Novo Nordisk dari Saham Terpanas ke Diskon 65%, Lalu Datanglah Medicare
Dua tahun lalu, Novo Nordisk adalah saham yang terlihat hampir tidak bisa salah. Perusahaan farmasi asal Denmark ini menjadi simbol revolusi obat obesitas, didorong oleh permintaan luar biasa terhadap Ozempic dan Wegovy. Sahamnya meroket hingga $137,40 pada Juni 2024, menjadikan Novo Nordisk sebagai perusahaan paling bernilai di Eropa.
Kemudian semuanya berubah. Dalam 24 bulan berikutnya, saham NVO kehilangan sekitar 65% nilainya hingga menyentuh $35,12 pada Maret 2026. Lebih dari $400 miliar kapitalisasi pasar terhapus. Namun, cerita Novo Nordisk tidak berhenti di titik tersebut.
Apa yang Salah
Tiga faktor utama mendorong penurunan saham Novo Nordisk.
- Pertama, Eli Lilly bergerak agresif dengan Zepbound dan Mounjaro, lalu mulai mengambil pangsa pasar obesitas. Dalam 12 bulan terakhir, saham Lilly naik sekitar 18%, sementara NVO turun hampir 40%.
- Kedua, kebijakan Most Favored Nations (MFN) pemerintah AS memaksa penurunan harga obat. Penjualan adjusted Novo Nordisk di AS turun 11% pada Q1 2026, meskipun volume penjualan masih terus tumbuh.
- Ketiga, hasil uji klinis CagriSema yang mengecewakan dan dua kali pemangkasan guidance berturut-turut ikut menekan kepercayaan pasar.
Sumber: Yahoo Finance, data harga bulanan Jan 2024-Jun 2026.
Tiga Katalis yang Mengubah Narasi
Sejak Maret 2026, saham NVO telah pulih dari $35 ke $48, atau naik sekitar 37%. Saat ini, ada tiga katalis besar yang mulai bergerak bersamaan.
- Medicare GLP-1 Bridge. Mulai 1 Juli 2026, CMS meluncurkan program yang memungkinkan penerima manfaat Medicare mengakses Wegovy dengan copay tetap $50 per bulan, jauh di bawah harga normal $299–$399. Dari 56 juta peserta Medicare Part D, sekitar 22 juta berpotensi memenuhi syarat. Program ini berjalan hingga Desember 2027, memberikan runway sekitar 18 bulan bagi Novo Nordisk untuk menjangkau pasar yang sebelumnya sulit tersentuh.
- Tablet Wegovy. Diluncurkan pada Januari 2026, tablet Wegovy mencatat lebih dari 2 juta resep kumulatif pada kuartal pertamanya, hampir dua kali lipat estimasi analis. CEO Mike Doustdar menyatakan bahwa Wegovy kini menguasai 65% dari seluruh resep baru di kategori obat obesitas AS. Momentum ini tetap bertahan meskipun Eli Lilly meluncurkan pesaingnya, Foundayo, pada April.
- Valuasi historis rendah. NVO diperdagangkan pada P/E sekitar 11,5x dengan dividend yield 3,75%. Analisis DCF dari GuruFocus menunjukkan intrinsic value sekitar $90, hampir dua kali lipat dari harga saat ini. Pada level ini, NVO terlihat lebih murah secara valuasi dibandingkan sebagian besar perusahaan farmasi besar lainnya.
Q1 2026 dan Apa Kata Angkanya
Laporan Q1 2026 menunjukkan gambaran yang kompleks. Penjualan dilaporkan naik 32% menjadi sekitar $15,2 miliar, tetapi angka ini terdorong oleh pembalikan provisi 340B senilai $4,2 miliar.
Setelah disesuaikan, penjualan turun 4% dan laba operasi turun 6% dalam basis mata uang konstan. Sisi positifnya, laba operasi adjusted sekitar $5,1 miliar masih mengalahkan estimasi konsensus $4,5 miliar. Manajemen juga menaikkan guidance 2026 menjadi penurunan 4–12%, membaik dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran penurunan 5–13%. Penjualan Obesity Care adjusted tumbuh 22%, menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan utama perusahaan masih berjalan.
Sumber: XTB Research Indonesia
Pasar GLP-1 Lebih Besar dari Satu Perusahaan
Pasar obat GLP-1 untuk obesitas diproyeksikan tumbuh dari $10,12 miliar pada 2026 menjadi $66,57 miliar pada 2035, atau mencerminkan CAGR 23,28%. Dampaknya tidak hanya terasa di industri farmasi. J.P. Morgan memproyeksikan obat ini dapat memangkas pendapatan industri makanan sebesar $30–55 miliar per tahun pada 2030, karena konsumen yang menggunakannya mengonsumsi 21% lebih sedikit kalori dan membelanjakan 31% lebih sedikit untuk kebutuhan groceries. UPS bahkan menginvestasikan $48 juta untuk fasilitas cold storage khusus GLP-1 pada Juni 2026.
Risiko yang Tetap Nyata
Tekanan harga dari kebijakan MFN dan negosiasi harga obat Medicare tetap menjadi risiko utama. Semaglutide masuk dalam proses negosiasi, dengan harga baru yang berlaku pada 2027. Hal ini dapat terus menekan margin Novo Nordisk.
Kompetisi dari Eli Lilly juga semakin ketat. Pipeline Lilly, termasuk retatrutide yang merupakan triple agonist, dinilai sebagai ancaman generasi berikutnya bagi pasar obat obesitas. Program Medicare GLP-1 Bridge juga bersifat sementara dan dijadwalkan berakhir pada Desember 2027. Jika tidak diperpanjang, volume penjualan berpotensi terdampak.
Konsensus analis pun masih terbagi. Dari 23 analis, terdapat 18 Hold, 4 Buy, dan 1 Sell, dengan rata-rata target harga $65,56. Ini menunjukkan optimisme yang mulai pulih, tetapi belum berubah menjadi antusiasme penuh.
Perspektif untuk Investor
Cerita Novo Nordisk menjadi pengingat bahwa narasi pasar dapat berubah cepat ke dua arah. Saham yang dua tahun lalu dianggap “tidak mungkin turun” akhirnya kehilangan sekitar 65% nilainya. Sebaliknya, saham yang beberapa bulan lalu dinilai berada dalam spiral penurunan kini memiliki beberapa katalis terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar obat obesitas bernilai puluhan miliar dolar ini masih berada pada tahap awal. Dengan Wegovy yang menguasai 65% resep baru dan valuasi yang berada di salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir, Novo Nordisk tetap menjadi salah satu pemain utama di pasar tersebut.
Paradoks AI dan Bahan Bakar Fosil di Balik Data Center
Alphabet Masuk Dow Jones, Saham Google Rebound
Apple Tertekan Biaya Memori dan Risiko Chip China
Produsen DRAM Digugat di AS, Saham Memori Mulai Diuji
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.