: basis biaya EV Ford jauh terlalu tinggi dibandingkan harga yang bisa diterima pasar. Biaya tetap yang tinggi dari fasilitas manufaktur baterai, dikombinasikan dengan permintaan konsumen yang lebih rendah dari perkiraan dan tekanan tarif yang terus berlangsung, membuat Model e tidak mampu mencapai profitabilitas melalui peningkatan skala. Setiap unit yang mencetak laba dari penjualan Ford Pro dan Ford Blue, menghasilkan EBIT disesuaikan sebesar $6,8 miliar, sudah digunakan untuk menyerap kerugian EV. Subsidi silang ini tidak bisa berlanjut tanpa batas tanpa menggerus kesehatan keuangan Ford secara keseluruhan.
Pesaing yang Tidak Bisa Diremehkan Ford
Industri EV Tiongkok merupakan ancaman persaingan yang secara fundamental berbeda dari apa pun yang pernah dihadapi Ford sebelumnya. Didukung oleh subsidi negara yang besar, produsen seperti BYD telah mencapai struktur biaya yang saat ini tidak bisa ditandingi oleh produsen otomotif Barat. Hal ini memungkinkan mereka menetapkan harga secara agresif sambil tetap mempertahankan margin yang sehat. BYD kini menguasai sekitar 70% pasar kendaraan listrik dan hybrid plug-in di Meksiko, yang secara geografis bersebelahan dengan Amerika Serikat. Meskipun tarif impor sebesar 100% saat ini menghalangi masuknya produk Tiongkok ke pasar Amerika, hambatan kebijakan tersebut tidak dijamin bersifat permanen, dan tekanan persaingan yang tertekan itu sangat nyata adanya.
Produsen otomotif Tiongkok tidak hanya lebih murah, tetapi juga lebih unggul dalam hal teknologi. Kendaraan mereka dilengkapi dengan perangkat lunak dalam kabin yang canggih, kemampuan pembaruan over-the-air, dan integrasi digital yang lebih baik, beberapa spesifikasi yang mulai diperhatikan dan diharapkan oleh konsumen AS. Pimpinan Ford sendiri telah membandingkan EV terjangkau yang akan datang dengan struktur biaya BYD di Meksiko, mengakui bahwa mencocokkan ekonomi produksi Tiongkok kini menjadi prasyarat bagi kelangsungan EV. Dinamika ini mempersingkat timeline pengembangan produk Ford dan memaksa perombakan proses manufaktur yang mahal pada saat perusahaan paling tidak mampu menanggungnya.
Pendapatan Bertahan, Namun Profitabilitas Tertekan Serius
Pendapatan Ford di FY2025 sebesar $187,3 miliar terlihat tangguh walau hanya naik 1% dari tahun sebelumnya, dengan penjualan AS meningkat 6%. Di balik itu, gambarannya jauh lebih mengkhawatirkan. Perusahaan berbalik dari laba bersih $5,9 miliar pada 2024 menjadi rugi bersih $8,2 miliar pada 2025. Pembalikan sebesar $14,1 miliar yang merupakan hasil tahunan terburuk sejak krisis keuangan 2008. EBIT disesuaikan juga turun signifikan, dari $10,2 miliar menjadi $6,8 miliar, dengan margin disesuaikan menyusut dari 5,5% menjadi 3,6%. Tarif menambah sekitar $2 miliar biaya impor sepanjang 2025, dengan eksposur lebih lanjut diperkirakan berdampak $1,5 miliar pada laba bersih ke depannya.

Sumber: XTB Research Indonesia
Pasar saham telah memperhitungkan ketidakpastian ini. Konsensus analis masih menunjukkan ketidaksepakatan nyata tentang apakah transformasi Ford akan menghasilkan imbal hasil sebelum biaya transisi menggerus neraca keuangan. Dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 460%, setiap penurunan berkelanjutan dalam profitabilitas Ford Pro akan secara material mengubah fleksibilitas keuangan perusahaan.
Yang Dipertaruhkan Jika Ford Tidak Bisa Memecahkan Masalah Ini Cukup Cepat
Jendela bagi Ford untuk menyelesaikan ekonomi EV-nya semakin menyempit. Perusahaan telah menetapkan 2029 sebagai target profitabilitas Model e, dengan perbaikan tahunan yang diharapkan mulai 2026. Timeline tersebut bergantung pada beberapa variabel yang harus selaras secara bersamaan: pengurangan biaya di pabrik EV Kentucky, adopsi konsumen terhadap EV terjangkau dalam skala besar, kebijakan tarif yang stabil, dan tidak adanya persaingan baru yang signifikan dari Tiongkok yang masuk ke pasar Amerika Utara. Jika salah satu kondisi ini tidak terwujud, target 2029 menjadi tidak realistis, dan Ford menghadapi prospek menyerap kerugian EV miliaran dolar per tahun hingga jauh ke dekade berikutnya.
Aggananda Dhammiko
(Research Analyst)
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.
US500 Tembus 7.000, Earnings & Iran Jadi Pendorong
Economic Calendar: Data Global & Klaim Pengangguran AS
Market Wrap: US500 Cetak Rekor Kembali
Microsoft (MSFT): Valuasi 'Menarik'?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.