Ada yang aneh dengan pasar keuangan minggu ini. Mungkin karena musim liburan, banyak pelaku pasar sedang cuti dan kurang memperhatikan, tetapi di satu sisi indeks saham unggulan mencetak rekor tertinggi, sementara risiko tarif AS meningkat, tren meme stock kembali, harga emas melemah, dan Bitcoin juga turun. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pasar sedang dalam fase bubble dan mungkin akan mengalami koreksi.
Tidak ada tema tunggal yang memandu pergerakan pasar bulan ini. Indeks saham unggulan seperti S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor baru, meskipun tarif AS berada di level tertinggi dalam beberapa dekade. Tarif 15% yang disepakati dengan Jepang akan memperluas beban tarif secara keseluruhan.
Perusahaan AS Serap Biaya Tarif Untuk Sementara
Hingga kini, sebagian besar beban tarif ditanggung oleh korporasi Amerika. Contohnya, General Motors dan Nike memilih menyerap biaya tarif daripada membebankan ke konsumen. Meskipun inflasi harga barang meningkat, lonjakannya masih tergolong ringan. GM melaporkan telah membayar $1 miliar tarif atas komponen impor, tetapi belum menaikkan harga jual secara signifikan—meski tidak menutup kemungkinan penyesuaian harga di masa depan. Hasbro menyebutkan tarif dapat mengurangi laba tahunan mereka sebesar $60 juta, lebih rendah dari perkiraan. Nike diperkirakan kehilangan $1 miliar, namun harga jual baru akan naik pada akhir tahun ini.
Tarif impor rata-rata kini 17%, naik dari 2% tahun lalu. Kita masih menanti kejelasan untuk tarif sektor farmasi dan Uni Eropa, yang bisa mendorong tarif rata-rata lebih tinggi lagi. Hal ini membuat pencapaian rekor oleh saham-saham seperti Moderna dan Nike—dua dari sepuluh saham terbaik bulan ini—terasa agak janggal bagi sebagian investor.
Apakah Tren Meme Stock Telah Usai?
Tren meme stock kembali dalam beberapa minggu terakhir, dengan lonjakan pada saham GoPro dan Krispy Kreme. Namun, tren ini kehilangan momentum di akhir pekan: saham GoPro turun 7% dan Krispy Kreme melemah lebih dari 2%. Pasar kini menanti apakah fenomena ini akan benar-benar berakhir atau justru memunculkan saham-saham baru tanpa fundamental kuat.
Bitcoin Tertekan karena Harapan Pemangkasan Suku Bunga Meredup
Bitcoin turun lebih dari $2.500 pada hari Jumat, menjauhi level tertingginya. Meskipun tren naik jangka panjang mungkin masih utuh, kehilangan momentum ini dianggap sebagai koreksi sehat. Permintaan Bitcoin melemah karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mulai surut setelah dikonfirmasi bahwa Powell akan tetap menjabat hingga Mei tahun depan. Kini pasar hanya memproyeksikan 1,7 kali pemangkasan suku bunga tahun ini, turun dari lebih dari 2 kali di awal minggu. Ini juga menekan harga emas.
Tanda-Tanda Bubble Semakin Terlihat
Kondisi pasar yang digerakkan oleh saham dividen, saham pertumbuhan, dan kapitalisasi besar menunjukkan campuran faktor yang memicu kekhawatiran bubble. Pasar yang tampaknya mengabaikan risiko tarif, kebangkitan meme stock, dan berkurangnya peluang pemangkasan suku bunga memperkuat ketakutan ini.
Di Inggris, FTSE 100 unggul secara performa, namun pound sterling berada di posisi terlemah terhadap euro sejak 2023 dan telah turun 5,4% sepanjang tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang lemah, prospek dua kali pemangkasan suku bunga BoE, serta ketidakpastian politik menjadi beban tersendiri.
IMF Soroti Dana Pensiun Triple Lock dan Sistem Kesehatan
IMF menyampaikan pandangannya terhadap ekonomi Inggris pada Jumat. Mereka menyebutkan bahwa ruang fiskal sebesar £9,9 miliar tidak cukup dan memperingatkan Kanselir agar tidak terlalu sering mengubah kebijakan pajak dan belanja. IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris sebesar 1,2% untuk 2025 dan 1,4% untuk 2026, namun tetap memperingatkan risiko penurunan.
IMF juga menyarankan agar pemerintah Inggris mempertimbangkan untuk mengganti sistem pensiun “triple lock” yang mahal, memperluas basis pajak PPN, melakukan uji kelayakan pada lebih banyak tunjangan, serta menerapkan biaya tambahan (co-payments) bagi warga kaya yang menggunakan layanan NHS. Meskipun ini disarankan untuk menghadapi guncangan ekonomi tak terduga, kondisi fiskal Inggris yang rapuh membuat langkah-langkah ini bisa saja dilakukan lebih cepat. Pertanyaannya, apakah politisi Inggris cukup berani untuk mengambil keputusan berat demi memperbaiki keuangan negara?
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
Jane Street: Market Maker Legendaris di Meja Hijau
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉