Pasar menghadapi salah satu pertemuan Federal Reserve paling menarik sekaligus paling tidak pasti.
Pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 36% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan hari ini.
Namun, dinamika di dalam Komite, latar belakang makroekonomi, dan kondisi politik membuat keputusan hari ini serta konferensi pers yang menyertainya berpotensi memicu pergerakan besar di pasar keuangan.
Sesuai konsensus pasar, The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga.
Namun, nada konferensi pers dapat memberikan dampak signifikan terhadap dolar AS, imbal hasil obligasi, harga emas, dan indeks saham Amerika Serikat.
Apa yang dapat diharapkan dari pertemuan hari ini?
Poin Utama yang Perlu Diperhatikan
- Probabilitas kenaikan suku bunga hari ini masih relatif rendah, yakni sedikit di atas sepertiga. Namun, angka tersebut tetap cukup tinggi karena komunikasi pejabat bank sentral AS, terutama Kevin Warsh, belum memberikan arah yang jelas.
- Kevin Warsh menghindari pernyataan tegas, membatasi komunikasi, dan menunggu revisi data pada musim gugur serta laporan dari kelompok kerja yang dibentuknya. Laporan tersebut kemungkinan baru tersedia pada akhir tahun, ketika pasar telah memperkirakan satu atau bahkan hampir dua kali kenaikan suku bunga. Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan kalender politik menjelang pemilu sela menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga lebih mungkin dilakukan pada tahap berikutnya.
- Risiko black swan terbesar tetap berasal dari kembalinya inflasi komoditas. Harga minyak sempat menyentuh $100 per barel, sementara harga bahan bakar di Amerika Serikat naik di atas $4 per galon.
- Meskipun inflasi terbaru turun menjadi 3,5%, tekanan harga masih dapat kembali ke perekonomian AS.
Ekspektasi Pasar vs Konsensus Analis
Berdasarkan kurva suku bunga yang diperkirakan dari kontrak futures, terlihat adanya peningkatan tajam dalam ekspektasi hawkish selama satu bulan terakhir.
Empat pekan lalu, pasar hanya memberikan probabilitas sangat kecil terhadap perubahan suku bunga pada Juli.
Saat ini, terutama akibat kenaikan harga minyak, peluang kenaikan suku bunga meningkat menjadi 36%.
Jalur suku bunga jangka panjang terlihat lebih menarik.
Untuk September 2026, pasar telah sepenuhnya memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga atau sekitar 1,05 kali kenaikan.
Untuk Desember, ekspektasi mendekati dua kenaikan sebesar 1,74 kali.
Pada April 2027, pasar memperkirakan lebih dari dua kenaikan penuh atau sekitar 2,18 kali.
Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kemungkinan munculnya gelombang kedua inflasi.
Kurva ekspektasi untuk pertemuan The Fed berikutnya. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Dari sisi konsensus ekonomi, The Fed seharusnya mempertahankan kebijakan saat ini.
Dari lebih dari 100 estimasi dalam konsensus Bloomberg, hanya dua yang memperkirakan kenaikan suku bunga.
Di dalam FOMC, terdapat kemungkinan munculnya dua suara hawkish kuat, terutama dari anggota yang bukan pemilih tetap, seperti Beth Hammack dari Cleveland dan Lorie Logan dari Dallas.
Dot plot The Fed sebelumnya menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
Namun, sekitar separuh anggota FOMC memperkirakan suku bunga tetap tidak berubah atau bahkan menurun.
Di sisi lain, Warsh sendiri menilai dot plot bukan alat yang tepat untuk menjelaskan arah kebijakan moneter.
Ekspektasi suku bunga The Fed pada akhir tahun. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
2. Teka-Teki Warsh: Retorika Hawkish, Aksi Dovish
Ketidakpastian terbesar dalam pertemuan hari ini adalah sikap Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Sejak menjabat, Warsh secara signifikan mengurangi komunikasi dengan pasar.
Ia menilai konferensi pers hanya diperlukan ketika bank sentral memiliki keputusan penting atau perubahan sistemik untuk disampaikan.
Warsh kerap berbicara mengenai perlunya “perlawanan nyata terhadap inflasi”.
Namun, dalam praktiknya, kebijakan yang diambil masih sangat berhati-hati.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa The Fed pada dasarnya hanya “tidak melakukan apa-apa”.
Warsh mengadopsi pendekatan yang metodis dan menyerupai manajemen korporasi.
Ia membentuk lima kelompok kerja khusus untuk meneliti karakter inflasi saat ini.
Laporan akhir dari kelompok tersebut diperkirakan baru tersedia pada akhir tahun.
Selain itu, Warsh menunggu revisi tahunan besar terhadap data inflasi inti PCE yang dijadwalkan pada September.
Dalam pernyataannya di hadapan Kongres, ia menjelaskan bahwa lonjakan permintaan akibat perkembangan kecerdasan buatan dapat meningkatkan harga pada tahap awal.
Namun, dalam jangka menengah dan panjang, peningkatan produktivitas dari AI diperkirakan bersifat disinflasioner.
Fakta bahwa konferensi pers tetap digelar hari ini juga perlu diperhatikan.
Sebagian investor melihatnya sebagai sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga tidak terduga untuk menunjukkan ketegasan dan membangun kredibilitas dalam memerangi inflasi.
Namun, skenario yang lebih mungkin adalah Warsh memperkenalkan kerangka komunikasi institusional The Fed yang baru.
Ia juga dapat merevisi cara bank sentral menyampaikan ketidakpastian atau membagikan arahan awal dari kelompok kerja.
Ini akan menjadi konferensi pers kedua Warsh.
Apabila tidak ada hal penting yang ingin disampaikan, konferensi tersebut dapat berlangsung jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya.
3. Kebuntuan Politik: Pemilu Sela dan Transmisi Kebijakan
Sulit membahas keputusan Federal Reserve dalam tahun pemilu tanpa mempertimbangkan konteks politik. Meskipun The Fed secara resmi bersifat independen, bank sentral biasanya sangat berhati-hati dalam menciptakan guncangan ekonomi menjelang pemilu Kongres AS pada November. Riset The Fed menunjukkan bahwa ekonomi riil dapat membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk merasakan dampak penuh dari kenaikan suku bunga. Dalam jangka pendek, perubahan suku bunga terutama memengaruhi pasar keuangan dan kredit. Dampaknya terhadap inflasi sendiri muncul dengan jeda yang cukup panjang.
Apa artinya bagi pertemuan Juli? Kenaikan suku bunga hari ini baru akan mulai menekan ekonomi dan pasar tenaga kerja secara nyata pada Oktober hingga November. Periode tersebut bertepatan dengan puncak kampanye pemilu. Pada saat yang sama, inflasi kemungkinan belum turun secara drastis akibat kenaikan tersebut. Risiko memicu hard landing tepat menjelang pemilu merupakan skenario yang tidak ingin dikaitkan dengan Ketua The Fed mana pun, bahkan yang paling hawkish, kecuali benar-benar diperlukan.
4. Minyak Masih Memegang Kendali
Terlepas dari seluruh faktor yang dibahas, arah kebijakan pada akhirnya kemungkinan tetap sangat bergantung pada harga minyak. Minyak masih menjadi salah satu penggerak utama inflasi. Kenaikan tajam harga minyak ke sekitar $100 per barel dan harga bahan bakar hingga $4 per galon di SPBU AS merupakan sinyal peringatan bagi bank sentral.
Harga bahan bakar di atas $4 per galon bertindak seperti pajak konsumsi bagi masyarakat. Pada saat yang sama, kenaikan tersebut langsung meningkatkan biaya logistik dan produksi di hampir seluruh sektor ekonomi. Guncangan pasokan seperti ini dapat menghancurkan tren penurunan inflasi, termasuk inflasi inti, yang dibangun secara perlahan selama beberapa kuartal terakhir.
Kevin Warsh berulang kali mengatakan bahwa kebijakan moneter seharusnya tidak bereaksi terhadap lonjakan pasokan yang bersifat sementara. Namun, sejarah menunjukkan bahwa harga minyak yang bertahan di sekitar $100 dalam jangka panjang dengan cepat merembet ke indikator inflasi inti.
Apabila guncangan minyak bertahan hingga musim gugur, alasan untuk menunggu laporan akhir kelompok kerja akan semakin sulit diterima pasar.
Apabila ekspektasi pasar benar, dengan lebih dari dua kenaikan suku bunga diperkirakan hingga April 2027, keputusan tidak bertindak pada Juli hanya akan menjadi ketenangan sebelum pengetatan agresif dimulai pada September atau November.
Sebaliknya, apabila situasi Timur Tengah segera terkendali dan harga gas serta gandum turun akibat El Niño, terdapat kemungkinan inflasi hanya bersifat sementara. Namun, pandangan serupa pernah disampaikan Jerome Powell pada fase awal kenaikan inflasi setelah 2021.
5. Kesimpulan
Sebagian besar sinyal menunjukkan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga hari ini. Bank sentral tampaknya menerima bahwa manfaat jangka pendek bagi kredibilitas Warsh sebagai figur hawkish lebih kecil dibandingkan risiko menekan pasar tenaga kerja yang masih rapuh dan mengganggu periode pemilu. Perhatian investor akan tertuju pada nada konferensi pers. Apabila Warsh semakin membentuk citra sebagai figur yang terus mengamati dan mempelajari pasar, bukan sebagai pembuat kebijakan yang aktif, sementara minyak bertahan di atas $90–$100, kekhawatiran terhadap kesalahan kebijakan bank sentral dapat meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS.
6. Potensi Reaksi Emas
Pendorong utama penurunan harga emas hari ini adalah rebound harga minyak setelah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Emas masih berada di area support utama.
Tanpa perubahan signifikan dalam pernyataan Warsh, area tersebut berpotensi bertahan. Sulit mengharapkan nada dovish dari Warsh karena The Fed belum mengambil langkah nyata untuk menekan inflasi. Namun, apabila ia menyampaikan kesiapan The Fed untuk menaikkan suku bunga atau setidaknya mengurangi neraca, harga emas berpotensi turun di bawah $4.000. Apabila pasar mulai memperkirakan lebih dari dua kenaikan suku bunga hingga pertengahan tahun depan, emas dapat turun menuju kisaran $3.700–$3.800.
Harga emas saat ini relatif sejalan dengan ekspektasi suku bunga. Karena itu, perubahan kecil pada proyeksi pasar dapat memberikan dampak besar terhadap prospek emas dalam jangka pendek.
Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB
Eropa Mulai Tinggalkan Palantir?
Market Wrap: Jeda Konflik Belum Cukup Angkat Wall Street
Minyak Turun saat Diplomasi Kembali Muncul
Serangan Houthi Dorong Harga Minyak
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.