Pasar logam mulia mengalami aksi jual besar-besaran dalam beberapa hari terakhir. Harga emas terdepresiasi sekitar 6% dibandingkan pekan lalu, bahkan sempat menyentuh penurunan hingga 10%. Sementara itu, harga perak juga mencatatkan koreksi sebesar 5% pada perdagangan kemarin.
-
Aksi jual ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi dan meningkatnya risiko stagflasi, yang biasanya akan mendukung permintaan terhadap aset safe haven - terutama emas. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, di mana logam mulia bergerak lebih seperti aset momentum, turun seiring dengan obligasi dan indeks saham.
-
Dinamika ini dapat dikaitkan dengan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Ekspektasi pemangkasan suku bunga kini terdorong ke musim gugur, yang menguntungkan dolar AS dan yield Treasury. Pada saat yang sama, lonjakan harga minyak memperkuat pandangan bahwa bank sentral, termasuk The Fed, akan tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter akibat risiko inflasi yang persisten.
SLV dan GDX charts (D1)
iShares Silver Trust (SLV) juga mencatatkan penurunan sekitar 4,4% pada sesi perdagangan kemarin. Penurunan ini sekaligus menyebabkan harga sertifikat dana tersebut menembus ke bawah zona dukungan penting di level US$65.

Sumber: xStation5
VanEck Gold Miners ETF (GDX) turut membukukan penurunan hampir 6% di tengah aksi jual tajam harga emas. Sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa, nilai dana ini telah merosot sebesar 30%.

Sumber: xStation5
Daily summary: Minyak turun 2%, Dolar AS melemah 📉 Apakah US500 akan rebound?
Emas tergelincir, Saham pertambangan anjlok🚨📉
Sinyal 'Hawkish' dari Fed?
Daily Summary - Ketegangan Timur tengah meningkat, harga minyak kembali naik (18.03.2026)