17.08 · 7 September 2026

Satu Uji Klinis Gagal, Saham Farmasi Ikut Bertumbangan

Kegagalan obat jantung pelacarsen bukan hanya menjadi pukulan bagi Novartis. Amgen dan Eli Lilly, yang mengembangkan obat dengan target serupa, ikut merasakan tekanan di pasar.

Efek Domino dari Satu Pengumuman

Novartis mengumumkan pada Jumat, 4 September, bahwa pelacarsen, obat eksperimental untuk menurunkan risiko kardiovaskular, gagal dalam uji klinis Fase III yang melibatkan lebih dari 8.000 pasien selama enam tahun.

Obat tersebut memang berhasil menurunkan kadar lipoprotein(a) atau Lp(a), tetapi penurunan tersebut tidak menghasilkan pengurangan serangan jantung, stroke, maupun kematian akibat penyakit kardiovaskular dibandingkan plasebo.

Pasar merespons dengan keras. Saham NVS turun 3,3% pada perdagangan Senin pagi di bursa Eropa setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 7% pada sesi after-hours AS Jumat malam.

Namun, yang membuat situasi ini lebih penting adalah dampaknya yang meluas di luar Novartis.

Amgen (AMGN), yang mengembangkan olpasiran dengan target molekul Lp(a) yang sama, langsung turun sekitar 5% pada perdagangan after-hours.

Eli Lilly (LLY), yang juga mengembangkan kandidat lepodisiran dalam kelas terapi serupa, ikut terekspos terhadap sentimen negatif.

Logika pasar cukup sederhana: jika menurunkan Lp(a) ternyata tidak mampu menghasilkan manfaat klinis seperti penurunan risiko serangan jantung atau kematian, maka investasi miliaran dolar dari beberapa perusahaan farmasi terbesar dunia berisiko kehilangan nilai.

Eksposur Saham Farmasi terhadap Kelas Terapi Lp(a). Sumber: XTB Research Indonesia

Pukulan Ganda bagi Novartis

Timing kegagalan ini sulit datang pada saat yang lebih buruk bagi Novartis.

Perusahaan sedang menghadapi apa yang disebut CEO Vas Narasimhan sebagai salah satu periode patent expiry terbesar dalam sejarahnya.

Obat utama seperti Entresto untuk gagal jantung, Promacta untuk kelainan darah, dan Tasigna untuk kanker secara bersamaan kehilangan perlindungan paten sepanjang 2025–2026.

Kondisi tersebut diperkirakan menciptakan lubang revenue sekitar US$4 miliar pada tahun ini.

Pelacarsen sebelumnya dipandang sebagai salah satu kandidat penting untuk mengisi kekosongan pertumbuhan tersebut.

Sejumlah analis memperkirakan obat ini berpotensi menghasilkan peak sales sekitar US$3–US$6 miliar per tahun jika berhasil dikomersialisasikan.

Setelah hasil uji Fase III yang mengecewakan, ekspektasi tersebut kini praktis menghilang.

Novartis masih memiliki beberapa aset pertumbuhan yang kuat, termasuk Kisqali untuk kanker payudara dan Pluvicto untuk kanker prostat.

Namun, tekanan terhadap pipeline kardiovaskular perusahaan kini menjadi semakin besar.

Investor berikutnya akan mencermati perkembangan del-desiran, terapi gen yang diperoleh melalui akuisisi Avidity senilai sekitar US$12 miliar pada tahun lalu.

Jika kandidat tersebut juga gagal memberikan hasil yang diharapkan, narasi pertumbuhan pipeline Novartis akan semakin sulit dipertahankan.

Amgen Jadi Penentu Nasib Kelas Terapi Ini

Masih ada satu argumen yang menjaga harapan terhadap kelas terapi Lp(a).

Masalahnya mungkin bukan terletak pada target Lp(a) itu sendiri, melainkan pada seberapa besar kadar tersebut harus diturunkan untuk menghasilkan manfaat klinis.

Pelacarsen hanya mampu menurunkan kadar Lp(a) sekitar 72–80%.

Sebagai perbandingan, olpasiran milik Amgen mampu menekan Lp(a) lebih dari 95% dalam uji Fase II, sementara lepodisiran milik Eli Lilly mencatat penurunan sekitar 94%.

Jika penurunan yang lebih agresif ternyata mampu menghasilkan manfaat klinis yang nyata, kelas terapi ini masih memiliki peluang untuk berkembang.

Uji Fase III OCEAN(a)-Outcomes milik Amgen, yang melibatkan sekitar 7.000 pasien, dijadwalkan selesai pada Maret 2028.

Hasil tersebut berpotensi menjadi titik penentuan bagi seluruh kelas terapi.

Jika olpasiran berhasil, saham Amgen dan Eli Lilly dapat memperoleh sentimen positif karena pasar terapi Lp(a) masih sangat besar dan relatif belum tergarap.

Sebaliknya, jika uji tersebut juga gagal, hipotesis bahwa Lp(a) merupakan target terapi kardiovaskular yang efektif dapat kehilangan kredibilitas secara signifikan.

Dalam skenario tersebut, investasi riset bernilai miliaran dolar dari sejumlah perusahaan Big Pharma berisiko berubah menjadi kerugian besar.

Investor Takeaway

  • Kegagalan pelacarsen menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi bagi saham farmasi dengan eksposur terhadap terapi Lp(a).
  • Novartis menghadapi tekanan ganda dari patent cliff dan kegagalan pipeline, sementara Amgen dan Eli Lilly tetap membawa risiko terhadap kelas terapi yang sama hingga data OCEAN(a)-Outcomes dirilis pada 2028.
  • Katalis terdekat yang perlu diperhatikan adalah presentasi data lengkap studi Lp(a)HORIZON pada kongres medis akhir 2026.
  • Bagi investor, fokus utama kini bukan hanya apakah satu obat gagal, tetapi apakah kegagalan tersebut mengindikasikan masalah pada kandidat spesifik Novartis atau justru mempertanyakan validitas seluruh pendekatan terapi Lp(a).
7 September 2026, 13.11

Market Wrap: NFP Kuat, Chip Asia Naik dan Minyak Dekati US$100

5 September 2026, 10.10

Daily Summary: NFP Kuat Tekan Pasar, Risiko Suku Bunga Naik

5 September 2026, 10.05

Nasdaq, Emas, dan Inflasi AS Jadi Sorotan

5 September 2026, 10.01

Lululemon Anjlok 20%, Michael Burry Justru Membeli

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.