Harga minyak dunia turun tajam selama dua sesi perdagangan pada 2–3 November 2026 setelah harapan perdamaian AS–Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi. Namun, penurunan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) lebih mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik daripada pemulihan pasokan minyak global yang benar-benar telah terjadi.
Brent dan WTI Anjlok dalam Dua Sesi Perdagangan
Harga minyak Brent turun 7,63% pada 2 November, sementara WTI merosot 7,36%, didorong optimisme terhadap kemungkinan penyelesaian konflik AS–Iran melalui jalur diplomasi. Pelemahan berlanjut pada 3 November, membawa Brent ke US$103,60 per barel dan WTI ke US$96,09 per barel, keduanya mendekati level penutupan terendah dalam empat minggu.
|
Benchmark |
Penutupan 3 Nov |
Perubahan 2 Nov |
Perubahan 3 Nov |
|---|---|---|---|
|
Brent |
US$103,60 |
-7,63% |
-1,12% |
|
WTI |
US$96,09 |
-7,36% |
-0,38% |
Brent menjadi acuan utama dalam perkembangan ini karena lebih luas digunakan dalam perdagangan minyak internasional, sedangkan WTI terutama mencerminkan pasar minyak AS. Meski mengalami penurunan besar, Brent masih bertahan di atas US$100 per barel dan bahkan sempat rebound ke sekitar US$104,30 pada perdagangan Asia 4 November, menunjukkan bahwa harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan diplomasi.
Analisis Teknikal Brent dan WTI: Tekanan Jual Masih Dominan

Secara teknikal, harga minyak Brent (OIL) pada timeframe H1 berada di sekitar US$102,85 per barel, masih di bawah garis tengah Bollinger Bands US$104,29. Indikator RSI di 38,47 menunjukkan momentum bearish, sementara MACD yang masih berada di area negatif mengindikasikan pemulihan belum solid. Support terdekat berada di US$102,40, dengan potensi penurunan menuju US$101,40–100,85 apabila tekanan jual berlanjut.
Sementara itu, WTI (OIL.WTI) diperdagangkan di sekitar US$95,08 per barel, juga di bawah garis tengah Bollinger Bands US$96,34. RSI di 38,53 dan MACD negatif memperkuat indikasi pelemahan harga. WTI kini bergerak sedikit di bawah level Fibonacci US$95,17, dengan support berikutnya di US$94,57–93,96 jika koreksi berlanjut.
Kedua grafik tersebut memperkuat tesis bahwa harga minyak masih berada dalam fase koreksi, sejalan dengan berkurangnya premi risiko geopolitik akibat harapan deeskalasi konflik AS–Iran. Namun, selama gangguan pasokan melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya teratasi, risiko rebound harga Brent dan WTI tetap terbuka.
Harga Sudah Turun, tetapi Pasokan Global Belum Pulih
Harapan tercapainya kesepakatan AS–Iran meningkat setelah Qatar memperkuat upaya mediasi, tetapi kedua negara masih belum mencapai kesepakatan final. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz juga belum sepenuhnya teratasi, padahal jalur tersebut sebelum konflik menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sementara itu, tujuh produsen utama OPEC+ mempertahankan target produksi Desember dalam pertemuan 1 November, ketika sejumlah produsen Teluk masih berproduksi jauh di bawah target akibat gangguan ekspor. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang memperhitungkan kemungkinan perbaikan pasokan di masa depan, bukan merespons pemulihan produksi dan distribusi yang telah terbukti.
Jika negosiasi kembali menemui jalan buntu atau gangguan pengiriman meningkat, premi risiko geopolitik yang sempat berkurang dapat kembali mendorong harga minyak naik.
Siapa yang Diuntungkan dan Apa Katalis Berikutnya?
Penurunan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi menguntungkan maskapai penerbangan seperti United Airlines (UAL) melalui biaya bahan bakar yang lebih rendah, meskipun dampaknya bergantung pada harga bahan bakar jet (jet fuel) dan strategi lindung nilai (hedging). Sebaliknya, perusahaan energi seperti ExxonMobil (XOM) dan Chevron (CVX) dapat menghadapi tekanan terhadap pendapatan bisnis hulu (upstream), sementara keuntungan dari bisnis hilir (downstream) berpotensi menjadi penyeimbang.
Bagi saham pertumbuhan (growth stocks), energi yang lebih murah dapat membantu meredakan inflasi, tetapi belum tentu langsung mendorong Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga. Investor kini perlu memperhatikan kemajuan negosiasi AS–Iran, pemulihan pengiriman melalui Selat Hormuz, serta rencana pembicaraan Rusia–Ukraina pada 10–11 November yang juga berpotensi memengaruhi ekspektasi pasokan energi global.
Kesimpulannya, penurunan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa pasar semakin berharap konflik mereda, tetapi belum membuktikan bahwa risiko pasokan telah hilang. Selama arus minyak global belum kembali normal, harga Brent dan WTI masih rentan terhadap lonjakan berikutnya.
Democrats Sementara Unggul, Trump Terancam Gridlock
Daily Summary: Nasdaq Rebound 1,1% Jelang Pemilu AS!
US Open: Wall Street Rebound Jelang Pemilu Midterm!
AS-Iran Dekati Damai, Wall Street Rebound!
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.