Bisnis antariksa milik Elon Musk terus mendominasi berita utama di pasar keuangan, dan memang ada alasan kuat di baliknya. SpaceX, yang resmi melantai di bursa pada Jumat, 12 Juni, kini memiliki valuasi lebih dari US$2,6 triliun, melampaui kapitalisasi pasar Amazon—perusahaan yang menghasilkan laba bersih sebesar US$77,7 miliar pada tahun 2025. Sebagai perbandingan, SpaceX justru melaporkan kerugian bersih lebih dari US$4 miliar pada 2025, setelah hanya mencatat laba kurang dari US$1 miliar pada 2024.
Lalu pertanyaannya, apakah ini sebuah gelembung? Atau justru mencerminkan karakteristik valuasi unik dari perusahaan dominan yang beroperasi dalam industri strategis dengan orientasi masa depan? Kedua jawaban tersebut tidak harus saling bertentangan.
Valuasi Selalu Bersifat Abstrak
Buku-buku analisis fundamental memang menyediakan kerangka yang berguna untuk menilai perusahaan. Namun pasar tidak pernah mengikuti rumus matematika secara mutlak. Setiap investor memahami pentingnya memiliki metode valuasi yang konsisten. Meski demikian, sejarah pasar berulang kali menunjukkan bahwa kelompok investor dalam jumlah besar sering kali bersedia memberikan valuasi yang jauh berbeda dari pendekatan konvensional. Saat ini, sebagian investor bersedia membeli saham SpaceX pada valuasi yang setara dengan 150 hingga 200 kali pendapatan perusahaan. Apakah ada alasan yang dapat mendukung optimisme sebesar itu?
Mari kita lihat lebih dekat.
SpaceX saat ini memiliki teknologi roket yang dapat digunakan kembali berkali-kali. Keunggulan tersebut secara drastis menurunkan biaya peluncuran dan memperluas akses menuju aktivitas ekonomi di luar Bumi. Sulit untuk membantah bahwa SpaceX adalah perusahaan yang unik. Hambatan masuk yang sangat tinggi, minimnya pesaing kredibel, serta pentingnya ruang angkasa sebagai “samudra” yang mengelilingi planet ini menjadi fondasi utama argumen bullish terhadap perusahaan. Selain itu, setiap calon pesaing harus menghadapi perjalanan panjang yang mahal dan penuh risiko. Kegagalan peluncuran, ledakan roket, serta investasi miliaran dolar yang berpotensi hilang merupakan bagian dari realitas industri ini. Hambatan tersebut tidak diukur dalam hitungan tahun, melainkan berpotensi mencapai puluhan tahun. Jeff Bezos baru-baru ini kembali diingatkan akan kenyataan tersebut setelah roket New Glenn milik Blue Origin mengalami ledakan. Tidak mengherankan jika investor mulai memberikan nilai pada berbagai faktor yang sulit dimasukkan ke dalam model valuasi tradisional. Beberapa di antaranya meliputi:
- Keunggulan kompetitif (competitive moat)
- Kontrak dengan NASA
- Kepercayaan pemerintah AS
- Posisi strategis Starlink
- Berbagai aset tidak berwujud lainnya
- Ketika Visi Menjadi Bagian dari Valuasi
Ketika ambisi Elon Musk mengenai pusat data orbital, ekspansi AI, dan infrastruktur antarplanet dimasukkan ke dalam perhitungan, narasi valuasi menjadi semakin spekulatif. Industri antariksa memang layak memperoleh premi valuasi. Ini adalah sektor strategis dengan potensi jangka panjang yang luar biasa besar. Namun memberikan nilai saat ini pada proyek-proyek yang berkaitan dengan Bulan, Mars, atau pusat data di orbit Bumi merupakan salah satu dari sedikit cara untuk menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan bisa bernilai hampir US$3 triliun. Masalahnya adalah SpaceX belum menghasilkan pendapatan yang signifikan dari proyek-proyek futuristis tersebut. Mirip seperti Tesla pada masa lalu, investor tampaknya memperlakukan potensi masa depan seolah-olah sudah pasti terjadi. Padahal masa depan tersebut bisa terwujud dalam lima tahun, lima belas tahun, atau bahkan mungkin tidak pernah terwujud sama sekali.
Di sinilah muncul paradoks yang menarik. Jika seluruh potensi tersebut sudah tercermin dalam harga saham hari ini, seberapa besar ruang yang masih tersisa untuk kejutan positif? Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$2,66 triliun dan pendapatan tahunan hanya US$18,67 miliar pada 2025, SpaceX tampak hampir tidak memiliki ruang untuk melakukan kesalahan. Pasar saat ini seolah mengasumsikan eksekusi yang sempurna pada berbagai lini bisnis yang sangat ambisius.
Spekulasi Juga Menjadi Pendorong Permintaan
Antusiasme terhadap SpaceX tidak sepenuhnya berasal dari keyakinan investasi jangka panjang. Sebagian besar permintaan kemungkinan juga didorong oleh spekulasi dan keinginan investor untuk ikut serta dalam momentum kenaikan harga yang sangat kuat. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan jumlah saham yang beredar relatif terbatas (free float yang kecil), permintaan investor terkonsentrasi pada pasokan saham yang sempit. Kondisi ini menciptakan potensi pergerakan harga yang sangat asimetris. Akibatnya, harga saham dapat terus naik secara signifikan meskipun fundamental perusahaan belum sepenuhnya mendukung valuasi tersebut.
Tanda-Tanda Gelembung
Ya, valuasi SpaceX menunjukkan banyak karakteristik yang identik dengan gelembung spekulatif. Namun hal itu tidak berarti gelembung tersebut harus pecah besok. Selama investor masih percaya pada cerita besar di balik perusahaan, valuasi dapat tetap tinggi. Bahkan tidak menutup kemungkinan terus meningkat apabila muncul katalis positif tambahan. Pasar saham mampu menjauh dari realitas ekonomi selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan beberapa kuartal sebelum akhirnya kembali menyesuaikan diri dengan fundamental. Namun optimisme dan valuasi tetap memiliki batas. Jika keberhasilan melampaui valuasi Amazon belum dianggap sebagai sinyal peringatan, maka mendekati valuasi Nvidia—yang hanya membutuhkan penggandaan harga saham dari level saat ini—mungkin akan memaksa investor mempertimbangkan kembali asumsi mereka.
Apakah pasar terlalu melebih-lebihkan:
- Kejeniusan bisnis Elon Musk?
- Ukuran pasar yang dapat digarap?
- Potensi pertumbuhan jangka panjang?
Semakin banyak investor menyadari betapa agresifnya asumsi yang tertanam dalam valuasi SpaceX, semakin besar kemungkinan terjadinya koreksi yang menyakitkan.
Koreksi Tidak Akan Mengubah Bisnis SpaceX
Penting untuk dipahami bahwa penurunan harga saham di masa depan, bahkan jika sangat besar, tidak akan mengubah operasional SpaceX secara fundamental. Perusahaan akan tetap:
- Meluncurkan roket
- Mengembangkan Starlink
- Menjalankan misi luar angkasa
- Berinvestasi dalam AI dan teknologi baru
Tidak satu pun aktivitas tersebut membutuhkan valuasi sebesar US$3 triliun. Pasar sempat mendapatkan gambaran awal aksi ambil untung kemarin ketika harga saham turun dari atas US$220 menuju sekitar US$200 saat penutupan. Namun bahkan setelah koreksi tersebut, valuasi SpaceX masih berada jauh di atas tingkat yang dianggap masuk akal oleh banyak investor fundamental. Optimisme pasar tetap berada pada level yang sangat tinggi. Sinyal lain yang patut diperhatikan adalah meningkatnya penerbitan saham dan utang oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang berusaha menggalang dana selama kondisi pasar masih sangat mendukung. Jika tren ini berlanjut terlalu lama, investor mungkin pada akhirnya menyadari bahwa kapasitas mereka untuk mendanai gelombang spekulasi berikutnya memiliki batas.
Oracle Diterpa Rumor Kontrak AI, Investor Waspada
Market Wrap: Wall Street Melemah, Fokus Beralih ke The Fed
US OPEN: SpaceX Tantang Amazon, Wall Street Menanti The Fed
SpaceX Akuisisi Cursor, Ambisi AI Musk Makin Besar
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.