Serangkaian saling serang antara AS dan Iran di Teluk Persia semakin menjauhkan ekspektasi pasar dari kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz serta normalisasi pasokan minyak mentah, bensin, dan gas dari kawasan tersebut.
Situasi semakin memburuk setelah muncul kabar dari Yaman, di mana kelompok Houthi yang memiliki hubungan erat dengan Iran telah menguasai kota pelabuhan Mocha. Sejumlah pengamat dan analis memperkirakan meningkatnya kontrol kelompok tersebut terhadap garis pantai Laut Merah dapat kembali menghadirkan ancaman terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu.
Hal ini penting karena lalu lintas kargo melalui Laut Merah sempat turun tajam ketika kelompok tersebut melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal pada 2023. Namun, aktivitas pelayaran kembali meningkat setelah pecahnya perang di Iran, yang memaksa sebagian pengiriman minyak dialihkan melalui Laut Merah.
Ancaman terhadap jalur laut alternatif tersebut dapat semakin membatasi pasokan yang sejauh ini membantu menstabilkan harga. Jika gangguan terjadi secara bersamaan di Selat Hormuz dan Laut Merah, pasar energi dapat menghadapi risiko logistik yang lebih besar, sehingga membuat normalisasi harga minyak menjadi semakin sulit.
Rate Hike Jepang Bisa Jadi Masalah Baru untuk US Treasury
Market Wrap: Yield AS Naik, Minyak Bertahan di Atas US$100
Daily Summary: Wall Street Melemah, Minyak Dekati US$100
Harga Minyak Dekati US$100, Risiko Geopolitik Makin Tinggi
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.