ServiceNow merupakan salah satu perusahaan yang, meskipun berasal langsung dari model SaaS korporasi klasik, kini bergerak dengan percaya diri di barisan depan para pionir industri AI. Para pionir tersebut tidak menawarkan model AI atau daya komputasi, melainkan solusi bisnis yang menjadi alasan utama model-model tersebut diciptakan.
Saham ServiceNow telah turun hampir 50% dari level tertingginya pada pertengahan 2024. Padahal, dalam periode yang sama, perusahaan membukukan pertumbuhan laba lebih dari belasan persen secara tahunan dan belum ada indikasi bahwa tren tersebut akan segera berubah.
Sentimen negatif yang terus bertahan ini sulit disebut sepenuhnya rasional. Namun, sebagian tekanan tersebut masih berakar pada mekanisme pasar dan model valuasi.
Saat ini, pasar memperkirakan bahwa perusahaan software dan SaaS akan diserap atau bahkan disingkirkan dari pasar oleh AI. Akibatnya, nilai terminal perusahaan-perusahaan tersebut diperlakukan mendekati nol, meskipun laporan keuangan menunjukkan kondisi yang sangat berbeda.
Terlepas dari rasionalitas dan kelayakan skenario tersebut, ServiceNow merupakan perusahaan dengan model bisnis yang terintegrasi erat dan dibangun di atas AI. Perusahaan ini bukan “dinosaurus” yang hanya menunggu solusinya direplikasi dengan harga jauh lebih murah.
Menjelang earnings call berikutnya, terdapat satu pertanyaan yang perlu diajukan karena jawabannya penting bagi seluruh sektor, bukan hanya satu perusahaan.
Pertanyaannya adalah:
Apa yang Harus Ditunjukkan ServiceNow agar Pasar Mengakui Aksi Jual Ini Keliru?
Ekspektasi pasar berada pada level ekstrem dan ruang untuk melakukan kesalahan sangat kecil. Melampaui estimasi pendapatan dan laba saja tidak akan cukup.
- Melampaui konsensus pendapatan sebesar $3,92 miliar dan adjusted EPS sekitar $8,60 hanyalah titik awal, bukan bukti bahwa tesis bullish terhadap perusahaan benar.
Metrik utama yang perlu diperhatikan adalah cRPO dan RPO, yaitu kewajiban kinerja tersisa jangka pendek dan jangka panjang.
- Indikator tersebut memungkinkan investor menilai kualitas pertumbuhan perusahaan, bukan sekadar profitabilitas jangka pendek. Dalam konteks ini, cRPO dan RPO dapat memberikan gambaran yang lebih baik dibandingkan pendapatan atau bahkan backlog.
- Pertumbuhan cRPO diperkirakan berada di sekitar 20% secara tahunan. Apabila pertumbuhannya lebih rendah, nilai terminal perusahaan yang sudah berada di bawah tekanan dapat kembali menurun secara signifikan.
Secara sederhana, ServiceNow harus membuktikan kepada pasar bahwa perusahaan merupakan pemimpin dalam lapisan orkestrasi agen AI untuk kebutuhan korporasi, bukan hanya sekadar perusahaan SaaS.
Pembuktian tersebut akan menjadi penentu utama bagi valuasi saham ServiceNow.
Namun, hasil ServiceNow tidak hanya penting bagi satu perusahaan atau bahkan seluruh industri SaaS. Laporan tersebut juga akan menjadi ujian bagi seluruh revolusi AI.
Keberhasilan atau kegagalannya akan menunjukkan apakah AI mulai beralih dari sekadar janji menjadi solusi yang benar-benar terintegrasi dalam operasional perusahaan.
Analisis Teknikal ServiceNow (D1)
Grafik harian menunjukkan bahwa harga saham masih terjebak dalam rentang konsolidasi sempit antara $84 dan $125. Harga penutupan saat ini berada di sekitar $102 sehingga belum memberikan arah yang jelas. Zona dengan volume perdagangan tinggi tersebut dapat dianggap sebagai “dead zone”. Dalam kondisi ini, pembeli maupun penjual sama-sama menghadapi risiko hingga terjadi penembusan tegas yang menentukan tren berikutnya. Sumber: xStation5
Saham SaaS Anjlok, Valuasi Kini Dinilai Terlalu Murah
Micron: Apakah Siklus AI Mulai Kehilangan Momentum?
US OPEN: US100 Turun, Saham Teknologi Kembali Tertekan
Netflix Turun 9% Usai Outlook Q3 Gagal Penuhi Ekspektasi
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.