Tarik Menarik Tarif AS Jadi Sorotan Pasar
Pekan ini akan relatif sepi dari sisi data ekonomi, namun fokus pasar akan tertuju pada Rabu, yang menjadi akhir dari masa 90 hari tenggat tarif balasan AS. Meski begitu, indeks saham AS mencetak rekor tertinggi minggu lalu, dan indeks Eropa seperti FTSE 100 tetap mencetak kenaikan mingguan tipis, menunjukkan bahwa pasar masih tenang menghadapi risiko tarif.
Namun, dengan mendekatnya batas waktu, risiko koreksi pasar makin besar. Apalagi Presiden AS mengumumkan lewat Truth Social bahwa surat tarif dan kesepakatan akan diumumkan mulai Senin siang waktu AS (12.00 EST), berpotensi memicu reaksi besar di pasar keuangan.
Dampak Tarif: Mikro, Bukan Makro?
Tarif mungkin berdampak besar pada negara atau sektor tertentu (seperti logam dan otomotif), tetapi dari sisi makro, pasar tetap optimis setelah laporan NFP AS yang kuat pekan lalu. Indeks VIX masih rendah, dan pasar telah terbiasa dengan gaya negosiasi Trump. Investor juga tidak lagi menganggap serius semua ancaman tarif yang ia lontarkan, sehingga volatilitas tetap terkendali.
Sorotan Obligasi Global: Dari Inggris ke AS dan Jepang
Pasar obligasi global juga menjadi fokus pekan ini. Di Inggris, yields naik tajam minggu lalu akibat kekacauan fiskal. Sementara di AS, Trump menandatangani RUU anggaran “Big Beautiful Bill”, yang memperpanjang pemotongan pajak 2017, menaikkan anggaran pertahanan, memangkas anggaran kesehatan Medicaid, dan menambah pengeluaran untuk imigrasi. Total defisit bisa bertambah lebih dari $3 triliun dalam satu dekade.
Menariknya, pasar obligasi AS belum bereaksi keras terhadap beban utang ini. Mengapa? Karena ekonomi AS dianggap kuat, dan pasar obligasi lebih menerima pemotongan pajak dibanding peningkatan belanja negara.
OPEC+ Tambah Produksi, Harga Minyak & Saham Energi Melemah
Harga minyak turun tipis pada Senin setelah OPEC+ mengumumkan tambahan produksi 500.000 barel per hari, dan kemungkinan penambahan lagi di bulan September. Saat ini, Brent crude berada di kisaran $68/barel, masih turun 8% YTD.
Tambahan pasokan ini berdampak negatif pada saham energi. Shell menjadi top loser di FTSE 100 dan sektor energi Eropa turun lebih dari 2%, dipimpin oleh TotalEnergies dan ENI.
1. Pratinjau GDP Inggris
Data GDP bulanan Mei akan dirilis akhir pekan ini. Setelah kontraksi -0,3% di April, pasar mengantisipasi rebound sebesar +0,1%, dengan pertumbuhan 3 bulan ke 0,4% dari 0,7%.
Sektor jasa dan konstruksi diperkirakan mendorong pertumbuhan, sementara manufaktur dan industri menjadi beban. Rebound positif bisa menjadi angin segar bagi pemerintah Inggris yang sedang mencoba meredakan kegelisahan pasar obligasi pasca kekacauan anggaran kesejahteraan. Saat ini, yield Gilt 10 tahun masih lebih tinggi 10 bps dibanding tahun lalu.
2. Awal Musim Laporan Keuangan Q2
Musim earnings Q2 akan dimulai minggu depan, tetapi Delta Airlines akan melaporkan kinerjanya pada Kamis. Ini menjadi indikator awal permintaan konsumen di tengah situasi global.
Namun, menurut FactSet, estimasi EPS S&P 500 sudah turun 4,2% secara agregat — penurunan yang lebih dalam dari rata-rata historis. Sektor energi mengalami penurunan tertajam, sementara komunikasi adalah satu-satunya sektor dengan kenaikan estimasi EPS.
Bar ekspektasi sudah diturunkan — kini pertanyaannya: apakah perusahaan bisa mengalahkan ekspektasi pasar?
Fokus Saham: Shell & Tesla
Saham Tesla anjlok lebih dari 7% di pra-pasar Senin setelah Elon Musk mengumumkan pembentukan partai politik baru untuk menantang Demokrat dan Republik. Hal ini memicu serangan balik dari Trump dan menambah tekanan pada Tesla, yang sebelumnya sudah terpukul oleh penurunan penjualan EV dan persaingan makin ketat.
Shell juga dalam sorotan setelah mengumumkan bahwa divisi perdagangan minyak dan gas-nya melemah, dan hasil Q2 kemungkinan akan tertekan. Divisi kilang merugi, sementara LNG stagnan. Harga saham Shell turun 2,8%.
Morning Wrap (02.03.2026)
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉