Harga emas kembali naik ke atas level US$4.000 per ons dan berupaya bertahan di atas level tersebut meskipun harga minyak meningkat dan ketegangan di Timur Tengah semakin memanas.
Ketahanan harga emas ini mengindikasikan bahwa investor mulai lebih memperhatikan dampak jangka panjang dari lonjakan harga energi dan perlambatan ekonomi dibandingkan hanya berfokus pada risiko inflasi jangka pendek.
Dukungan tambahan juga datang dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi. Baik Consumer Price Index (CPI) maupun Producer Price Index (PPI) meredakan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve.
Investor kini tampak semakin enggan melepas kepemilikan emas hanya karena ekspektasi inflasi meningkat.
Apabila kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi mulai lebih dominan dibandingkan kekhawatiran inflasi, maka karakter emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) berpotensi kembali menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.
Breakout yang berkelanjutan di atas area US$4.200–4.300 per ons dapat menjadi sinyal bahwa arus dana investor kembali masuk ke pasar logam mulia secara lebih permanen.
Sebaliknya, apabila harga turun di bawah US$3.900 per ons, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta meningkatnya kembali kekhawatiran terhadap inflasi kembali menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar.
Skenario paling bullish bagi harga emas adalah jika ketegangan di Selat Hormuz mulai mereda secara bertahap, diikuti penurunan harga minyak dan kebijakan Federal Reserve yang semakin dovish.
Namun, skenario tersebut masih jauh dari kata pasti.
Pasar minyak dapat tetap berada dalam kondisi pasokan yang ketat untuk waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi sekaligus menjaga dolar AS tetap kuat. Kedua faktor tersebut secara historis cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas.
US Open: Wall Street Tertekan, Saham Chip Kembali Melemah
Market wrap: Saham Chip Asia Anjlok, Pasar Tunggu TSM
Daily Summary: Wall Street Naik, PPI AS Turun dan Big Tech Menguat
BREAKING: PPI AS Turun, Sinyal Disinflasi Semakin Kuat
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.