Rekor Baru Visa Belum Mampu Meyakinkan Pasar
Visa mencatatkan salah satu kuartal terbaik dalam sejarah perusahaan. Pendapatan naik 14% menjadi US$11,63 miliar, sementara volume pembayaran menembus US$4 triliun untuk pertama kalinya. Namun, saham Visa justru turun sekitar 2% dalam sesi after-hours. Apa yang sebenarnya membuat investor tetap kecewa meskipun transaksi dan pendapatan mencapai rekor baru?

Satuan M = miliar. Data per 28 Juli 2026. Sumber: Visa Investor Relations, MarketBeat, dan Seeking Alpha.

Satuan M = Miliar USD. Sumber: Visa 8-K Filing, StockAnalysis.
Restrukturisasi 2.600 Karyawan dan Tekanan Margin
Bersamaan dengan laporan keuangan, Visa mengumumkan pemangkasan sekitar 2.600 posisi atau sekitar 7% dari total tenaga kerja yang mencapai 34.100 orang. CEO Visa Ryan McInerney menyampaikan melalui memo internal bahwa restrukturisasi tersebut terutama menyasar tim teknologi dan produk.
Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi agar perusahaan dapat mengalokasikan kembali investasi menuju area dengan potensi pertumbuhan tertinggi, termasuk kecerdasan buatan dan infrastruktur stablecoin. Namun, restrukturisasi tersebut juga menimbulkan biaya jangka pendek yang besar.
Biaya pesangon tercatat sebesar US$563 juta dan langsung menekan laba bersih pada kuartal berjalan.
Dampaknya terlihat pada margin operasional Visa. GAAP operating expenses naik 19% secara tahunan menjadi US$4,8 miliar. Bahkan setelah biaya pesangon dikeluarkan, pertumbuhan biaya masih mencapai 17%. Akibatnya, operating margin turun 160 basis poin dari 60,7% menjadi 59,1%.
Penurunan margin menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor tidak terlalu terkesan dengan pertumbuhan pendapatan Visa.
Di sisi lain, client incentives juga meningkat signifikan menjadi US$4,7 miliar atau naik 18% secara tahunan. Insentif tersebut merupakan pembayaran atau potongan yang diberikan Visa untuk mempertahankan dan memperoleh klien seperti bank, merchant, serta mitra pembayaran.
Kenaikannya mencerminkan kompetisi yang semakin ketat dengan Mastercard, PayPal, dan berbagai perusahaan fintech lain dalam memperebutkan bank besar dan merchant sebagai pelanggan. Salah satu sinyal lain yang mendapat perhatian investor datang dari bisnis transaksi internasional. Meskipun volume transaksi lintas negara atau cross-border tumbuh 13%, pendapatan dari transaksi internasional hanya meningkat 6%. Kesenjangan tersebut terjadi karena volatilitas mata uang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sehingga margin dari konversi valuta asing ikut menyusut.
Kondisi ini menjadi perhatian karena transaksi internasional secara historis merupakan salah satu sumber pendapatan dengan margin tertinggi bagi Visa. Namun, terdapat titik terang dari bisnis value-added services atau VAS. Segmen yang mencakup layanan keamanan, konsultasi, pemrosesan, dan produk jaringan tersebut tumbuh 34% secara tahunan menjadi US$3,8 miliar. VAS kini menyumbang hampir sepertiga dari total pendapatan Visa dan semakin penting dalam mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap pendapatan transaksi tradisional.
Valuasi Premium, Ekspektasi Pasar Tinggi
Dari sisi valuasi, saham Visa diperdagangkan di kisaran US$367 dengan trailing price-to-earnings ratio sekitar 31,6 kali dan forward P/E sebesar 25,7 kali. Valuasi tersebut memang berada di bawah rata-rata historis 10 tahun Visa yang mencapai sekitar 33,6 kali. Namun, saham Visa masih diperdagangkan dengan valuasi premium dibandingkan S&P 500 yang memiliki forward P/E sekitar 22 kali.
Kapitalisasi pasar Visa berada di kisaran US$696 miliar. Dengan trailing free cash flow sekitar US$21 miliar per tahun dan gross margin mendekati 98%, Visa memang memiliki kualitas bisnis yang mendukung valuasi premium. Perusahaan mengoperasikan jaringan pembayaran global dengan kebutuhan modal relatif rendah, arus kas kuat, dan skala bisnis yang sulit disaingi.
Namun, valuasi yang tinggi juga membuat ruang untuk mengecewakan investor menjadi sangat tipis. Ketika saham telah dihargai mendekati kondisi sempurna, pertumbuhan yang hanya sedikit melampaui ekspektasi belum tentu cukup untuk mendorong harga naik lebih lanjut.
Satuan M = miliar. Data per 29 Juli 2026. Sumber: StockAnalysis, Simply Wall St, dan Investing.com.
Outlook Visa Dinilai Terlalu Konservatif
Visa menaikkan panduan untuk tahun fiskal 2026, tetapi menyampaikannya dengan nada yang relatif berhati-hati. Pertumbuhan pendapatan diperkirakan berada di batas bawah kisaran low teens atau sekitar 12%. Sementara itu, pertumbuhan EPS diproyeksikan berada di batas bawah kisaran mid-teens atau sekitar 13%–14%.
Pasar membaca guidance tersebut sebagai sinyal bahwa akselerasi pertumbuhan Visa mungkin telah mendekati puncaknya setelah kinerja kuat pada kuartal sebelumnya. Seeking Alpha bahkan menilai Visa telah memodifikasi outlook menjadi lebih konservatif.
Panduan tersebut berlawanan dengan harapan sebagian investor yang memperkirakan manajemen akan menaikkan proyeksi secara lebih agresif setelah pendapatan dan volume pembayaran mencapai rekor baru. Perbedaan antara hasil historis yang sangat kuat dan outlook yang lebih berhati-hati menjadi salah satu penyebab saham Visa turun setelah earnings. Pasar tidak hanya menilai apa yang telah dicapai perusahaan, tetapi juga seberapa cepat pertumbuhan dapat dipertahankan pada beberapa kuartal berikutnya.
Target Harga Analis Tetap Naik
Meskipun respons pasar setelah laporan keuangan cenderung negatif, analis Wall Street justru memberikan pandangan yang lebih positif.
JPMorgan menaikkan target harga saham Visa menjadi US$450 dari sebelumnya US$400. Citi meningkatkan target harga menjadi US$440, Bank of America menjadi US$430, dan UBS menjadi US$420. Rata-rata target harga konsensus kini berada di kisaran US$410–US$412. Angka tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 12% dibandingkan harga saham Visa saat ini. Dari 38 analis yang memberikan liputan terhadap Visa, seluruhnya mempertahankan rekomendasi Buy dan tidak ada yang memberikan rekomendasi Sell. Hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan saham setelah earnings lebih banyak berkaitan dengan ekspektasi jangka pendek daripada perubahan pandangan terhadap kualitas bisnis Visa.
Mengapa Saham Visa Tetap Turun?
Secara fundamental, bisnis Visa masih berada dalam kondisi yang sangat solid. Volume pembayaran terus tumbuh dua digit, value-added services berkembang menjadi mesin pertumbuhan baru, dan free cash flow tetap sangat kuat.
Namun, laporan kali ini juga memperlihatkan beberapa tekanan yang tidak dapat diabaikan.
Biaya operasional meningkat lebih cepat daripada pendapatan, margin menyusut, insentif kepada klien bertambah, dan guidance yang diberikan manajemen belum cukup agresif untuk memenuhi ekspektasi pasar. Biaya restrukturisasi memang bersifat sementara, tetapi kenaikan biaya lain dan tekanan pada pendapatan transaksi internasional menunjukkan bahwa tidak seluruh tantangan hanya berasal dari faktor satu kali.
Ketika saham telah diperdagangkan dengan valuasi premium, investor tidak hanya mengharapkan pertumbuhan pendapatan. Pasar juga menuntut margin yang stabil, kenaikan laba yang kuat, dan outlook yang mampu memperlihatkan percepatan pada periode berikutnya.
Penurunan sekitar 2% setelah earnings lebih mencerminkan aksi ambil untung dan ekspektasi yang sudah sangat tinggi, bukan keraguan besar terhadap kualitas bisnis Visa. Visa masih memiliki jaringan pembayaran global yang dominan, margin tinggi, dan kemampuan menghasilkan kas yang kuat. Namun, laporan ini kembali menunjukkan bahwa untuk saham dengan valuasi premium, hasil yang baik saja belum tentu cukup.
Kalender Ekonomi: Data Besar dan Earnings Siap Uji Pasar
Market Wrap: Microsoft Menang, Meta Tersingkir dari Reli AI
Pendapatan Naik 28%, Kenapa Meta Tetap Anjlok?
Microsoft Buktikan CapEx AI Bisa Terbayar
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.