00.05 · 10 September 2026

Treasury AS Perbesar Buyback, Tapi Yield Justru Tembus 4,85%

Treasury AS menaikkan ukuran buyback obligasi jangka panjang berikutnya menjadi US$6 miliar, atau tiga kali lipat dari ukuran sebelumnya, ketika Treasury Secretary Scott Bessent berusaha meredam kenaikan biaya pinjaman pemerintah.

Namun, reaksi pasar justru berlawanan dengan yang mungkin diharapkan.

  • Meski buyback diperbesar, harga US Treasury tetap turun sehingga yield obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 4,85%, level tertinggi sejak 2023. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa investor kemungkinan mengharapkan intervensi yang lebih besar.
  • Bessent menegaskan bahwa perluasan program buyback ditujukan untuk meningkatkan likuiditas pasar dan membatasi pergerakan yield yang terlalu tajam, bukan untuk mengubah valuasi fundamental US Treasury.
  • Menariknya, sebelum langkah terbaru ini, Bessent hanya mengatakan ukuran buyback akan “setidaknya digandakan”. Pada akhirnya, Treasury justru meningkatkan ukurannya tiga kali lipat, tetapi yield tetap bergerak lebih tinggi setelah pengumuman.

Reaksi pasar menjadi bagian paling penting dari perkembangan ini.

Secara teori, pembelian kembali obligasi jangka panjang dapat memberikan tambahan permintaan dan membantu memperbaiki likuiditas di pasar Treasury.

Namun, fakta bahwa yield justru naik setelah buyback dinaikkan menjadi US$6 miliar menunjukkan bahwa tekanan jual yang lebih besar masih mendominasi pasar.

Hal tersebut juga memperkuat perbedaan antara buyback Treasury dan quantitative easing dari Federal Reserve.

Program ini dirancang terutama untuk memperbaiki fungsi serta likuiditas pasar, bukan untuk secara langsung menurunkan yield atau melonggarkan kondisi moneter.

Dengan demikian, buyback yang lebih besar belum tentu cukup untuk melawan faktor fundamental seperti kebutuhan penerbitan utang yang tinggi, risiko inflasi, ekspektasi suku bunga, dan meningkatnya term premium.

Bagi investor saham, perkembangan ini penting karena yield Treasury yang lebih tinggi meningkatkan discount rate yang digunakan untuk menilai future earnings perusahaan.

Tekanan tersebut biasanya paling terasa pada saham growth dan teknologi dengan valuasi tinggi.

Pesan pasar untuk sementara cukup jelas: bahkan buyback yang dinaikkan tiga kali lipat belum mampu menghentikan kenaikan yield Treasury. Jika tekanan ini berlanjut, persoalan pasar obligasi AS mungkin membutuhkan lebih dari sekadar tambahan likuiditas melalui buyback.

10 September 2026, 01.02

Daily summary: Wall Street Melemah, Yield 10 Tahun Tembus 4,85%

10 September 2026, 00.25

EIA Naikkan Proyeksi Harga Minyak, WTI 2026 Jadi US$84,65

9 September 2026, 22.15

Minyak Tembus US$100, Risiko Inflasi Memanas

9 September 2026, 21.02

US Open: Wall Street Turun, Minyak Tembus US$100

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.