09.05 · 29 Juli 2026

Sama-Sama Beat, Kenapa Pasar Hanya Percaya Coca-Cola?

Mengapa KO Naik, tapi UPS Tak Meyakinkan?

Di tengah kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi dan dampak tarif, dua perusahaan besar yang berhubungan langsung dengan aktivitas konsumen justru melampaui ekspektasi Wall Street dan menaikkan outlook setahun penuh.

Namun, pasar merespons laporan Coca-Cola dan UPS dengan cara yang sangat berbeda.

Coca-Cola (KO.US) dan UPS (UPS.US) sama-sama melaporkan pendapatan kuartal II 2026 di atas konsensus pada 28 Juli. Keduanya juga menaikkan proyeksi kinerja untuk setahun penuh.

Sinyal dari kedua perusahaan cukup penting karena masing-masing mewakili sisi berbeda dari aktivitas konsumen.

Coca-Cola mencerminkan apa yang masih dibeli konsumen, sedangkan UPS menggambarkan bagaimana barang bergerak dan sampai ke pelanggan.

Fakta bahwa keduanya masih mampu mencatatkan pertumbuhan, menaikkan harga, dan mempertahankan sebagian margin operasional menunjukkan bahwa konsumen AS belum memasuki kondisi krisis seperti yang dikhawatirkan pasar.

Namun, perbedaan reaksi saham memperlihatkan bahwa investor saat ini tidak hanya menilai apakah perusahaan mampu melampaui ekspektasi.

Pasar juga mempertimbangkan kualitas pertumbuhan, keberlanjutan margin, serta seberapa besar biaya yang diperlukan untuk mempertahankan kinerja tersebut.

Coca-Cola: Volume Naik, Harga Ikut Naik

Coca-Cola membukukan pendapatan bersih sebesar $13,4 miliar, naik 7% secara tahunan dan melampaui konsensus analis sebesar $13,1 miliar.

Comparable EPS tercatat sebesar $0,97, lebih tinggi dibandingkan estimasi $0,93.

Laba bersih yang dilaporkan juga meningkat 16% menjadi $4,43 miliar.

Hal yang paling menarik dari laporan Coca-Cola bukan hanya kemampuan perusahaan menaikkan harga.

Volume penjualan global juga tumbuh 5%, dipimpin oleh India, China, Amerika Serikat, dan Brasil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya menerima harga jual yang lebih tinggi, tetapi juga membeli lebih banyak produk.

Coca-Cola Zero Sugar menjadi salah satu pendorong utama dengan kenaikan volume sebesar 16%.

Pertumbuhan tersebut memperkuat tren jangka panjang menuju minuman dengan kadar gula lebih rendah atau tanpa gula.

Data untuk kuartal yang berakhir 3 Juli 2026. Sumber: Coca-Cola Investor Relations dan estimasi LSEG.

Sumber: Coca-Cola Q2 2026 Earnings Release

Kampanye FIFA World Cup 2026 yang dijalankan di lebih dari 180 negara menjadi katalis tambahan bagi perusahaan. Kampanye tersebut menghasilkan lebih dari 60 miliar impresi digital dan sekitar 25 juta data konsumen baru.

Manajemen kemudian menaikkan outlook setahun penuh.

Pertumbuhan comparable EPS kini diproyeksikan berada di kisaran 9%–10%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 8%–9%.

Proyeksi pertumbuhan pendapatan organik juga dinaikkan menjadi sekitar 5% dari sebelumnya 4%–5%.

Free cash flow diperkirakan mencapai $12,4 miliar, meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar $12,2 miliar.

Saham Coca-Cola melonjak sekitar 6% hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di $89,59.

Kenaikan tersebut juga membantu mendorong indeks Dow Jones lebih dari 350 poin pada sesi perdagangan tersebut.

UPS: Earnings Beat dengan Risiko yang Masih Besar

UPS melaporkan pendapatan konsolidasi sebesar $22,8 miliar, naik 7,6% secara tahunan dan melampaui konsensus sebesar $21,8 miliar.

Adjusted EPS tercatat sebesar $1,76, lebih tinggi dibandingkan estimasi pasar sebesar $1,66.

Pada basis adjusted, laba operasional meningkat 12% dan margin operasional naik menjadi 9,2%.

Manajemen kemudian menaikkan outlook setahun penuh.

Target pendapatan dinaikkan menjadi $91,2 miliar dari sebelumnya $89,7 miliar, sementara adjusted EPS diproyeksikan mencapai $7,22.

CEO UPS Carol Tomé menyebut hasil tersebut sebagai kuartal keempat berturut-turut ketika perusahaan mampu melampaui ekspektasi internal.

​​​​​​​

Data untuk kuartal yang berakhir 30 Juni 2026. Sumber: UPS Investor Relations dan estimasi LSEG.

Namun, di balik angka adjusted yang solid, terdapat kondisi yang lebih kompleks.

Pada basis GAAP, laba bersih turun menjadi $604 juta dari $1,28 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh biaya transformasi setelah pajak sebesar $891 juta, terutama dari program pemisahan karyawan Driver Choice Program.

Faktor lain yang menjadi perhatian investor adalah guidance untuk kuartal III.

Volume harian domestik diperkirakan turun dalam kisaran mid-single digit, sementara pendapatan domestik diproyeksikan relatif datar secara tahunan.

Laba operasional segmen internasional juga turun 8,7% meskipun pendapatan tumbuh 12,5%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan profitabilitas.

​​​​​​​

Sumber: UPS Q2 2026 Earnings Release

Strategi UPS untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amazon telah resmi diselesaikan.

Amazon kini hanya mewakili sekitar 9% dari total pendapatan UPS, turun signifikan dibandingkan posisi sebelumnya.

Sekitar dua juta paket Amazon per hari juga telah dikeluarkan dari jaringan UPS.

Sebagai gantinya, perusahaan berfokus pada segmen dengan profitabilitas lebih tinggi.

Revenue per piece pada segmen domestik meningkat 9,3%, atau tumbuh 130 basis poin lebih cepat dibandingkan cost per piece.

Bisnis logistik kesehatan menghasilkan pendapatan lebih dari $3 miliar untuk kuartal kedua secara berturut-turut.

Selain itu, sekitar 68,5% volume AS kini telah diproses melalui fasilitas otomatis.

Mengapa Reaksi Saham Coca-Cola dan UPS Berbeda?

Coca-Cola dan UPS sama-sama melampaui ekspektasi dan menaikkan guidance.

Namun, pasar memberikan respons yang berbeda karena kualitas pertumbuhan dan arah margin kedua perusahaan tidak sama.

Coca-Cola menawarkan kombinasi yang relatif kuat bagi investor defensif.

Volume meningkat di berbagai wilayah, harga jual ikut naik, dan margin operasional melebar 80 basis poin menjadi 34,9%.

Kampanye FIFA World Cup juga memberikan visibilitas tambahan terhadap pertumbuhan permintaan dan keterlibatan konsumen.

Hasil Coca-Cola tidak hanya ditopang oleh penyesuaian harga atau pemangkasan biaya.

Pertumbuhan volume menunjukkan bahwa permintaan konsumen terhadap produk perusahaan masih bertahan.

Perbandingan Kualitas Earnings Coca-Cola dan UPS

Sumber: XTB Research Indonesia​​​​​​​

UPS secara teknis juga mencatatkan earnings beat yang solid.

Namun, investor melihat adanya perbedaan besar antara angka adjusted dan kondisi berbasis GAAP.

GAAP operating margin turun menjadi 4,1% dari 8,6% pada tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut memberikan sinyal bahwa kualitas laba UPS masih dipengaruhi oleh biaya transisi dan restrukturisasi.

Manajemen menjelaskan bahwa biaya tersebut merupakan bagian akhir dari perubahan strategi perusahaan.

UPS sedang mengurangi ketergantungan terhadap Amazon dan membangun jaringan yang lebih ramping serta lebih berorientasi pada segmen bermargin tinggi.

Namun, pasar membedakan antara transformasi yang telah selesai dan profitabilitas yang benar-benar telah pulih.

Guidance kuartal III yang menunjukkan pendapatan domestik relatif datar dan penurunan volume dalam kisaran mid-single digit memperkuat kekhawatiran bahwa pemulihan margin masih membutuhkan waktu.

Perbedaan reaksi antara saham Coca-Cola dan UPS memberikan pelajaran penting selama musim laporan keuangan.

Earnings beat tidak selalu cukup untuk mendorong harga saham naik.

Investor juga menilai apakah pertumbuhan berasal dari peningkatan permintaan, kenaikan harga, efisiensi, atau sekadar penyesuaian akuntansi dan biaya satu kali.

Dalam kasus Coca-Cola, pasar melihat pertumbuhan volume, ekspansi margin, serta outlook yang lebih kuat.

Pada UPS, investor masih perlu menilai apakah transformasi jaringan dapat menghasilkan pemulihan margin yang konsisten ketika volume domestik masih melemah.

Karena itu, investor perlu mempertimbangkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko masing-masing perusahaan berdasarkan kualitas laba, arah margin, visibilitas permintaan, dan valuasinya.

Laporan keuangan sebaiknya tidak hanya dibaca dari apakah EPS melampaui konsensus, tetapi juga dari seberapa berkelanjutan kinerja tersebut tanpa dukungan penyesuaian atau biaya nonberulang.

29 Juli 2026, 10.03

Masalah Saham Chip Bukan Labanya, tapi Ekspektasinya

28 Juli 2026, 19.04

Daily Summary: Pasar Rotasi Saat Saham Chip Masih Tertekan

28 Juli 2026, 16.21

Eropa Mulai Tinggalkan Palantir?

28 Juli 2026, 14.46

US OPEN: Nasdaq Tertekan, SaaS Justru Menguat

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.