- Harga minyak rebound didorong eskalasi konflik Timur Tengah.
- Serangan kapal dan ancaman Iran picu kekhawatiran suplai global.
- Negosiasi gencatan senjata semakin rapuh.
- Pasar mulai melihat risiko geopolitik sebagai faktor jangka panjang.
- Pasokan tetap ketat meski ada harapan resolusi konflik.
- Harga minyak rebound didorong eskalasi konflik Timur Tengah.
- Serangan kapal dan ancaman Iran picu kekhawatiran suplai global.
- Negosiasi gencatan senjata semakin rapuh.
- Pasar mulai melihat risiko geopolitik sebagai faktor jangka panjang.
- Pasokan tetap ketat meski ada harapan resolusi konflik.
Harga minyak kembali menguat setelah akhir pekan, dengan OIL naik 3,50% ke $90 per barel, sementara WTI menguat 4,50% ke $87 per barel. Kekhawatiran pasar kembali meningkat, dengan risiko gangguan yang lebih serius di Timur Tengah semakin tinggi. Pada awalnya, harga melonjak lebih tajam setelah serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, ancaman baru Iran terhadap jalur pelayaran, serta penyitaan kapal Iran oleh militer AS. Namun, harga kemudian terkoreksi sebagian dari puncak intraday.
Situasi di Timur Tengah kembali memburuk setelah sempat menunjukkan optimisme. Iran menarik kembali sinyal sebelumnya terkait pembukaan Selat Hormuz, dengan menyalahkan blokade angkatan laut AS yang masih berlangsung, sementara negosiasi gencatan senjata semakin rapuh. Teheran mengindikasikan kemungkinan tidak akan berpartisipasi dalam putaran pembicaraan berikutnya di Pakistan, dengan menuduh AS mengajukan tuntutan yang tidak realistis. Gencatan senjata dua minggu saat ini juga akan berakhir pada hari Rabu. Kurangnya kemajuan diplomatik yang jelas serta meningkatnya tekanan militer membuat investor semakin melihat kawasan ini sebagai sumber risiko geopolitik yang berkelanjutan, bukan sekadar sentimen jangka pendek.
Bagi pasar, isu ini tidak lagi sekadar retorika, melainkan dampak nyata terhadap aliran energi, kepercayaan pada transportasi maritim, serta stabilitas keuangan di kawasan Teluk. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh di bawah level normal, harga bahan bakar global meningkat, dan beberapa pemerintah mulai menggunakan cadangan energi atau menerapkan langkah penghematan.
Selain itu, terdapat indikasi bahwa negara-negara Teluk mulai mempersiapkan gangguan jangka panjang. Uni Emirat Arab mempertimbangkan langkah dukungan finansial serta potensi penggunaan mata uang alternatif dalam perdagangan minyak dalam skenario tekanan tinggi.
Untuk saat ini, harga minyak di kisaran $90 dan WTI di sekitar $87 menunjukkan bahwa pasar energi tetap dalam kondisi ketat, meskipun harapan terhadap resolusi konflik masih menjadi faktor penyeimbang.
Kalender Ekonomi: Data Global & Earnings Big Tech
Google Untung Besar dari IPO SpaceX
Bitcoin di level tertinggi sejak Februari, Saham kripto pulih dengan kuat🚀💡
US OPEN: US Futures Melonjak, Minyak Anjlok Usai Hormuz Dibuka
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.