Intel dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III (Q3) 2026 malam ini setelah penutupan pasar saham AS. Fokus investor kini telah bergeser dari sekadar siklus permintaan PC menuju peluang pertumbuhan dari kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Pertanyaan utamanya adalah apakah pertumbuhan CPU server yang didorong gelombang agentic AI mampu mengimbangi kerugian besar pada bisnis foundry, atau justru kedua segmen tersebut akan terus menunjukkan kinerja yang berlawanan arah.
CPU Jadi Pintu Masuk Baru Intel ke Era AI
Selama ini, perkembangan AI lebih banyak didominasi oleh GPU. Namun, meningkatnya aktivitas inference dan orchestration dalam aplikasi agentic AI mulai mendorong permintaan CPU server untuk pemrosesan data (data processing) dan beban kerja perusahaan (enterprise workload). Dampaknya terlihat jelas pada kuartal II, ketika segmen Data Center dan AI Intel tumbuh 59% secara tahunan (YoY) menjadi US$6,3 miliar, dengan margin operasional sekitar 40%. CFO Intel, David Zinsner, bahkan menyatakan bahwa permintaan CPU server masih jauh melampaui kapasitas yang tersedia, sementara tambahan kapasitas produksi baru akan mulai masuk pada akhir Q3 dan Q4. Perluasan kerja sama dengan Oracle pada pekan ini, yang menghadirkan prosesor Intel Xeon ke Oracle Cloud Infrastructure (OCI) untuk kebutuhan enterprise workload dan agentic AI, semakin memperkuat indikasi bahwa peluang monetisasi AI melalui bisnis CPU Intel mulai terbuka.
Foundry Masih Jadi Beban yang Belum Terselesaikan
Di sisi lain, bisnis Intel Foundry masih menjadi titik lemah utama yang membebani profitabilitas konsolidasi perusahaan. Pada kuartal II, segmen ini mencatat kerugian operasional sekitar US$2,1 miliar, meskipun telah menyempit dari US$3,17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan dari pelanggan foundry eksternal baru mencapai US$293 juta. Teknologi manufaktur Intel 18A memang menunjukkan kemajuan dengan produksi sekitar 25% di atas target, sedangkan manajemen menyebut pengembangan Intel 14A sudah lebih cepat dari rencana untuk tahap risk production pada paruh kedua 2027. Namun, selama basis pelanggan eksternal belum berkembang secara signifikan dan produk dari node manufaktur baru masih menghasilkan margin di bawah rata-rata perusahaan, bisnis foundry akan terus menekan laba konsolidasi Intel, meskipun segmen pusat data berhasil mencatat kinerja yang kuat.
Yang Perlu Dipantau Malam Ini
Konsensus analis memperkirakan pendapatan Intel Q3 2026 sekitar US$16,47 miliar dan EPS non-GAAP sebesar US$0,40, sementara panduan resmi Intel berada pada kisaran US$15,8–16,8 miliar dengan EPS US$0,38. Hasil utama laporan keuangan berpeluang melampaui ekspektasi, tetapi reaksi harga saham Intel (INTC) kemungkinan akan lebih bergantung pada tiga faktor: apakah margin kotor mampu bertahan di sekitar 42% sesuai target manajemen, apakah tambahan kapasitas CPU server benar-benar tersedia pada Q4, dan seberapa cepat kerugian bisnis foundry terus menyempit. Saham Intel telah terkoreksi sekitar 13% sejak laporan keuangan Juli, sementara valuasinya yang mencapai sekitar 57 kali estimasi laba konsensus 2026 membuat ruang toleransi pasar terhadap hambatan eksekusi menjadi semakin terbatas. Karena itu, fokus utama investor sebaiknya tertuju pada panduan kinerja Q4 dan potensi pengumuman pelanggan foundry baru, sebab kedua faktor tersebut akan menjadi penentu prospek investasi jangka panjang Intel, bukan sekadar satu angka EPS.
Laba Alphabet Anjlok, Saham Google Turun 8%!
Daily Summary: Fed Dovish, Oracle Meroket 11%!
Azure Melonjak 48%, Saham Microsoft Naik!
Microsoft vs Google: Saham AI Terancam?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.