- Harga emas turun di bawah level $4.700 per ounce
- Laporan makro utama untuk emas dan dolar AS adalah rilis data CPI AS
- Data terbaru World Gold Council untuk Q1 2026 masih mendukung prospek emas, meskipun terdapat beberapa pelemahan minor
- Harga emas turun di bawah level $4.700 per ounce
- Laporan makro utama untuk emas dan dolar AS adalah rilis data CPI AS
- Data terbaru World Gold Council untuk Q1 2026 masih mendukung prospek emas, meskipun terdapat beberapa pelemahan minor
Harga emas melemah sekitar 0,5% selama sesi perdagangan Selasa, setelah beberapa hari bergerak stagnan dan gagal menembus level $4.700 per ounce secara meyakinkan. Menariknya, harga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan 100-periode dan garis tren penurunan.
Saat ini, dolar AS terlihat sedikit lebih kuat, didorong tidak hanya oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi tetapi juga kebuntuan geopolitik di Timur Tengah. Laporan menunjukkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan kembali dimulainya aksi militer di Iran setelah penolakan terhadap proposal perdamaian terbaru.
Data inflasi CPI hari ini diperkirakan naik menjadi 3,7% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan mencapai 2,7% secara tahunan. Jika inflasi terbukti tetap tinggi atau “sticky”, tekanan terhadap bank sentral akan meningkat, yang berpotensi membebani logam mulia dalam jangka pendek. Di sisi lain, perlu dicatat bahwa perak berhasil menembus area resistance kemarin, disertai rebound tajam harga tembaga.
Secara fundamental, prospek emas masih tetap solid. Permintaan didorong oleh pembelian bank sentral dan investor ritel yang membeli emas fisik. Namun, permintaan ETF mengalami penurunan signifikan pada kuartal pertama, dan hingga kini belum terlihat pemulihan berarti, bahkan ketika Wall Street mencetak rekor tertinggi baru. Emas membutuhkan perbaikan yang jelas dalam situasi Timur Tengah serta kepastian bahwa inflasi hanya bersifat sementara dan tidak memicu gelombang baru kenaikan suku bunga.

Data Penting: Laporan World Gold Council
- Total permintaan (termasuk OTC): Total permintaan emas naik 2% secara tahunan menjadi 1.230 ton. Namun, jika tidak memasukkan OTC, permintaan justru turun 9% secara tahunan dan 10% secara kuartalan.
- Pembelian bank sentral mencetak rekor: Bank sentral membeli 243 ton emas.
- Konsumsi perhiasan: Permintaan perhiasan turun tajam hampir seperempat secara tahunan maupun kuartalan, menjadi 335 ton.
- Pasokan emas: Total pasokan naik tipis secara tahunan menjadi 1.230 ton. Namun, angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dua kuartal sebelumnya, yang dapat mengindikasikan potensi defisit pasokan berkelanjutan.
Unity Software Q1 2026: Pendapatan AI Dorong Pertumbuhan
Morning Wrap: Pasar Tunggu CPI AS dan Risiko Iran
Daily Summary: Wall Street Bertahan di Tengah Risiko Iran
China, Saudi Aramco dan Minyak - Apa Selanjutnya?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.