Harga minyak naik pada Kamis setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Iran dengan “economic warfare” dan sanksi finansial tambahan terhadap entitas yang mendukung Tehran.
Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian perdagangan dengan Iran, menambah ketegangan pada kondisi pasokan kawasan yang sudah rapuh.
Dalam situasi ini, OIL, kontrak minyak Brent, naik sekitar 2% hari ini dan diperdagangkan di level tertinggi sejak 24 Juli, karena pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi ke dalam harga.
Gambaran keseluruhan juga semakin kompleks. Sebagian premi risiko masih dapat bertambah akibat meningkatnya risiko transportasi.
Hal penting lainnya, kontrak minyak juga akan mengalami rollover sekitar tengah malam hari ini.
- Risiko tambahan datang dari keamanan transportasi. Tanker VL PROSPERITY, dengan kapasitas sekitar 2,3 juta barel, dilaporkan terkena serangan siber besar di dekat Selat Gibraltar. Sistem komunikasinya terganggu selama sekitar 30 jam.
- Menurut salah satu awak kapal, penyerang diduga mengganggu sistem ruang mesin, pendinginan, dan bahan bakar. Jika insiden seperti ini semakin sering terjadi, biaya asuransi, pengiriman, dan keamanan di jalur pelayaran strategis dapat meningkat.
- Selat Hormuz tetap menjadi risiko utama bagi pasar minyak fisik. Sebelum konflik, hampir 20% arus minyak mentah dan produk olahan global melewati jalur tersebut. Volume saat ini masih beberapa kali lebih rendah dibandingkan sebelum perang.
- China semakin beralih ke minyak Rusia untuk menggantikan sebagian pasokan dari Timur Tengah yang terganggu. Sementara itu, impor minyak Iran masih jauh di bawah level sebelum perang. Kedatangan minyak Iran pada Agustus diperkirakan hanya sekitar 340.000 barel per hari, dibandingkan 1,14 juta barel per hari pada Maret.
- China juga meningkatkan pembelian minyak Rusia yang dikirim dari pelabuhan Eropa. Hal ini secara langsung meningkatkan persaingan dengan kilang India untuk mendapatkan pasokan yang sebelumnya banyak dialirkan ke India.
- Impor minyak Rusia oleh India diperkirakan turun menjadi sekitar 1,87 juta barel per hari pada Agustus dari 2,79 juta pada Juli. Total impor minyak mentah juga diperkirakan turun menjadi sekitar 4,17 juta barel per hari dari 5,06 juta. Dampaknya tidak berhenti pada minyak mentah. Jika kilang India memiliki lebih sedikit bahan baku, ekspor diesel dan bensin dapat menurun mulai September dan semakin memperketat pasar produk olahan Asia.
Harga minyak kembali bergerak menuju level yang terakhir terlihat pada 24 Juli.
Jika kebuntuan di Selat Hormuz berlanjut dan pembicaraan diplomatik antara Washington dan Tehran gagal, harga secara bertahap dapat bergerak menuju US$100 per barel.
Namun, skenario tersebut jauh dari pasti.
Musim gugur di AS akan dipengaruhi oleh pemilu sela Kongres, yang dapat meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan dan mendorong dimulainya kembali pembicaraan dengan Iran demi menekan harga minyak dan risiko inflasi, setidaknya untuk sementara.
Daily summary: Walmart Jatuh, Minyak Makin Mahal
US Open: Yield Naik, Pasar Mulai Menghukum Valuasi Mahal
Yield Naik Lagi, Wall Street Mulai Tertekan
Kalender Ekonomi: Risalah FOMC Buka Peluang Pengetatan Lanjutan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.