Laporan pasar tenaga kerja AS hari ini jelas mengubah lanskap menjelang pertemuan The Fed pada Oktober.
Pada September, AS hanya menambah 29 ribu non-farm payrolls, sementara konsensus memperkirakan kenaikan sekitar 90 ribu.
Namun, yang lebih penting daripada angka headline adalah revisi data sebelumnya. Data Juli dan Agustus direvisi turun dengan total sekitar 60 ribu lapangan kerja.
Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2%.
Ini bukan lagi sekadar satu laporan yang lemah, tetapi menjadi sinyal tambahan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum secara lebih jelas.
Ada satu detail lain yang penting bagi The Fed.
Pertumbuhan upah pada September berada di sekitar 3% secara tahunan, jauh lebih lambat dibanding periode ketika tekanan upah menjadi salah satu alasan utama untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.
Pada saat yang sama, jumlah orang yang bekerja meningkat, sementara tingkat pengangguran hanya naik tipis.
Artinya, ini belum menggambarkan keruntuhan pasar tenaga kerja. Namun, kondisi saat ini semakin sulit dianggap sebagai sumber tekanan yang cukup kuat bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.
Jika dikombinasikan dengan data PCE terbaru, gambarnya menjadi semakin jelas.
Inflasi tercatat lebih rendah dari ekspektasi, sementara data sebelumnya juga mengalami revisi.
Memang, sebagian perbaikan tersebut sudah diperhitungkan dalam estimasi pasar karena revisi sebelumnya telah diperkirakan. Karena itu, laporan PCE tersebut bukanlah perubahan besar dalam tren inflasi.
Namun, PCE tidak memberikan argumen baru bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, sementara data NFP hari ini justru menghilangkan satu lagi alasan untuk melakukan pengetatan.
Pasar dengan cepat menyesuaikan ekspektasi.
Probabilitas suku bunga tetap dipertahankan pada pertemuan berikutnya meningkat menjadi sekitar 80%, sementara Treasury yield AS mulai turun.
Hal ini sangat penting bagi Wall Street karena yield yang lebih rendah mengurangi tekanan terhadap valuasi perusahaan teknologi.
Kombinasi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dan PCE yang lebih moderat memberikan kondisi yang jauh lebih baik bagi investor dibanding beberapa minggu lalu.
Namun, kondisi ini tidak berarti diskusi The Fed mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga telah selesai.
Satu laporan NFP yang lemah belum cukup untuk sepenuhnya mengubah arah kebijakan moneter, terutama ketika inflasi masih berada di atas target.
Namun, laporan hari ini dapat memberikan dampak lain yang tidak kalah penting: membatasi ruang bagi suara paling hawkish di FOMC.
Jika data berikutnya tidak menunjukkan percepatan inflasi kembali, argumen untuk kenaikan suku bunga dalam waktu dekat akan semakin sulit dipertahankan.
Namun, ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan pasar.
Harga energi masih berada pada level tinggi, sementara masalah pasokan produk minyak mulai menjadi perhatian yang semakin besar.
Washington menekan Eropa untuk melepas sebagian cadangan diesel, sementara pemerintah Trump mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel AS jika negara-negara Eropa tidak meningkatkan pasokan di pasar mereka sendiri.
Situasi tersebut menunjukkan besarnya tekanan di pasar bahan bakar sekaligus menjadi pengingat bahwa guncangan energi dapat kembali mendorong inflasi naik.
Faktor inilah yang kemungkinan akan menjadi jauh lebih penting bagi The Fed dalam beberapa minggu mendatang.
Jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut dan inflasi terus turun, tekanan untuk menaikkan suku bunga akan cepat berkurang.
Namun, jika harga minyak dan produk olahan tetap tinggi, bank sentral harus mempertimbangkan risiko bahwa penurunan inflasi saat ini hanya bersifat sementara.
Meski demikian, kondisi hari ini jelas berbeda dibanding sebelum laporan NFP dirilis.
PCE tidak memberikan alasan baru untuk menaikkan suku bunga, sementara pasar tenaga kerja justru memberikan alasan untuk tidak melakukannya.
Akibatnya, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober kini jauh lebih kuat dibanding beberapa hari lalu.
Hal ini menjadi kabar positif bagi Wall Street.
Bagi The Fed, kondisi tersebut terutama menunjukkan bahwa ekonomi mulai merasakan dampak dari pengetatan kebijakan sebelumnya.
Pada akhirnya, data NFP saja tidak akan menentukan keputusan bank sentral.
Yang jauh lebih penting adalah apakah pelemahan pasar tenaga kerja hari ini menjadi awal dari perlambatan yang berkelanjutan, atau hanya satu anomali lain dalam data ekonomi AS yang masih sangat volatil.

Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober meningkat setelah rilis laporan NFP. Sumber: CME FedWatch Tool
Satu hal yang jelas untuk saat ini: setelah data PCE dan NFP terbaru, ambang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi jauh lebih tinggi.
Pasar tenaga kerja tidak lagi perlu membuktikan bahwa kondisinya cukup kuat untuk membenarkan suku bunga tinggi.
Sebaliknya, inflasi harus kembali meningkat secara jelas agar argumen untuk pengetatan lanjutan kembali mendapatkan dasar yang kuat.
Daily Summary: Wall Street Menguat, NFP Lemah Ubah Ekspektasi The Fed
The Fed Bisa Tahan Suku Bunga Hingga Desember?
US Open: Wall Street Menguat, NFP Lemah Dorong Saham Teknologi
NFP AS Anjlok, Dolar Melemah dan The Fed Kembali Disorot
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.