WTI turun ke sekitar US$91 per barel, sementara Brent ditutup di atas US$104, setelah Presiden Donald Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu November dengan alasan adanya apa yang ia sebut sebagai “diskusi produktif” dengan Teheran.
Pernyataan tersebut langsung memangkas sebagian risk premium geopolitik yang sebelumnya mendorong WTI naik sekitar 3,6% pada sesi Kamis.
Namun, fundamental pasokan belum sepenuhnya membaik. Hurricane Isaias dan tekanan terhadap jalur pelayaran masih memberikan dasar bagi harga oil untuk bertahan relatif tinggi.
Pernyataan Trump Memangkas War Premium
Komentar Trump menggeser ekspektasi pasar dari risiko serangan dalam waktu dekat menuju kemungkinan periode diplomasi yang lebih panjang.
Trump juga mengklaim arus oil melalui Selat Hormuz sedang berada pada volume rekor. Jika benar, kondisi tersebut dapat mengurangi salah satu sumber utama kekhawatiran supply sepanjang tahun ini.
Namun, The New York Times melaporkan bahwa Pentagon sebelumnya telah menyiapkan rencana serangan selama tiga hari terhadap gudang drone, misil, dan fasilitas energi Iran.
Hal tersebut menunjukkan bahwa opsi militer belum sepenuhnya keluar dari meja.
Reaksi harga yang sangat cepat juga memperlihatkan betapa sensitifnya crude oil saat ini terhadap satu headline geopolitik, bukan hanya terhadap perubahan fundamental supply dan demand.
Bagi trader komoditas, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa posisi pada oil saat ini tetap membawa headline risk yang tinggi.
Gangguan Pasokan Fisik Masih Nyata
Di sisi lain, Hurricane Isaias membuat produsen di Teluk Meksiko AS menghentikan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi crude, atau lebih dari 60% output regional.
Landfall diperkirakan terjadi Jumat malam atau Sabtu pagi di sepanjang Alabama, Mississippi, dan Florida Panhandle.
Teluk Meksiko menyumbang sekitar 15% dari total produksi crude AS, sehingga shutdown dalam skala tersebut cukup material terhadap keseimbangan supply jangka pendek.
Serangan terhadap kapal juga meningkat dalam beberapa minggu terakhir, sementara bentrokan baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menambah lapisan risiko geopolitik.
Kenaikan freight rates turut menunjukkan bahwa pasar fisik belum sepenuhnya kembali normal, meskipun Trump mengklaim arus melalui Hormuz berada di level rekor.
Kombinasi faktor tersebut membuat harga oil berpotensi sulit terkoreksi jauh dari level saat ini tanpa adanya penyelesaian konflik yang lebih permanen.
Snapshot Teknikal OIL Timeframe 1 Jam
Sumber: xStation
Pada timeframe 30 menit, OIL bergerak di sekitar US$103,3 setelah penurunan tajam pasca-pernyataan Trump.
Harga kini berkonsolidasi dalam rentang sempit antara US$102,97, yang bertepatan dengan Fibonacci 61,8%, dan US$104,25 di sisi atas.
RSI berada di sekitar 47,6, sementara MACD masih tipis di zona negatif. Kombinasi keduanya menunjukkan momentum relatif netral setelah fase sell-off sebelumnya.
Level US$102,97 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual kembali meningkat.
Sebaliknya, reclaim di atas US$104 dapat membuka ruang bagi harga untuk kembali menguji area US$105 sampai US$106
Apa yang Perlu Dipantau Trader
Dari sisi de-eskalasi, faktor kunci adalah apakah “diskusi produktif” dengan Iran dapat menghasilkan kesepakatan konkret setelah November atau hanya menjadi retorika sementara.
Dari sisi supply, durasi shutdown di Teluk Meksiko dan potensi kerusakan Hurricane Isaias terhadap infrastruktur refining akan menentukan seberapa cepat produksi dapat kembali online.
Level psikologis Brent di US$100 menjadi penanda penting untuk menilai apakah risk premium geopolitik benar-benar mulai terkikis atau hanya mengalami jeda sementara.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan oil kemungkinan tetap sangat sensitif terhadap headline geopolitik dan perkembangan supply jangka pendek.
Market Wrap: Wall Street Melemah, Gold Tembus US$4.200
Daily Summary: Wall Street Terkoreksi, Oil dan Yield Tekan Sentimen Pasar
Trump Tahan Serangan ke Iran, Harga Oil Langsung Turun
US Open: Wall Street Turun, Oil Melonjak dan Yield Tinggi Tekan Pasar
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.