17.55 · 15 Juni 2026

SpaceX Melaju ke US$170, Valuasinya Masih Masuk Akal?

SpaceX melanjutkan reli pasca-IPO dengan kenaikan sekitar 6% pada perdagangan premarket dan kini mendekati level US$170 per saham setelah debut bersejarahnya pada Jumat lalu. Kapitalisasi pasar perusahaan telah melampaui US$2 triliun, memicu perdebatan sengit mengenai apakah valuasi tersebut benar-benar dapat dibenarkan dan apa yang akan terjadi selanjutnya pada saham yang kini menjadi pusat perhatian pasar.

Akankah Realitas Mengejar SpaceX?

SpaceX mengakhiri tahun 2025 dengan kerugian lebih dari US$5 miliar, sementara belanja modal (capital expenditure) terus meningkat secara agresif.

Pada kuartal pertama 2026 saja, perusahaan menghabiskan US$10,1 miliar, dibandingkan US$4,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagian besar pengeluaran tersebut diarahkan untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Pendukung saham ini menyoroti kepemimpinan teknologi SpaceX dan tingginya hambatan masuk (barrier to entry) di industri antariksa.

Namun, menilai perusahaan berdasarkan potensi pendapatan yang mungkin diperoleh 15 hingga 20 tahun ke depan secara alami mengandung tingkat spekulasi yang sangat tinggi.

Untuk memberikan gambaran skala valuasinya, agar harga saham SpaceX dapat kembali berlipat ganda dari level saat ini, kapitalisasi pasarnya harus melampaui Alphabet (Google), sebuah skenario yang sulit dibenarkan mengingat ukuran bisnis SpaceX saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan raksasa teknologi tersebut.

CFRA memulai cakupan analis terhadap SpaceX dengan rekomendasi Sell dan target harga US$115 per saham, yang mengindikasikan potensi penurunan hampir 30% dari harga penutupan Jumat.

Menurut perusahaan riset tersebut, investor saat ini memperhitungkan skenario pertumbuhan yang sangat agresif sambil mengabaikan risiko eksekusi dan kebutuhan modal yang sangat besar.

Morningstar bahkan lebih skeptis.

Lembaga riset tersebut memperkirakan nilai wajar SpaceX hanya sebesar US$63 per saham, yang berarti terdapat potensi penurunan sekitar 70% dari level harga saat ini.

Pertanyaan terbesar berfokus pada kemampuan perusahaan untuk mengubah proyek-proyek ambisius menjadi arus kas yang nyata.

SpaceX terus menawarkan visi jangka panjang kepada investor, namun visi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan.

Perhatian khusus tertuju pada rencana pembangunan pusat data orbital yang dirancang untuk mendukung beban kerja AI di luar angkasa.

Investor kini semakin menuntut informasi yang lebih konkret mengenai jadwal komersialisasi proyek-proyek tersebut. Sejumlah analis juga menyoroti terbatasnya pengungkapan mengenai risiko eksekusi dan tata kelola perusahaan dalam prospektus IPO. Seiring meningkatnya valuasi perusahaan, ekspektasi terhadap transparansi juga akan semakin tinggi.

Industri Antariksa Sulit Dinilai dengan Metode Konvensional

Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, sebagian pelaku pasar percaya bahwa valuasi saat ini masih dapat dibenarkan jika dilihat dari perspektif jangka sangat panjang. NewStreet Research memulai cakupan terhadap SpaceX dengan target harga US$165 per saham. Menurut analis mereka, SpaceX seharusnya dinilai dalam horizon waktu 20 hingga 25 tahun, bukan menggunakan kerangka siklus saham konvensional.

Banyak investor yang antusias terhadap sektor "new space" tampaknya memiliki pandangan yang sama. Pada akhirnya, harga saham ditentukan oleh investor yang bersedia menanamkan modal, bukan oleh analis yang menerbitkan laporan skeptis. Kritik saja biasanya tidak cukup untuk menghentikan momentum reli yang kuat, terutama ketika banyak pelaku pasar mengakui bahwa potensi jangka panjang perusahaan memang sangat besar. Level valuasi saat ini juga mencerminkan premi signifikan atas posisi dominan SpaceX dalam industri antariksa Amerika Serikat.

Ini merupakan pasar yang sangat sulit dimasuki karena membutuhkan modal besar, keahlian teknologi tingkat tinggi, toleransi risiko yang besar, serta bertahun-tahun eksekusi yang konsisten.

Jeff Bezos baru-baru ini mendapatkan pengingat pahit mengenai tantangan tersebut setelah roket raksasa New Glenn milik Blue Origin — pesaing Falcon Heavy — dilaporkan mengalami ledakan yang kemungkinan menyebabkan penundaan program selama beberapa bulan. Peristiwa seperti ini menunjukkan betapa sulitnya meniru kapabilitas yang telah dibangun SpaceX selama bertahun-tahun.

Sama sulitnya untuk menilai nilai dari pengetahuan teknologi, pengalaman peluncuran, serta izin regulasi yang dimiliki perusahaan, yang semuanya merupakan keunggulan kompetitif yang sangat besar. Menurut NewStreet, sebagian besar fondasi utama yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan masa depan sudah sedang dikembangkan saat ini. Investor bullish berargumen bahwa SpaceX masih belum memiliki pesaing yang setara dalam kemampuan peluncuran orbital. Para analis memperkirakan keunggulan teknologi SpaceX dibandingkan para pesaingnya dapat mencapai satu dekade. Keunggulan seperti ini sangat sulit diukur secara kuantitatif dan secara alami menghasilkan premi valuasi yang besar.

Starship, Starlink, dan Masa Depan AI Orbital

Starship diperkirakan akan secara drastis meningkatkan kapasitas muatan yang dapat dikirim ke orbit dibandingkan sistem peluncuran yang ada saat ini. Kapasitas peluncuran yang lebih besar berpotensi menjadi fondasi utama ekspansi berkelanjutan jaringan Starlink.

Proyek komunikasi satelit direct-to-cell juga sangat bergantung pada kemampuan peluncuran milik SpaceX.

Demikian pula, pusat data AI orbital akan membutuhkan peningkatan signifikan dalam jumlah infrastruktur yang dapat ditempatkan di luar angkasa.

Menurut NewStreet, SpaceX berpotensi menguasai 90% hingga 95% kapasitas peluncuran global dalam empat hingga lima tahun ke depan.

Meskipun demikian, masih belum jelas apakah estimasi tersebut telah sepenuhnya memperhitungkan pesatnya perkembangan program antariksa China yang kini menjadi faktor penting dalam lanskap persaingan jangka panjang.

 

 

 

15 Juni 2026, 20.35

US Open: Wall Street Reli Usai Kesepakatan AS-Iran

15 Juni 2026, 15.20

SpaceX Debut, Musk Cetak Sejarah

15 Juni 2026, 13.14

Market Wrap: AS-Iran Sepakat, Hormuz Dibuka Kembali

12 Juni 2026, 23.02

🚀 SpaceX Cetak Debut Kuat di Nasdaq

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.