Bank Sentral: BOJ Naikkan Suku Bunga, Namun Lunakkan Pesan Lewat Pembelian Obligasi
- Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,0%, level tertinggi sejak tahun 1995.
- Keputusan ini telah diperkirakan secara luas oleh pasar dan merupakan bagian dari proses normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan secara bertahap.
- BOJ juga menyoroti risiko kenaikan inflasi, mengindikasikan bahwa inflasi konsumen (CPI) berpotensi bergerak lebih tinggi dari target 2%.
- Meski demikian, yen Jepang hanya menunjukkan reaksi yang terbatas, dengan pasangan USDJPY tetap bertahan di atas level 160.
- Pada saat yang sama, Bank of Japan mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan proses pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) mulai April 2027.
- Bank sentral akan mempertahankan pembelian obligasi bulanan di kisaran ¥2 triliun.
- Langkah ini memberikan nuansa yang lebih dovish di tengah keputusan kenaikan suku bunga yang secara umum bersifat hawkish.
Saham: JP225 Pulih Setelah Keputusan BOJ
- Indeks JP225 (Nikkei 225) sempat bergerak melemah setelah pengumuman BOJ, namun kemudian berhasil memangkas seluruh kerugiannya.
- Investor menerima kenaikan suku bunga tersebut dengan tenang karena telah diantisipasi jauh sebelumnya.
- Fokus pasar kini tertuju pada kemungkinan apakah BOJ akan melanjutkan siklus pengetatan kebijakan berikutnya pada bulan Juli.
- Sentimen pasar juga mendapat dukungan dari optimisme terkait kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Bank Sentral: RBA Tahan Suku Bunga dan Beralih ke Mode Wait-and-See
- Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga tunai (cash rate) di level 4,35%, sesuai ekspektasi pasar.
- Keputusan tersebut diambil secara bulat setelah tiga kali kenaikan suku bunga yang dilakukan sepanjang tahun ini.
- RBA menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, namun bank sentral ingin terlebih dahulu mengevaluasi dampak dari kebijakan pengetatan sebelumnya serta pengaruh gangguan di pasar minyak global.
- Reaksi AUDUSD relatif terbatas sehingga keputusan ini dinilai netral bagi pasar.
- Bank sentral Australia juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak global memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya.
- Harga bahan bakar yang lebih tinggi diperkirakan akan secara bertahap memengaruhi harga barang dan jasa lainnya.
- Di sisi lain, sebagian bahasa yang lebih hawkish dalam pernyataan bulan Mei telah dilunakkan.
- Hal ini mengindikasikan bahwa RBA kemungkinan akan tetap berada dalam mode wait-and-see kecuali inflasi kembali meningkat secara signifikan.
Komoditas: Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Minyak Brent
- Goldman Sachs menurunkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi US$80 per barel dari sebelumnya US$90 per barel.
- Bank investasi tersebut juga memangkas proyeksi rata-rata harga Brent tahun 2027 menjadi US$75 per barel.
- Revisi ini mencerminkan ekspektasi bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia akan kembali normal pada akhir Juli, satu bulan lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
- Ini merupakan penurunan proyeksi kedua yang dilakukan Goldman Sachs dalam kurun waktu satu minggu.
- Langkah tersebut memperkuat pandangan bahwa premi risiko geopolitik di pasar minyak secara bertahap mulai memudar.
- Meski demikian, bahkan jika kesepakatan permanen terkait Selat Hormuz berhasil dicapai, harga minyak berpotensi tetap berada di level tinggi untuk periode yang cukup panjang.
- Persediaan minyak global diperkirakan telah berkurang sekitar 1 hingga 1,5 miliar barel, sementara biaya asuransi pengiriman laut masih berada jauh di atas level normal.
Ekonomi: Industri China Tangguh, Permintaan Domestik Masih Lemah
- Produksi industri China tumbuh 4,5% secara tahunan pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar. Namun, pada saat yang sama, penjualan ritel turun 0,6% secara tahunan, menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi.
- Data investasi aset tetap juga menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan.
- Angka-angka tersebut mengindikasikan bahwa sektor yang terkait ekspor dan industri berbasis AI masih menunjukkan ketahanan.
- Sebaliknya, permintaan domestik China masih terus melemah.
- Harga rumah baru di China juga turun sedikit lebih cepat pada bulan Mei dibandingkan bulan sebelumnya.
- Kota-kota besar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi awal, namun secara keseluruhan sektor properti masih berada dalam kondisi yang rapuh.
Logam Mulia: Barclays Tetap Bullish terhadap Emas
- Barclays menilai koreksi harga emas sebesar 20% hingga 25% baru-baru ini lebih merupakan penyesuaian posisi pasar daripada perubahan tren jangka panjang.
- Bank tersebut mempertahankan proyeksi harga emas tahun 2026 di level US$4.791 per ons serta target tahun 2027 sebesar US$4.900 per ons.
- Menurut analis Barclays, harga emas masih didukung oleh berbagai faktor, termasuk risiko inflasi, ketidakpastian politik, dan diversifikasi cadangan devisa yang terus dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia.
- Pelemahan dolar AS serta penurunan imbal hasil obligasi setelah meredanya ketegangan terkait Iran juga berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
BREAKING: Produksi Industri AS Melambat, Sinyal Baru untuk The Fed
Daily summary: 🚀 Wall Street Menguat, SpaceX dan Chip Pimpin Reli
BREAKING: Sentimen Konsumen AS Naik, Ekspektasi Inflasi Melunak
Kalender Ekonomi: SpaceX IPO Jadi Sorotan Utama Pasar Hari Ini
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.