Harga minyak memangkas penurunan setelah laporan terbaru menyebutkan adanya serangan rudal tambahan ke Israel. Harga emas terus melemah, sementara saham global menguat—meski saham sektor pertahanan masih tertekan.
Jika ketegangan geopolitik mereda, pasar bisa kembali fokus pada tren teknologi seperti AI. Namun, untuk saat ini, ketidakpastian tetap mendominasi.
Minyak Anjlok Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata
Harga minyak Brent sempat jatuh tajam pada Selasa setelah Presiden Trump mengumumkan gencatan senjata antara Iran dan Israel. Meski awalnya terlihat solid, situasi masih sangat dinamis. Militer Israel (IDF) menyatakan ada serangan rudal ke wilayahnya dari Iran pagi ini, yang membuat harga minyak kembali naik menuju $70 per barel.
Sebelumnya, Brent sempat naik hampir 20% selama sebulan terakhir karena premi perang. Tapi penurunan tajam hari ini menunjukkan pasar menganggap gencatan senjata ini sah. Jika gencatan tak bertahan, tren naik harga minyak bisa kembali terjadi.
Sentimen Pasar Sangat Sensitif terhadap Berita Utama
Harga Brent turun hampir 3% hari ini dan bergerak liar dalam kisaran $66–$73 per barel. Harga emas jatuh $45 per ons, sementara dolar AS—yang sempat jadi aset safe haven utama—kini jadi mata uang terlemah di kelompok G10.
Pasar sedang bereaksi cepat terhadap perubahan arah narasi. Volatilitas harga minyak mencerminkan betapa rentannya sentimen terhadap risiko geopolitik.
Selat Hormuz Tidak Tersentuh, Harga Minyak Bisa Terus Melemah
Kecepatan penurunan harga minyak membuat prediksi menjadi sulit. Namun, setelah menembus rata-rata pergerakan 200 dan 100 hari, level support kuat Brent ada di $66,60—rata-rata 50 hari dan titik terendah sejak sebelum serangan udara Israel ke Iran bulan ini.
Harga pengiriman dan komoditas pertanian juga mulai turun, karena banyak pupuk dunia melewati Selat Hormuz yang kini tetap terbuka.
Investor Lebih Khawatir Soal Tarif Daripada Geopolitik
Indeks volatilitas VIX tidak melonjak tajam selama konflik ini. Indeks saham global juga tidak turun dalam jumlah besar. Eurostoxx adalah yang paling terpengaruh, turun lebih dari 2% dalam sepekan terakhir, namun saham AS justru menguat. Ini menandakan bahwa kekhawatiran ekonomi, seperti tarif perdagangan, lebih berdampak dibanding ketegangan geopolitik saat ini.
Pasar Saham Bangkit, Fokus Kembali ke Teknologi
Pasar saham Eropa melonjak di awal sesi. Eurostoxx 50 naik lebih dari 1%, sedangkan FTSE 100 tertinggal karena tekanan dari saham sektor energi dan pertahanan. Di AS, S&P 500 diprediksi naik lebih dari 50 poin, mendekati rekor tertinggi tahun ini.
Fokus pasar ke depan kemungkinan akan bergeser ke musim laporan keuangan kuartal kedua dan perkembangan tarif perdagangan AS. Jika tarif segera disepakati, tren investasi berbasis AI bisa kembali mendominasi dan membuat musim panas pasar relatif tenang.
Robotaxi Tesla Tandai Era Baru EV
Pasar saham AS sebagian besar mengabaikan ketegangan geopolitik minggu lalu. Sektor teknologi justru memimpin. Tesla menjadi saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 setelah meluncurkan Robotaxi. Saham Tesla masih turun 10% secara year-to-date, artinya masih ada ruang untuk rebound lebih lanjut.
Sebaliknya, Super Micro—saham terbesar AS yang fokus pada Bitcoin—melemah, namun berpotensi pulih karena reli Bitcoin yang kini kembali di atas $105.000 per koin.
Saham Pertahanan Bisa Melemah Jika Gencatan Senjata Bertahan
Jika gencatan senjata berlanjut, saham pertahanan bisa terkena tekanan. BAE Systems, Babcock, dan Rolls Royce mengalami pelemahan di FTSE 100. Rheinmetall—perusahaan pertahanan Jerman yang sahamnya naik 171% tahun ini—juga melemah di indeks DAX.
Di AS, saham Palantir patut dipantau. Saham ini naik 15% dalam sebulan terakhir karena ketegangan geopolitik. Namun, dengan eskalasi konflik mereda, Palantir—yang sering diposisikan seperti saham pertahanan meski berbasis teknologi—bisa mengalami tekanan jual.
Dolar Melemah: Mata Uang Komoditas Unggul
Dolar AS melemah tajam terhadap mata uang komoditas, yen, dan pound. Meskipun harga minyak turun drastis, mata uang komoditas justru menguat hari ini. Pasar forex adalah satu-satunya yang mencerminkan sikap “risk-off” pada Senin, dan kini terjadi pembalikan.
Ke depan, pasar akan fokus pada apakah gencatan senjata bisa bertahan. Sentimen pasar tetap rentan dan reaktif terhadap perkembangan berita. KTT NATO yang akan berlangsung hari Selasa malam juga layak dicermati oleh investor global.
Kesimpulan: Pasar Masih Sensitif, Tapi Fokus Mulai Berpindah
Gencatan senjata memberi harapan bagi stabilitas jangka pendek, tetapi ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Jika situasi Timur Tengah tetap tenang, pasar bisa mulai mengalihkan perhatian ke rilis keuangan korporasi dan narasi teknologi, seperti AI dan kendaraan otonom.
Morning Wrap (02.03.2026)
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉