09.30 · 6 Agustus 2026

Robotaxi Uber Bisa Jadi Ancaman bagi Tesla?

Dua Strategi Robotaxi, Mana yang Lebih Masuk Akal?

Tesla sering menjadi nama pertama yang muncul ketika membicarakan kendaraan otonom. Namun, di balik sorotan terhadap Cybercab dan layanan robotaxi di Austin, Uber sedang membangun strategi dengan cakupan yang jauh lebih luas. Pada 5 Agustus, bersamaan dengan laporan keuangan Q2 2026, Uber mengumumkan komitmen investasi lebih dari US$10 miliar untuk membangun jaringan robotaxi global.

Pertanyaannya, apakah strategi Uber sebagai platform tanpa memproduksi kendaraan sendiri justru lebih realistis dibandingkan pendekatan vertikal Tesla?

US$10 Miliar untuk Menjadi “Bandara” Robotaxi

  • Uber tidak lagi mengembangkan teknologi self-driving secara internal setelah menjual Advanced Technologies Group atau ATG kepada Aurora pada 2020.
  • Strategi Uber saat ini adalah menjadi platform yang menghubungkan penumpang dengan armada kendaraan otonom milik berbagai mitra.
  • Dengan kata lain, Uber ingin menjadi “bandara”, bukan “maskapai”.
  • Komitmen investasi senilai lebih dari US$10 miliar tersebut terdiri atas sekitar US$2,5 miliar investasi ekuitas di perusahaan seperti Lucid, Rivian, Nuro, dan Wayve.
  • Sekitar US$7,5 miliar sisanya akan dialokasikan untuk pembelian armada kendaraan otonom.
  • Jumlah mitra kendaraan otonom Uber kini telah melampaui 30 perusahaan di seluruh dunia.
  • Kemitraan tersebut mencakup robotaxi, robot pengiriman, hingga truk otonom.
  • Hingga akhir Q2 2026, layanan robotaxi Uber telah aktif di tujuh kota.
  • Perusahaan menargetkan ekspansi menjadi 15 kota pada akhir 2026 dan 28 kota pada 2028.
  • CEO Dara Khosrowshahi menegaskan bahwa Uber tidak ingin bergantung pada satu mitra. Perusahaan ingin membangun ekosistem multi-mitra agar risiko teknologi, regulasi, dan operasional dapat tersebar lebih luas. Strategi tersebut juga tercermin dalam kesepakatan baru dengan Stellantis dan Wayve untuk mengembangkan robotaxi Level 4 secara global.

Tesla: Kontrol Penuh, tetapi Arus Kas Tertekan

  • Tesla mengambil pendekatan yang berlawanan.
  • Perusahaan mengembangkan hampir seluruh ekosistem robotaxi secara internal, mulai dari kendaraan Cybercab tanpa setir dan pedal, software Full Self-Driving atau FSD, chip AI Hardware 5, hingga platform pemesanan melalui aplikasi Tesla.
  • Produksi Cybercab resmi dimulai pada April 2026 di Giga Texas.
  • Tesla juga telah menguji 34 unit tanpa kontrol pengemudi di jalanan Austin.
  • Layanan robotaxi Tesla tanpa safety driver di dalam kendaraan kini mencakup wilayah metropolitan Austin, Dallas, dan Houston, dengan sekitar 20 unit aktif.
  • Dari sisi operasional, Tesla mencatatkan rekor pengiriman sebanyak 480.126 kendaraan pada Q2 2026.
  • Jumlah pelanggan berbayar FSD juga mencapai 1,48 juta, naik 56% secara tahunan.
  • Namun, pendekatan vertikal tersebut memberikan tekanan besar terhadap keuangan perusahaan.
  • Belanja modal Tesla melonjak 142% menjadi US$5,79 miliar pada kuartal tersebut.
  • Free cash flow tercatat negatif US$1,09 miliar.
  • Operating margin juga menyusut dari 4,1% menjadi 1,4%.
  • Sementara itu, non-GAAP EPS hanya mencapai US$0,33, jauh di bawah konsensus US$0,55.
  • Tesla masih memiliki kas sebesar US$43,5 miliar di neraca.
  • Namun, laju pembakaran kas tersebut sulit dipertahankan tanpa kontribusi pendapatan baru yang signifikan dari robotaxi dan FSD.

Pertaruhan Berbeda, Risiko Berbeda

  • Dari perspektif investor, kedua pendekatan tersebut membawa profil risiko yang sangat berbeda.
  • Uber memilih model asset-light. Perusahaan tidak perlu menanggung seluruh risiko penelitian dan pengembangan teknologi otonom karena tanggung jawab tersebut berada pada para mitranya.
  • Uber dapat lebih berfokus pada distribusi, basis pengguna, pencocokan permintaan, pembayaran, dan pengelolaan jaringan.
  • Hasilnya terlihat dari free cash flow trailing 12 bulan yang untuk pertama kalinya melampaui US$10 miliar.
  • Kondisi tersebut memberikan ruang finansial bagi Uber untuk membiayai ekspansi robotaxi sekaligus mengakuisisi Delivery Hero senilai US$14,8 miliar.
  • Namun, model ini juga memiliki kelemahan.
  • Uber tidak memiliki kendali penuh terhadap kecepatan pengembangan teknologi mitranya.
  • Hubungan kemitraan juga tidak selalu stabil, seperti terlihat ketika Waymo mengakhiri kerja sama di Phoenix pada awal tahun.
  • Tesla, sebaliknya, memiliki kendali atas hampir seluruh rantai nilai robotaxi. Perusahaan mengembangkan kendaraan, software, chip, data, dan platform distribusinya sendiri. Namun, Tesla juga harus menanggung seluruh biaya investasi dan risiko eksekusi.
  • CapEx sebesar US$5,79 miliar dalam satu kuartal untuk AI, Cybercab, dan Optimus menunjukkan besarnya taruhan yang sedang dilakukan. Free cash flow negatif menjadi konsekuensi langsung dari strategi tersebut. Keunggulan terbesar Tesla terletak pada skala data.
  • Hampir 12 miliar mil data kumulatif FSD memberikan fondasi pelatihan AI yang sulit ditandingi oleh kompetitor.
  • Namun, dengan operating margin yang terus menyusut dan valuasi sekitar 272 kali P/E, pasar sudah memperhitungkan skenario bahwa robotaxi dan FSD akan berkembang menjadi mesin pendapatan utama dalam beberapa tahun mendatang. Apabila jadwal komersialisasi terus tertunda, tekanan terhadap harga saham dapat meningkat.

Uber bertaruh bahwa robotaxi pada akhirnya akan menjadi komoditas dan pemenang utama adalah pemilik jaringan distribusi, bukan produsen kendaraan. Tesla mengambil posisi sebaliknya. Perusahaan memperkirakan integrasi vertikal akan memberikan kendali teknologi dan margin tertinggi. Kedua strategi dapat sama-sama berhasil. Namun, konsekuensi keuangan, kebutuhan modal, dan tingkat risiko yang ditanggung investor sangat berbeda.

6 Agustus 2026, 07.46

Beat Earnings Tak Menjamin Saham Naik

6 Agustus 2026, 07.09

Market Wrap: Aksi Jual Chip Tekan Asia, Emas Melaju

5 Agustus 2026, 18.44

Daily Summary: Dow Cetak Rekor, Nasdaq Justru Tertahan

5 Agustus 2026, 15.18

US Open: Wall Street Naik, tapi Saham AI Terbelah

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.