12.31 · 8 Juni 2026

Market Wrap: Minyak Melonjak, Saham AI Tertekan, Fokus ke CPI AS

    • Geopolitik Berlanjut – Kebuntuan Diplomatik: Pada hari Minggu, Iran menembakkan roket ke arah Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu. Teheran menyebut tindakan tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran blokade laut oleh Amerika Serikat serta aktivitas militer yang berlangsung di Lebanon. Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sekitar 10 target militer di wilayah Iran bagian barat dan tengah, mengabaikan seruan Donald Trump agar kedua pihak menahan diri. Di saat yang sama, muncul laporan yang belum terverifikasi mengenai serangan dari Yaman ke wilayah Israel serta dugaan penembakan terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

    • Geopolitics, continued – diplomatic deadlock: Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu "tidak memiliki pilihan lain" selain menerima kesepakatan damai. Namun, seorang diplomat Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Trump "sudah tidak mungkin lagi pada tahap ini." Tidak adanya jalur yang jelas menuju deeskalasi terus mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar keuangan global.

    • Minyak – Krisis Pasokan Terbesar dalam Sejarah OPEC+: Harga minyak terus melonjak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. WTI naik sekitar 4,7% menuju US$94,4 per barel, sementara Brent mencatat kenaikan serupa hingga mendekati US$97 per barel. Pasar saat ini memperhitungkan dua faktor utama, yaitu pertukaran serangan antara Iran dan Israel dan penutupan Selat Hormuz yang mengurangi produksi aktual OPEC+ dari 42,77 juta barel per hari pada Februari menjadi hanya 33,19 juta barel per hari pada April. Penurunan tersebut merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Mulai Juli, OPEC+ akan menaikkan batas produksi sebesar 188 ribu barel per hari untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Namun, keputusan tersebut dinilai lebih bersifat administratif karena sebagian besar anggota bahkan belum mampu mencapai kuota produksi sebelumnya.

    • Federal Reserve – Dari Pemangkasan ke Potensi Kenaikan Suku Bunga: Data tenaga kerja AS yang kuat kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap Federal Reserve. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Mei menunjukkan penciptaan 172 ribu lapangan kerja baru, menandai bulan ketiga berturut-turut dengan hasil yang kuat. Kombinasi antara ketahanan pasar tenaga kerja dan lonjakan harga energi akibat konflik Iran mendorong probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun menjadi lebih dari 70–75%. Sebagai perbandingan, satu minggu sebelumnya probabilitas tersebut masih berada di sekitar 45% menurut CME FedWatch.

      Sejumlah institusi besar mulai menyesuaikan proyeksinya:

      Goldman Sachs menunda perkiraan pemangkasan suku bunga pertama hingga tahun 2027.
      Capital Economics memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini.
      Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan dalam waktu dekat apabila inflasi tetap tinggi.

    • Wall Street Jumat – Rotasi dari AI ke Saham Defensif: Peta panas perdagangan Wall Street pada Jumat menunjukkan aksi jual besar-besaran pada saham teknologi dan semikonduktor. Beberapa penurunan terbesar meliputi:

      Micron (MU): -13,25%
      Intel (INTC): -11,28%
      AMD (AMD): -10,86%
      Broadcom (AVGO): -7,92%
      Applied Materials (AMAT): -9,71%
      Meta Platforms (META): -5,51%
      Microsoft (MSFT): -2,66%
      Nvidia (NVDA): -6,20%

      Di sisi lain, investor mulai beralih ke sektor defensif. Sektor kesehatan mencatat kinerja positif, termasuk Johnson & Johnson (JNJ) yang menguat 2,02%

      Sementara saham defensif lainnya yang menguat antara lain:

      Walmart (WMT): +4,09%
      Coca-Cola (KO): +3,46%
      Procter & Gamble (PG): +4,09%

      Beberapa saham industri dan transportasi juga menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Pola ini mencerminkan rotasi klasik dari saham pertumbuhan (growth) dan momentum menuju saham value dan defensif.

    • Asia – Saham Teknologi Tertekan, KOSPI Terpukul: Pasar saham Asia memulai pekan dengan tekanan besar. Indeks KOSPI Korea Selatan sempat turun antara 8% hingga 8,4%, memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker), sebelum akhirnya ditutup turun sekitar 5%. Posisi tersebut menempatkan indeks sekitar 13% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pekan lalu. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar US$801 juta hingga tengah hari waktu setempat.

      Pergerakan indeks utama lainnya:

      Nikkei 225: -3,7%
      Tokyo Electron: -6,7%
      SoftBank: -7,5%
      TSMC: -2,1%
      TAIEX Taiwan: -3,9%

      Analis Nomura menilai bahwa aksi jual ini lebih banyak dipicu oleh likuidasi posisi yang terlalu padat (forced selling), bukan perubahan pandangan jangka panjang terhadap prospek AI.

    • Emas – Yield Mengalahkan Status Safe Haven:  Harga emas spot turun sekitar 0,2% ke kisaran US$4.311–US$4.319 per ons setelah anjlok 3% pada Jumat lalu. Penurunan tersebut membawa harga emas ke level terendah sejak 24 Maret. Sementara itu:

      Perak stabil di sekitar US$67,7.
      Platinum turun 0,5%.
      Palladium bergerak relatif datar.

      Seluruh kompleks logam mulia saat ini kalah bersaing dengan kenaikan imbal hasil riil (real yields) yang terus meningkat.

    • This week’s focus will be on

      Perhatian investor minggu ini akan tertuju pada tiga katalis utama:

      Data CPI Amerika Serikat pada Rabu.
      Data PPI Amerika Serikat pada Kamis.
      IPO SpaceX di Nasdaq pada Jumat yang diperkirakan menjadi pencatatan saham terbesar dalam sejarah pasar modal.

      Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menentukan arah pasar global dalam beberapa pekan ke depan.

     

    Sumber: xStation

6 Juni 2026, 01.04

Daily summary: Nasdaq Anjlok 3%, Saham AI dan Chip Tertekan

5 Juni 2026, 23.00

Koreksi Saham AI Meluas, Nasdaq Tertekan 1.000 Poin

5 Juni 2026, 21.45

NFP AS Melonjak, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

5 Juni 2026, 19.31

BREAKING: NFP Mei Lampaui Ekspektasi, Dolar AS Menguat

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.