- Harga minyak naik ke level tertinggi dalam hampir enam minggu setelah kembali terjadi serangan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kenaikan tersebut kemudian menyusut menjadi sekitar 0,10–0,30%. AS menyerang sekitar 100 target militer dan maritim Iran, termasuk dua tanker milik negara, dalam kebijakan baru yang disebut “tanker-for-tanker.” Sebagian besar serangan balasan Iran berhasil dicegat. Washington mengklaim serangan tersebut telah melemahkan kemampuan Iran dan mengurangi risiko jangka pendek terhadap jalur pelayaran, meskipun konflik masih berlangsung.
- Terlepas dari pertukaran serangan terbaru, sekitar 40 kapal dilaporkan tetap melewati Selat Hormuz. Pasukan AS mencegat rudal antikapal dan drone, sementara Trump mengatakan Washington kini memiliki kendali hampir penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut.
- Trump membantah laporan bahwa dirinya berusaha memaksa Teheran kembali ke meja perundingan dan mengatakan lebih memilih tekanan yang saat ini diberikan kepada Iran. Pernyataannya menunjukkan bahwa Washington untuk sementara masih siap mempertahankan tekanan militer.
- Gubernur Ueda mengatakan Bank of Japan berniat terus menaikkan suku bunga selama kondisi moneter masih bersifat akomodatif. Para pembuat kebijakan semakin memperhatikan risiko inflasi dari kenaikan harga energi, sementara inflasi inti sudah mendekati 2%.
- USDJPY awalnya bergerak naik karena yen tetap tertekan terhadap dolar AS yang menguat secara luas. Namun, pasangan tersebut kemudian memangkas kenaikannya. Kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang belum mampu memberikan dukungan berkelanjutan kepada yen. Pasar tampaknya lebih fokus pada meningkatnya biaya impor energi dan kekhawatiran fiskal yang lebih luas.
Wall Street Bukan Takut Resesi. Wall Street Takut Obligasi.
September Effect: Wall Street Bisa Patahkan Kutukan di 2026?
ISM Services AS Turun ke 54,6, di Bawah Ekspektasi Pasar
Kalender Ekonomi: JOLTS dan ISM Jadi Fokus Utama Wall Street
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.