15.48 · 6 Agustus 2026

Risiko Hormuz Dorong Minyak ke US$81

Harga minyak bergerak naik pada sesi Kamis ketika investor kembali berfokus pada risiko geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak mentah global.

Perhatian pasar tertuju pada negosiasi antara Iran dan Oman mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz, bersamaan dengan laporan serangan baru Houthi terhadap tanker minyak Arab Saudi.

Dukungan tambahan bagi harga datang dari serangan drone Ukraina yang menargetkan infrastruktur penyulingan Rusia dan meningkatkan ketidakpastian pasokan.

Di tengah situasi geopolitik tersebut, Arab Saudi sedikit menurunkan harga jual resmi minyak unggulannya, Arab Light, untuk pengiriman September ke Asia.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa persaingan memperebutkan permintaan Asia masih berlangsung.

Namun, dampaknya sebagian besar tertutupi oleh perkembangan geopolitik yang tetap menjadi penggerak utama harga minyak.

Fakta Utama

  • Minyak Brent naik mendekati US$81 per barel, sementara WTI diperdagangkan di sekitar US$76 per barel.
  • Negosiasi Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama pasar, meskipun hasil akhirnya masih belum pasti.
  • Ukraina melancarkan serangan drone terhadap dua kilang Rusia dan kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak mentah Rusia, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan.

Pembicaraan Iran-Oman Tetap Menjadi Fokus Utama Pasar

Penggerak terbesar harga minyak saat ini adalah negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, kedua pihak telah mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran yang diusulkan.

Pernyataan bersama diperkirakan akan diterbitkan setelah konsultasi dengan peserta lain selesai.

Menurut sumber Reuters, kesepakatan tersebut dapat memberikan Iran kendali lebih besar terhadap kapal yang memasuki Teluk Persia.

Bagi pasar minyak, perkembangan ini dapat membuka jalan bagi pemulihan sebagian lalu lintas melalui salah satu jalur energi terpenting di dunia.

Namun, investor tetap berhati-hati setelah berbagai upaya sebelumnya untuk mencapai kesepakatan jangka panjang gagal.

Selat Hormuz Tetap Krusial bagi Pasokan Minyak Global

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar 20% pengiriman harian minyak dan gas alam cair global melewati Selat Hormuz.

Karena itu, setiap perkembangan mengenai keamanan jalur tersebut atau potensi pemulihan aktivitas pelayaran normal memberikan dampak langsung terhadap harga energi.

Pada saat yang sama, data pelayaran menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah dan kondensat dari negara-negara Teluk masih sekitar 40% di bawah level sebelum konflik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan fisik belum sepenuhnya pulih.

Serangan Houthi Meningkatkan Premi Risiko Geopolitik

Laporan baru mengenai serangan Houthi terhadap tanker minyak Arab Saudi yang beroperasi di Laut Merah dan Teluk Aden menambah ketidakpastian pasar.

Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai insiden tersebut.

Namun, laporan itu sendiri telah berkontribusi terhadap kenaikan premi risiko geopolitik pada harga minyak.

Analis mencatat bahwa serangan Houthi sebelumnya belum menyebabkan gangguan signifikan terhadap pasokan minyak atau gas alam global.

Meski demikian, investor tetap khawatir bahwa eskalasi yang lebih luas pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan nyata terhadap ekspor energi di kawasan.

Iran Memperingatkan Potensi Serangan terhadap Infrastruktur Energi

Menurut Reuters, Iran telah memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat terhadap wilayah Iran akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan.

Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai keamanan pasokan minyak Timur Tengah.

Ancaman itu juga terus mempertahankan premi geopolitik yang telah tercermin dalam harga minyak mentah.

Ukraina Menargetkan Kilang Rusia

Perkembangan di Rusia turut memengaruhi sentimen pasar.

Ukraina mengumumkan serangan drone terhadap kilang Bashneft-Novoil dan Slavneft-Yanos, serta kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak mentah Rusia di Laut Hitam.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa kilang di Yaroslavl terkena serangan dalam salah satu gelombang drone terbesar sejak perang dimulai.

Serangan tersebut memicu kebakaran di fasilitas itu.

Meskipun dampak langsung terhadap pasokan minyak global terlihat terbatas, pasar masih memandang serangan berulang terhadap infrastruktur energi Rusia sebagai faktor yang meningkatkan risiko pasokan.

6 Agustus 2026, 07.09

Market Wrap: Aksi Jual Chip Tekan Asia, Emas Melaju

5 Agustus 2026, 18.44

Daily Summary: Dow Cetak Rekor, Nasdaq Justru Tertahan

5 Agustus 2026, 16.57

Hormuz Makin Dekat Dibuka, Minyak Bertahan di Bawah US$80

5 Agustus 2026, 15.02

Aktivitas Jasa Kuat, Tenaga Kerja Justru Turun

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.