Uber telah mengumumkan transaksi yang tergolong bersejarah bagi perusahaan, tetapi untuk saat ini harga sahamnya justru nyaris tidak bergerak. Apakah pasar tepat bersikap acuh terhadap pembelian strategis ini, atau perhatian investor sedang teralihkan oleh hasil Nvidia dan agenda Jackson Hole sehingga perusahaan yang tergolong “biasa” menurut standar developed market ini belum mendapat perhatian?
Transaksi
Uber berencana membeli saham Delivery Hero senilai sekitar EUR13 miliar dengan harga EUR41,5 per saham. Perlu dicatat bahwa Uber membeli perusahaan tersebut dengan premi sekitar 18% terhadap harga pasar, dan sejumlah analis bahkan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan harga penawaran.
Hal penting lainnya, transaksi ini bukanlah perubahan strategi yang mendadak atau pembelian impulsif. Uber sebenarnya sudah memiliki sekitar 53% saham Delivery Hero, baik secara langsung maupun melalui berbagai kendaraan keuangan dan investasi.
Banyak hal mengenai reaksi pasar terhadap transaksi ini dapat terlihat bukan hanya dari pergerakan harga saham Uber, atau minimnya reaksi tersebut, tetapi juga dari valuasi Delivery Hero sendiri. Saham DHER masih diperdagangkan dengan diskon terhadap harga penawaran Uber, yang dalam praktiknya berarti pasar sedang memperhitungkan diskon cukup besar akibat potensi hambatan regulasi.
Merger perusahaan sebesar ini jelas berpotensi menarik perhatian regulator, termasuk otoritas antitrust.
Apa yang Didapat Uber dari Transaksi Ini
Inti dari strategi ekspansi Uber adalah membangun apa yang disebut sebagai super app. Bahkan saat ini, Uber sudah menangani berbagai layanan transportasi penumpang dan memiliki bisnis yang berkembang sebagai perantara pengantaran makanan restoran.
Skalanya akan sangat besar. Setelah merger, kedua perusahaan berpotensi beroperasi di sebanyak 99 negara, sementara jumlah pasar yang memiliki integrasi penuh antara layanan transportasi dan delivery akan meningkat dari 34 menjadi 58.
Secara hipotetis, skala ekspansi tersebut dapat jauh lebih besar daripada sekadar peningkatan linear dari pengambilalihan pangsa pasar perusahaan lain. Efek skala dan sinergi dapat menciptakan nilai tambahan yang lebih besar daripada sekadar penjumlahan bisnis kedua perusahaan.
Implikasi terhadap Sektor
Jika pembelian Delivery Hero oleh Uber berhasil diselesaikan, transaksi ini akan menjadi sinyal ekspansi besar sekaligus mempercepat tren konsolidasi di antara operator ride-hailing dan delivery. Konsolidasi biasanya menguntungkan perusahaan, tetapi belum tentu memberikan hasil yang sama bagi konsumen.
Konsolidasi yang terjadi saat ini sebenarnya, dalam banyak hal, sudah menjadi tujuan industri sejak awal. Investor sebelumnya bersedia mentoleransi kerugian selama bertahun-tahun sebelum perusahaan-perusahaan di sektor ini bahkan mampu mencapai titik impas, dengan alasan bahwa keuntungan akan datang di masa depan. Uber sendiri merupakan salah satu contoh paling jelas dari pola tersebut.
Konsolidasi pasar lebih lanjut akan mengurangi persaingan, sehingga perusahaan berpotensi memperoleh margin yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, margin yang lebih kuat tersebut dapat digunakan untuk membiayai akuisisi tambahan maupun distribusi modal kepada pemegang saham.
Analisis Teknikal: Uber (D1)
Harga saham telah mengalami koreksi signifikan dari puncak terbarunya, dengan penurunan mencapai sekitar 35%. Meski demikian, keberhasilan mempertahankan trendline naik utama di sekitar US$65 mengindikasikan bahwa area bawah dari fase koreksi saat ini mungkin sudah terbentuk, meskipun belum dapat dipastikan. Di sisi lain, sinyal “death cross” yang muncul pada akhir 2025 masih menjadi perhatian karena saat itu terbukti menjadi pemicu penurunan lebih lanjut. Secara keseluruhan, gambaran teknikal saham Uber masih mixed, dan hubungan antara EMA100 dan EMA200 akan menjadi faktor utama yang perlu dipantau. Sumber: xStation5
Apakah Nvidia Sekarang Perusahaan Terbaik di Dunia?
Nvidia Naik 7%, Kenapa Saham Chip Lain Justru Tertahan?
CrowdStrike Naik 9%: AI Dorong ARR dan Guidance Makin Kuat
Salesforce Naik 12%: Agentforce Buktikan AI Bukan Ancaman SaaS?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.