Snowflake Meledak +22%: AI Mempercepat Growth, Tapi Siapa yang Bayar Tagihan Compute-nya?
Revenue US$1,55 miliar, EPS beat 38%, guidance dinaikkan. Tapi di balik euforia, ada satu angka yang diam-diam bergeser: gross margin.
Snowflake baru saja mencetak salah satu laporan keuangan terbaik sejak IPO pada 2020. Pada kuartal kedua tahun fiskal 2027 yang berakhir 31 Juli 2026, revenue mencapai US$1,55 miliar, naik 35% secara year-over-year.
Product revenue, metrik utama karena Snowflake mengenakan biaya berdasarkan konsumsi aktual pelanggan, tumbuh lebih cepat sebesar 37% menjadi US$1,49 miliar. Adjusted EPS tercatat US$0,62, jauh melampaui konsensus US$0,45. Saham Snowflake langsung melonjak sekitar 22% dalam perdagangan after-hours, dari US$306 ke sekitar US$374.
Namun, yang membuat pasar benar-benar antusias bukan hanya beat pada kuartal ini. Snowflake menaikkan full-year product revenue guidance menjadi US$6,07 miliar dari sebelumnya US$5,84 miliar, sekaligus meningkatkan target operating margin.
Ini menjadi kuartal ketiga berturut-turut ketika pertumbuhan product revenue mengalami akselerasi, dari sekitar 30% pada akhir tahun fiskal sebelumnya menjadi 37% sekarang. Artinya, Snowflake mencatat akselerasi sekitar tujuh poin persentase hanya dalam dua kuartal.

Sumber: XTB Research Indonesia
AI Sudah Bukan Sekadar Gimmick
Cerita di balik angka tersebut bukan hanya tentang semakin banyak perusahaan memindahkan data ke cloud. Hal yang lebih menarik adalah sekitar separuh akselerasi pertumbuhan product revenue berasal dari produk-produk AI baru Snowflake, bukan hanya dari bisnis data warehouse tradisionalnya.
Dua produk yang berulang kali disebut manajemen adalah CoCo, AI coding assistant milik Snowflake, dan CoWork, platform business intelligence berbasis AI. CoCo kini digunakan oleh lebih dari 9.100 akun, bertambah lebih dari 2.000 akun hanya dalam satu kuartal. Sementara itu, CoWork telah digunakan sekitar 5.800 akun, naik 11% secara kuartalan.
Yang penting dipahami, dampaknya bukan sekadar bertambahnya jumlah pengguna. Manajemen menjelaskan bahwa pelanggan yang mengadopsi produk AI juga cenderung meningkatkan konsumsi pada platform inti Snowflake.
Ada efek flywheel di sini. Pelanggan datang untuk menggunakan AI, lalu meningkatkan penggunaan storage, compute, serta data sharing di seluruh ekosistem Snowflake. CEO Sridhar Ramaswamy menyebut efek tersebut sebagai “structural multiplier.”
Pada semester pertama FY2027, Snowflake juga meluncurkan lebih dari 330 kapabilitas produk baru, naik 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kecepatan inovasi ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari strategi Snowflake untuk memosisikan platformnya sebagai “control plane” bagi enterprise AI.
Tapi AI Punya Harga: Gross Margin Mulai Tertekan
Di sinilah ceritanya menjadi lebih kompleks. Bersamaan dengan menaikkan guidance revenue, Snowflake justru menurunkan target product gross margin setahun penuh dari 75% menjadi 74%.
Alasannya sederhana: AI workloads membutuhkan compute yang jauh lebih mahal dibandingkan query data warehouse konvensional. Setiap kali pelanggan menggunakan CoCo untuk menulis kode atau CoWork untuk menganalisis data, Snowflake harus menanggung biaya model serta infrastruktur GPU yang lebih tinggi.
CFO Brian Robins mengakui bahwa revenue mix yang semakin bergeser ke AI membuat kontribusi margin dari setiap dolar revenue menjadi lebih rendah.
Ironisnya, produk yang tumbuh paling cepat justru memiliki margin yang lebih tipis. Ini menjadi salah satu paradoks utama bisnis AI saat ini: semakin sukses perusahaan meningkatkan penggunaan AI, semakin besar pula biaya compute yang harus ditanggung.
Namun, terdapat sisi lain yang lebih positif. Walaupun gross margin turun, operating margin justru membaik secara signifikan. Non-GAAP operating margin Snowflake mencapai 15% pada Q2, naik sekitar 400 basis poin dari tahun sebelumnya.
Guidance operating margin setahun penuh juga dinaikkan dari 13,5% menjadi 14,5%. Artinya, Snowflake sejauh ini mampu mengimbangi tekanan dari biaya compute melalui disiplin biaya operasional.
Salah satu faktor utamanya adalah pengendalian pertumbuhan jumlah karyawan. Sepanjang semester pertama tahun fiskal ini, Snowflake hanya menambah sekitar 334 karyawan baru, jauh lebih rendah dibandingkan 935 karyawan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Paradoks AI Snowflake pun mulai terlihat jelas: product gross margin turun menjadi 74% karena AI workloads lebih mahal, tetapi operating margin justru meningkat menjadi 15% berkat efisiensi operasional. Revenue bertumbuh, biaya compute meningkat, tetapi penghematan di area lain masih mampu mengimbanginya.
Pertanyaan US$6 Miliar: Bisa Scale Tanpa Mengorbankan Margin?
Snowflake sudah mulai mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Pada Mei 2026, perusahaan menandatangani komitmen infrastruktur senilai US$6 miliar selama lima tahun dengan AWS, kesepakatan terbesar sepanjang sejarah Snowflake.
Inti dari kerja sama ini bukan sekadar membeli kapasitas cloud dalam jumlah besar. Snowflake juga mendapatkan akses ke chip Graviton buatan Amazon, yang menawarkan rasio price-performance lebih efisien untuk jenis workload tertentu.
Harapannya, penggunaan silicon dan infrastruktur yang semakin efisien dapat menekan biaya per unit compute ketika AI workloads terus meningkat.
Namun, strategi tersebut masih merupakan taruhan. Manajemen sendiri mengakui bahwa prioritas utama saat ini adalah membangun produk berkualitas dan mendorong adopsi terlebih dahulu, baru kemudian mengoptimalkan margin.
Robins mengatakan Snowflake terus bereksperimen dengan pemilihan model serta arsitektur yang lebih hemat biaya, tetapi manajemen belum bersedia memberikan timeline mengenai kapan gross margin produk AI dapat mendekati margin bisnis inti platform.
Di sisi lain, remaining performance obligations (RPO) meningkat 30% menjadi US$9 miliar, sementara net revenue retention bertahan di 126%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelanggan yang sudah menggunakan Snowflake masih terus meningkatkan pengeluaran mereka.
Snowflake juga menargetkan mencapai profitabilitas berdasarkan GAAP pada Q4 FY2028. Target ini akan menjadi salah satu ujian terpenting apakah cerita pertumbuhan Snowflake juga dapat berkembang menjadi cerita profitabilitas.
Bagi investor, pertanyaan berikutnya bukan lagi “apakah AI bisa mempercepat pertumbuhan Snowflake?” karena sejauh ini jawabannya sudah cukup jelas: bisa.
Pertanyaan yang jauh lebih penting sekarang adalah unit economics. Apakah biaya menjalankan AI workloads akan terus turun ketika skala bisnis meningkat, atau bisnis cloud Snowflake secara struktural akan menjadi lebih mahal untuk dijalankan?
Saham Snowflake yang sudah naik sekitar 39% year-to-date, jauh melampaui kenaikan S&P 500 sekitar 12%, menunjukkan bahwa pasar telah memasukkan banyak skenario optimistis ke dalam valuasinya. Jika Snowflake gagal menunjukkan stabilisasi atau perbaikan gross margin dalam dua hingga tiga kuartal mendatang, premium valuasi yang saat ini dinikmati saham tersebut bisa mulai dipertanyakan.
Market Wrap: Wall Street Rebound, Fokus Mulai Beralih ke NFP
Daily Summary: Wall Street Menguat Tipis Jelang Earnings Broadcom
Broadcom Jelang Earnings: Bisakah Rally Saham AI Berlanjut?
US Open: Wall Street Datar, Yield AS Naik dan Saham Dell Melonjak
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.