Sesi perdagangan Rabu di pasar keuangan didominasi oleh keputusan Federal Reserve Amerika Serikat. FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75%. Namun, pembaruan dot plot menunjukkan nada yang lebih hawkish dan mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2026. Pada saat yang sama, hanya sekitar setengah anggota The Fed yang masih melihat ruang untuk pemangkasan suku bunga di masa depan.
Ketua The Fed berupaya meredam dampak interpretasi tersebut dengan menegaskan bahwa dot plot bukanlah alat prediksi yang pasti serta mengumumkan adanya perubahan pada metodologi proyeksi di masa mendatang. Pada akhirnya, perkembangan tersebut memicu lonjakan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mendorong Indeks Dolar AS (DXY) kembali menembus level 100.
Di sisi geopolitik, investor terus memantau proses penandatanganan memorandum pemerintah AS terkait hubungan di Timur Tengah yang membantu menstabilkan sentimen pasar. Meski demikian, pasar saham AS tetap ditutup melemah sebagai respons terhadap nada hawkish dari The Fed.
Kalender Makroekonomi (BST)
13:30 | Amerika Serikat – Klaim Pengangguran Awal Mingguan. Konsensus: 225 ribu. Sebelumnya: 229 ribu
15:30 | Amerika Serikat – Perubahan Persediaan Gas Alam. Konsensus: +82 miliar kaki kubik (bcf). Sebelumnya: +108 bcf
Laporan Keuangan Perusahaan
Accenture (ACN). Dirilis sebelum pembukaan pasar (pre-market).
Pasar yang Perlu Dipantau
Obligasi Pemerintah AS (T-Note)
Imbal hasil obligasi AS melonjak tajam setelah pernyataan hawkish dari FOMC.. Pada perdagangan hari ini, harga obligasi menunjukkan pemulihan terbatas. Namun volatilitas masih berpotensi kembali meningkat menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan datang.
Market Wrap: Fed Pertahankan Suku Bunga, Wall Street Rebound
The Fed Hawkish: Proyeksi Inflasi Naik Tajam
FOMC Tahan Suku Bunga, Dot Plot Hawkish
BREAKING: Stok Minyak AS Anjlok, Brent Berpotensi Rebound
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.