Oracle mencatat kinerja yang sangat kuat pada kuartal keempat tahun fiskal 2026, dengan hasil yang jauh melampaui ekspektasi Wall Street baik dari sisi pendapatan maupun laba. Namun euforia tersebut tidak berlangsung lama. Meskipun pertumbuhan bisnis cloud dan backlog kontrak AI mencatat angka yang impresif, saham Oracle justru anjlok sekitar 10% dalam perdagangan setelah jam bursa. Investor mulai mencerna besarnya kebutuhan modal yang akan dihimpun perusahaan untuk mendukung ambisi ekspansi kecerdasan buatan (AI).
Kinerja Q4 Oracle Melampaui Ekspektasi
Bisnis inti Oracle saat ini menunjukkan performa yang sangat kuat, didorong oleh transformasi dari model perangkat lunak tradisional berbasis on-premise menuju layanan cloud dan infrastruktur digital.
Berikut perbandingan hasil kuartal IV Oracle dengan konsensus LSEG:
- Adjusted EPS: US$2,03 vs ekspektasi US$1,96 (+20% YoY)
- Pendapatan Total: US$19,18 miliar vs ekspektasi US$19,10 miliar (+21% YoY)
- Pendapatan Cloud Infrastructure (IaaS): US$5,8 miliar (+93% YoY)
- Remaining Performance Obligations (RPO): US$638 miliar vs ekspektasi US$595,67 miliar (+363% YoY)
Faktor OpenAI: Backlog kontrak Oracle yang mencapai US$638 miliar didorong oleh kontrak AI berskala besar, di mana sebagian pelanggan melakukan pembayaran di muka atau menyediakan GPU mereka sendiri. Menurut analis Bank of America, lebih dari 50% nilai RPO tersebut berasal dari OpenAI.
Biaya Besar AI yang Memicu Penurunan Saham 10%
Jika hasil keuangan Oracle begitu kuat, mengapa saham justru turun? Jawabannya terletak pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk tetap kompetitif dalam perlombaan AI global. Pembangunan data center modern membutuhkan investasi modal yang sangat besar, dan Oracle memilih mempercepat ekspansi tersebut secara agresif.
Beberapa faktor yang membuat investor berhati-hati antara lain:
-
Rencana Pendanaan Baru: Oracle mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar US$40 miliar melalui kombinasi utang dan penerbitan saham baru. Di dalamnya termasuk rencana penjualan saham senilai US$20 miliar yang baru diungkapkan kepada publik.
-
Beban Utang yang Sudah Tinggi: Langkah ini mengikuti strategi pendanaan agresif sepanjang tahun fiskal 2026, di mana Oracle telah menghimpun sekitar US$43 miliar melalui utang dan US$5 miliar melalui penerbitan ekuitas.
-
Arus Kas Bebas Negatif: Untuk tahun fiskal 2026 secara keseluruhan, Oracle melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif sebesar US$23,7 miliar. Belanja modal (capital expenditure) melonjak 162% menjadi US$55,7 miliar.
Manajemen menjelaskan bahwa sekitar US$75 miliar pembayaran di muka pelanggan serta kontribusi perangkat keras dari pelanggan akan membantu mengimbangi sebagian biaya pembangunan data center. Namun demikian, pasar tetap khawatir terhadap risiko dilusi saham dan bertambahnya beban utang. Investor mempertanyakan apakah lonjakan permintaan AI saat ini mampu sepenuhnya membenarkan skala pengeluaran yang sangat besar tersebut.
Prospek ke Depan: Proyeksi Ditingkatkan dan Data Center Gigawatt
Terlepas dari reaksi negatif pasar, manajemen Oracle tetap sangat optimistis terhadap masa depan. Perusahaan bahkan menaikkan proyeksi laba untuk tahun fiskal berikutnya. CEO Clay Magouyrk menyatakan bahwa Oracle berencana menambahkan hampir satu gigawatt kapasitas komputasi hanya dalam kuartal berjalan. Kapasitas tersebut hampir setara dengan total kapasitas yang dimiliki perusahaan sepanjang tahun fiskal 2026.
Panduan Kinerja FY2027:
- Pertumbuhan Pendapatan Q1 FY2027: 27%–29% YoY
- Adjusted EPS Q1 FY2027: US$1,72–US$1,76 (di atas estimasi analis US$1,68)
- Target EPS FY2027: US$8,05 (vs konsensus Wall Street US$8,01)
- Target Pendapatan FY2027: US$90 miliar
Oracle secara jelas mempertaruhkan masa depannya pada pertumbuhan AI. Perusahaan fokus pada pengembangan sistem AI di sektor kesehatan serta pembangunan data center ramah lingkungan yang ditenagai energi bersih. Permintaan operasional terlihat sangat kuat. Tantangan berikutnya adalah membuktikan kepada Wall Street bahwa proyeksi belanja modal bruto sebesar US$70 miliar pada FY2027 mampu menghasilkan pertumbuhan margin dan profitabilitas yang sesuai dengan ekspektasi investor.
Analisis Teknikal ORCL.US (D1)
Saham Oracle saat ini menghadapi tekanan bearish yang sangat kuat. Setelah mencapai puncak di sekitar US$249,37, saham ditutup pada US$200,73 dan menguji area EMA 30 hari. Namun indikasi penurunan pada perdagangan pra-pasar menuju area US$180 membuat support jangka pendek tersebut kehilangan validitas. Penurunan ini juga membawa harga menembus EMA 100 hari yang berada di sekitar US$185,97. Area penting berikutnya adalah level retracement Fibonacci 61,8% di US$178,99. Jika level psikologis US$180 gagal dipertahankan, support struktural utama berikutnya berada di sekitar US$168,28. Indikator RSI berada di level 49,2 yang masih tergolong netral, namun momentum penurunannya terus meningkat.
Sumber: xStation5
Coca-Cola Siap Manfaatkan Efek Piala Dunia 2026
US Open: Inflasi AS 4,2%, Nasdaq Berusaha Stabil
Oracle Jadi Ujian Baru Reli AI di Nasdaq
Rotasi Dana ke Healthcare dan Finansial Menguat
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.