19.58 · 26 Agustus 2026

PCE AS Tetap Tinggi, Belanja Riil Konsumen Stagnan di Juli

Konsumen AS mulai mengerem pengeluaran pada Juli karena kenaikan biaya jasa mengimbangi penurunan belanja barang, sehingga konsumsi riil sepenuhnya stagnan. Dengan core PCE sesuai estimasi di 3,3% dan price deflator Q2 direvisi lebih tinggi, data hari ini memberi Federal Reserve sedikit alasan untuk terburu-buru melakukan perubahan pada suku bunga.

Poin-Poin Utama

  • Indeks harga Core PCE naik 0,2% MoM dan 3,3% YoY pada Juli, sesuai dengan estimasi konsensus.
  • Headline PCE Juli naik 0,2% MoM dan 3,7% YoY. Angka tahunan sedikit lebih tinggi dari ekspektasi, tetapi sejalan dengan angka Juni.
  • Belanja Riil Stagnan: Belanja konsumen nominal Juli naik 0,2% MoM, tetapi belanja riil setelah disesuaikan dengan inflasi stagnan di 0,0% MoM.
  • Berdasarkan data BEA, kenaikan belanja jasa sebesar US$86,2 miliar diimbangi oleh penurunan belanja barang sebesar US$49,9 miliar.
  • Pendapatan Pribadi Lampaui Ekspektasi: Pendapatan pribadi naik 0,4% MoM pada Juli, dibanding ekspektasi 0,2%, sementara disposable personal income (DPI) meningkat 0,5% MoM. Tingkat tabungan pribadi berada di 3,0%.
  • Pertumbuhan GDP Q2 Tidak Direvisi di 1,5%: Real GDP Q2 tetap tumbuh pada tingkat tahunan 1,5%, turun dari 2,1% pada Q1.
  • Revisi Naik untuk Konsumsi Pribadi: Belanja konsumen Q2 direvisi naik menjadi 3,4% dari estimasi awal 3,2%, mendorong real final sales to private domestic purchasers naik menjadi 4,2%. Sementara itu, GDP Deflator Q2 direvisi naik menjadi 6,4% dari estimasi awal 6,2%, yang menunjukkan tekanan inflasi lebih lanjut.
  • Core PCE Q2 naik menjadi 3,6% dari estimasi awal 3,4%, sementara headline PCE price index Q2 naik menjadi 5,3% dari estimasi awal 5,1%.
  • Ukuran Inflasi Supercore Tetap Kuat: PCE Q2 yang mengecualikan makanan, energi, dan perumahan direvisi naik menjadi 3,4% dari estimasi awal 3,2%, sementara PCE jasa Q2 yang mengecualikan energi dan perumahan meningkat menjadi 3,7% dari estimasi awal 3,4%.

Revisi terbesar terhadap kontribusi pertumbuhan berasal dari belanja konsumen yang direvisi lebih tinggi. Sumber: BEA

Pada Juli, pertumbuhan belanja konsumen sepenuhnya didorong oleh kenaikan sektor jasa, terutama jasa keuangan dan layanan kesehatan, yang berhasil mengimbangi kontraksi luas di berbagai kategori barang fisik. Sumber: BEA

Komentar Data

Gabungan data tersebut menunjukkan adanya tekanan harga yang masih persisten, sementara momentum konsumsi pada awal Q3 cenderung stagnan meski masih berada pada level relatif tinggi. Walaupun real GDP Q2 secara tahunan tidak direvisi dari 1,5%, revisi naik pada konsumsi pribadi menjadi 3,4% dan penjualan domestik swasta menjadi 4,2% menunjukkan bahwa permintaan internal lebih kuat dibandingkan estimasi awal.

Namun, revisi naik yang cukup besar pada seluruh price deflator Q2, terutama GDP Deflator yang mencapai 6,4% dan Core PCE yang naik menjadi 3,6%, menunjukkan bahwa proses disinflasi secara kuartalan mengalami stagnasi lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Memasuki Juli, meskipun pertumbuhan upah mendukung kenaikan pendapatan pribadi sebesar 0,4%, belanja riil stagnan di 0,0% MoM. Konsumen meningkatkan pengeluaran nominal terutama untuk menyerap kenaikan harga jasa, sambil mengurangi pembelian barang fisik.

Reaksi Pasar

  • Futures suku bunga jangka pendek AS memangkas kenaikan sebelumnya setelah data dirilis. Revisi naik pada price deflator Q2 memperkuat pandangan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
  • Indeks Dolar AS mempertahankan penguatannya dan sedikit menguat terhadap euro.
  • Futures S&P 500 (US500) bergerak sedikit lebih rendah. Kombinasi price deflator yang tetap tinggi dan belanja konsumen riil yang stagnan memberi tekanan moderat terhadap ekspektasi laba perusahaan dan risk appetite.

 
25 Agustus 2026, 21.10

Iran Tak Lagi Bikin Minyak Panik

25 Agustus 2026, 00.24

Perang Dagang AS-Kanada Memanas, USMCA Mulai Terancam

24 Agustus 2026, 14.17

Kalender Ekonomi: Nvidia, PCE AS, dan Jackson Hole Jadi Fokus

24 Agustus 2026, 13.20

Market Wrap Minyak Turun, Nvidia dan Jackson Hole Jadi Fokus

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.