- Harga minyak melonjak hampir 6% di tengah eskalasi konflik.
- Selat Hormuz kembali ditutup hanya sehari setelah dibuka.
- Pasokan global tetap terganggu hingga jutaan barel per hari.
- Negosiasi gencatan senjata semakin tidak pasti.
- Pasar tetap dalam mode risk-off dengan volatilitas tinggi.
- Harga minyak melonjak hampir 6% di tengah eskalasi konflik.
- Selat Hormuz kembali ditutup hanya sehari setelah dibuka.
- Pasokan global tetap terganggu hingga jutaan barel per hari.
- Negosiasi gencatan senjata semakin tidak pasti.
- Pasar tetap dalam mode risk-off dengan volatilitas tinggi.
Setelah periode optimisme singkat di akhir pekan lalu, pasar minyak global kembali memasuki fase ketegangan ekstrem. Harga minyak Brent naik hampir 6% pada pembukaan hari Senin, menembus level $90 per barel. Kenaikan tajam ini sebagian besar membalikkan penurunan pada hari Jumat sebelumnya, yang terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka untuk pelayaran.
Saat ini, kondisi fundamental pasar sangat kompleks: diperkirakan sekitar 13 juta barel produksi harian dari kawasan Teluk Persia masih terputus dari pasar global, dan pemulihan hambatan transportasi dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Meskipun terlihat seolah kondisi terburuk telah berlalu, pasar minyak tetap sangat ketat, yang tercermin dari selisih harga yang signifikan antara pasar futures dan minyak fisik.
Dated Brent dan kontrak Brent bulan terdekat (front-month) di ICE. Pada grafik bawah ditampilkan selisih antara Dated Brent dan ICE, sementara garis berwarna pink menunjukkan perbedaan antara Dated Brent dan nilai wajar Brent menurut Bloomberg. Sumber: Bloomberg Finance LP
Blokade Kembali Selat Hormuz dan Insiden Militer
Faktor utama kenaikan harga kembali adalah penutupan ulang Selat Hormuz oleh Iran, yang terjadi hanya 24 jam setelah pernyataan pembukaannya. Di satu sisi, terjadi serangan Iran terhadap kapal milik perusahaan Barat, sementara di sisi lain Angkatan Laut AS menyerang dan menyita kapal Iran.
Sebagai respons, Teheran secara resmi menghentikan lalu lintas kapal. Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menyatakan bahwa dunia tidak bisa mengharapkan keamanan ekspor gratis selama penjualan minyak Iran masih diblokir. Iran menegaskan bahwa stabilitas harga energi bergantung pada penghentian tekanan ekonomi dan militer terhadap negara tersebut.
Risiko tambahan juga muncul dari potensi meluasnya konflik ke infrastruktur energi di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Prospek Diplomasi dan Gencatan Senjata
Kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dua minggu yang akan berakhir Selasa mendatang kini dinilai rendah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menuduh AS tidak serius dalam diplomasi, menyebut blokade pelabuhan dan penyitaan kapal sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Iran juga menolak proposal pemerintahan Trump untuk melanjutkan pembicaraan damai di Islamabad minggu ini.
Namun, jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa perang tidak menguntungkan siapa pun dan ketegangan perlu diselesaikan melalui diplomasi. Sejumlah analis juga menilai tekanan ekonomi yang besar pada kedua pihak pada akhirnya akan mendorong kembalinya negosiasi.
Untuk saat ini, pasar berada dalam mode risk-off, terlihat dari penurunan valuasi saham dan obligasi, serta kenaikan harga komoditas energi.
Diperkirakan pembicaraan secara teoritis bisa dimulai hari ini, namun kemungkinan besar akan terjadi besok, menjelang berakhirnya gencatan senjata resmi. Partisipasi Wakil Presiden AS JD Vance masih belum pasti karena faktor keamanan, sementara Iran juga belum mengonfirmasi pengiriman delegasi ke Islamabad.
Brent Masih Dalam Tren Turun
Harga Brent dibuka lebih tinggi, namun pasar futures tampaknya belum sepenuhnya bereaksi terhadap eskalasi situasi. Dengan penutupan kembali Selat Hormuz, harga seharusnya mampu menembus level $100 per barel.
Saat ini, resistance utama berada di sekitar $95 per barel, yang bertepatan dengan level retracement Fibonacci 38,2% serta batas atas channel tren turun. Di sisi lain, area $80–$85 diperkirakan masih dapat bertahan jika terjadi peningkatan terbatas dalam lalu lintas kapal.
Skenario paling optimistis, yaitu pembukaan penuh Selat Hormuz dan pemulihan minimal 50% ekspor dari Teluk Persia, dapat mendorong harga kembali ke kisaran $75–$80 per barel, meskipun probabilitasnya masih rendah dalam kondisi saat ini.
Oil Turun Tajam, Hormuz Dibuka Saat Gencatan
Oil Anjlok 11%, Hormuz Dibuka Kembali
Daily Summary: Saham kembali menguat didorong harapan pembicaraan AS-Iran
📈 Saham kembali menguat seiring harapan baru pembicaraan AS-Iran 🔍
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.