14.54 · 12 Juni 2026

Minyak Anjlok, Pasar Mulai Percaya Kesepakatan AS-Iran

Harga minyak kembali mengalami tekanan besar setelah serangkaian pernyataan terbaru dari Donald Trump. Pertama, Trump membatalkan serangan terhadap Iran yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada malam hari. Kedua, ia menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran pada dasarnya sudah hampir selesai dan dapat ditandatangani dalam waktu dekat di Eropa. Akibatnya, harga minyak Brent turun ke bawah US$90 per barel. Sementara itu, setelah proses rollover kontrak futures WTI, harga minyak mentah AS kini menunjukkan level di bawah US$85 per barel.

 

Jika dampak rollover futures dikesampingkan, harga minyak saat ini hanya sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan saat konflik dimulai. Perbandingan dengan peristiwa tahun 1990 dan 2022 mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut. Meskipun demikian, investor perlu mengingat bahwa Selat Hormuz masih belum dibuka sepenuhnya. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

 

Efek Déjà Vu: Pasar Tetap Berhati-Hati

Meskipun reaksi harga sangat signifikan, sejarah mengajarkan bahwa pasar perlu tetap berhati-hati. Beberapa fakta penting masih perlu diperhatikan:

  • Janji yang Berulang: Presiden Amerika Serikat telah berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Namun hingga saat ini belum ada satu pun yang benar-benar terealisasi. Bahkan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz saat ini lebih rendah dibandingkan ketika operasi militer masih berlangsung secara aktif.
  • Skeptisisme dari Iran: Pemerintah Iran terus meredam optimisme pasar. Teheran menyatakan bahwa kesimpulan akhir belum tercapai. Sejumlah media lokal juga melaporkan bahwa teks kesepakatan belum memperoleh persetujuan resmi.

Menurut berbagai laporan, rancangan kesepakatan tersebut mencakup:

  • Gencatan senjata selama 60 hari.
  • Penghapusan blokade laut.
  • Kembalinya Iran ke perundingan nuklir.

Sebagai imbalannya, sebagian sanksi terhadap Iran berpotensi dilonggarkan.

 

Data juga menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Maret dan April lebih tinggi dibandingkan saat ini. Namun sebagian aktivitas tersebut kemungkinan berasal dari ekspor Iran sendiri. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

 

Pasar Mulai Percaya pada Kompromi

Terlepas dari berbagai ketidakpastian tersebut, investor tampaknya semakin percaya bahwa kesepakatan kali ini memiliki peluang lebih besar untuk berhasil. Menurut berbagai pandangan di Wall Street, kedua pihak dinilai memiliki terlalu banyak hal yang dipertaruhkan apabila negosiasi gagal. Karena itu, skenario kegagalan total pembicaraan tidak lagi dianggap sebagai hasil yang paling mungkin terjadi.

Keyakinan tersebut tercermin jelas pada pasar futures minyak.

  • Kurva Futures Mulai Mendatar: Pasar secara agresif menghilangkan premi risiko perang dari harga minyak. Akibatnya, kontrak jangka pendek mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan kontrak jangka panjang. Fenomena ini menyebabkan kurva futures menjadi semakin datar (flattening forward curve).
  • Calendar Spread Menyusut: Prospek pembukaan kembali Selat Hormuz membuat kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan jangka pendek mulai berkurang. Akibatnya, premi pengiriman segera (backwardation premium) turun tajam. Spread antara kontrak bulan Juli dan Agustus juga terus menyempit.

Saat ini spread telah kembali ke level yang terlihat pada awal konflik. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

Hambatan Teknis dan Fisik Masih Besar

Meski dokumen kesepakatan nantinya ditandatangani, pemulihan kondisi fisik pasar energi tidak akan terjadi secara instan. Diperlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke kondisi normal. Selain itu, pembukaan Selat Hormuz tidak sepenuhnya menghilangkan risiko konflik. Ketegangan baru masih dapat muncul apabila hubungan kedua pihak kembali memburuk. Sejumlah hambatan yang masih harus diatasi antara lain:

• Pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz.

• Perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan drone.

• Pemulihan kapasitas produksi yang sempat dihentikan.

Pasar Fisik Masih Sangat Ketat

Menariknya, proses deeskalasi ini terjadi ketika pasar minyak fisik masih menunjukkan kondisi yang ketat. Persediaan energi terus mengalami penurunan. Secara global, stok memang masih berada pada level yang relatif tinggi. Namun di beberapa lokasi strategis situasinya jauh lebih mengkhawatirkan.

Contohnya:

• Cadangan energi di Singapura berada pada level yang sangat rendah.

• Stok di terminal Cushing, Oklahoma, juga mendekati level kritis.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pasar masih dapat menghadapi gangguan pasokan dalam beberapa minggu ke depan apabila pengiriman normal belum sepenuhnya pulih. Dengan kata lain, meskipun pasar finansial mulai memperhitungkan perdamaian, pasar fisik masih menunjukkan tanda-tanda ketatnya pasokan energi global.


 
12 Juni 2026, 01.11

Daily summary: Wall Street Rebound, SpaceX dan AI Jadi Sorotan

11 Juni 2026, 20.42

US OPEN: Wall Street Rebound, Fokus Beralih ke Iran dan Adobe

11 Juni 2026, 00.23

Daily Summary: Pasar Global Melemah Saat Trump Ancam Iran Lagi

10 Juni 2026, 21.30

Konflik Iran Bisa Berlarut, Apa Dampaknya bagi Minyak?

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.