Angka yang Terlihat Sempurna
Sekilas, musim laporan keuangan Q2 2026 terlihat seperti salah satu yang terbaik sepanjang sejarah. S&P 500 mencatat pertumbuhan laba sebesar 47,4% secara tahunan, angka tertinggi sejak Q2 2021. Profit margin indeks mencapai 15,7%, rekor tertinggi sejak FactSet mulai mencatat data tersebut pada 2009. Dalam waktu hanya satu minggu, angka earnings growth S&P 500 melonjak dari 38% menjadi 47%. Namun, di balik angka-angka tersebut terdapat cerita yang jauh lebih menarik.
Satu Baris di Laporan Keuangan Amazon
Ketika Amazon melaporkan hasil Q2 2026, Wall Street melihat EPS sebesar $5,75 dibandingkan ekspektasi $1,82. Ini merupakan earnings beat sekitar 216%. Saham Amazon langsung melonjak 9% dalam perdagangan after-hours dan untuk pertama kalinya membawa kapitalisasi pasar perusahaan menembus $3 triliun.
Namun, ada satu baris dalam laporan keuangan Amazon yang mengubah cara investor melihat angka tersebut.
Catatan dari laporan Amazon:
"Second quarter 2026 net income includes non-operating pre-tax other income of $53.4 billion, primarily from our investments in Anthropic."
Laba bersih Amazon pada Q2 2026 mencakup pendapatan lain-lain non-operasional sebelum pajak sebesar $53,4 miliar, yang terutama berasal dari investasi perusahaan di Anthropic.
Tanpa keuntungan tersebut, EPS Amazon diperkirakan hanya sekitar $1,19 hingga $1,95. Operating income sebesar $27,5 miliar tetap meningkat 43% YoY dan menunjukkan performa bisnis inti yang kuat. Namun, sekitar dua pertiga dari net income Amazon berasal dari kenaikan valuasi Anthropic yang belum direalisasikan melalui penjualan.
Coba perhatikan baris "Other income (expense), net" pada laporan tersebut. Pada Q2 2025, pos ini hanya sebesar $1,1 miliar. Pada Q2 2026, angkanya tiba-tiba melonjak menjadi $53,4 miliar.
Amazon sendiri menjelaskan dalam catatan laporannya bahwa laba bersih kuartal kedua 2026 mencakup pendapatan lain-lain non-operasional sebelum pajak sebesar $53,4 miliar, terutama dari investasi perusahaan di Anthropic. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan laba operasional Amazon sendiri sebesar $27,5 miliar, yang sebenarnya sudah sangat kuat dengan pertumbuhan 43% YoY.
Artinya, sekitar dua pertiga laba bersih Amazon bukan berasal dari penjualan produk, aktivitas AWS, atau bisnis periklanan. Sebagian besar berasal dari kenaikan valuasi Anthropic, startup AI yang sahamnya bahkan belum diperdagangkan secara publik. Tanpa keuntungan dari investasi Anthropic, EPS Amazon diperkirakan hanya berada di kisaran $1,19 hingga $1,95, tergantung metode perhitungan yang digunakan.
Alphabet Melakukan Hal yang Sama
Alphabet juga membukukan keuntungan serupa, yakni sekitar $98 miliar dari unrealized gains on equity securities, yang sebagian besar dikaitkan dengan investasi perusahaan di SpaceX. Dampaknya sangat besar. Profit margin Alphabet mencapai 93,6% pada kuartal tersebut. Kontribusi satu perusahaan ini bahkan membantu mendorong profit margin keseluruhan S&P 500 dari 14,4% menjadi rekor 15,7%.
Angka Headline vs Realita
Menurut FactSet, Amazon sendirian menyumbang sekitar 76% dari seluruh kenaikan earnings growth S&P 500 selama satu minggu pelaporan. Jika Amazon dan Alphabet dikeluarkan dari perhitungan, earnings growth S&P 500 turun dari 47,4% menjadi 28,8%. Angka 28,8% tersebut tetap sangat kuat. Hasil ini masih menandai kuartal ketujuh berturut-turut dengan pertumbuhan laba dua digit. Secara keseluruhan, bisnis perusahaan-perusahaan Amerika Serikat memang berada dalam kondisi yang kuat. Namun, terdapat perbedaan besar antara mengatakan bahwa "perusahaan Amerika mencetak rekor laba dari operasi bisnis" dan mengatakan bahwa "dua perusahaan raksasa mencatat keuntungan di atas kertas dari investasi pada startup yang belum go public." Perbedaan tersebut penting ketika investor menilai kualitas pertumbuhan laba S&P 500.
Kenapa Ini Penting Buat Investor?
Keuntungan yang belum direalisasikan atau unrealized gains dapat berbalik arah. Jika valuasi Anthropic atau SpaceX turun pada kuartal berikutnya, keuntungan besar yang saat ini meningkatkan laba dapat berubah menjadi kerugian signifikan dalam laporan keuangan.
Amazon sendiri mencatat beban pajak tambahan sebesar $15,9 miliar yang secara khusus berkaitan dengan penyesuaian investasi Anthropic. Sementara itu, free cash flow Amazon justru negatif $7,6 miliar dalam 12 bulan terakhir karena perusahaan menjalankan belanja modal AI sebesar $220 miliar tahun ini. Dengan kata lain, ketika laba di atas kertas mencetak rekor, kas yang benar-benar dihasilkan bisnis justru mengalami tekanan.
Bagi investor, pesannya sederhana: jangan berhenti pada angka headline.
Pertumbuhan laba S&P 500 sebesar 47,4% terdengar luar biasa, dan memang terdapat kekuatan fundamental nyata di balik angka tersebut. Namun, sebagian besar lonjakan yang membuat angka headline terlihat spektakuler berasal dari dua perusahaan besar yang mencatat keuntungan dari aset yang belum dijual, berdasarkan valuasi perusahaan yang sahamnya belum diperdagangkan secara publik.
Karena itu, ketika mengevaluasi earnings Amazon, Alphabet, maupun pertumbuhan laba S&P 500, investor perlu melihat lebih dalam dari sekadar EPS dan net income. Operating income, free cash flow, serta sumber keuntungan menjadi indikator penting untuk membedakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dari keuntungan akuntansi yang dapat berubah pada kuartal berikutnya.
NFP Fokus Utama Pasar, Dolar AS dan Nasdaq Siap Bergerak Tajam
Dunia Kekurangan Tembaga, Siapa Diuntungkan?
Daily Summary: Yield Naik, Saham Chip Tertekan
Moderna Punya Katalis Baru, tapi Saham Berbalik Turun
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.