Presiden AS Donald Trump mendukung pembatasan ekspor diesel dari Amerika Serikat, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan opsi larangan penuh maupun sebagian.
Belum ada keputusan final, tetapi Trump mengatakan keputusan seharusnya diambil dalam waktu dekat.
Ini menjadi perubahan sikap yang cukup signifikan karena sebelumnya pemerintah cenderung skeptis terhadap pembatasan ekspor bahan bakar.
Jika disetujui, kebijakan tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap suplai diesel global.
Alasannya cukup sederhana.
Harga diesel di AS sudah mencapai level yang mulai berdampak bukan hanya kepada pengendara, tetapi juga terhadap ekonomi secara lebih luas.
Menurut EIA, rata-rata harga retail diesel mencapai US$6,52 per galon pada 21 September, dibanding US$5,96 hanya dua minggu sebelumnya.
AAA mencatat rata-rata harga sekitar US$6,53 per galon pada 22 September, yang merupakan rekor tertinggi.
Sekilas, larangan ekspor terlihat seperti solusi sederhana: semakin banyak diesel yang bertahan di AS, semakin besar suplai domestik dan semakin rendah harga.
Namun pasar produk minyak olahan jauh lebih kompleks.
Larangan Ekspor Bisa Menurunkan Harga, Tapi Hanya Sementara
Dampak paling langsung kemungkinan memang positif bagi pasar AS.
Diesel yang saat ini diekspor ke Meksiko, Amerika Latin, Eropa, dan wilayah lain harus dialihkan ke pasar domestik.
Peningkatan suplai lokal dapat menekan harga grosir dan secara bertahap berpotensi menurunkan harga yang dibayar distributor maupun konsumen di SPBU.
Skala potensial dampaknya cukup besar.
Amerika Serikat merupakan salah satu eksportir produk minyak olahan terbesar di dunia.
Pada 2025, ekspor bahan bakar transportasi utama mencapai rata-rata sekitar 2,4 juta barel per hari.
Distillates, dengan diesel sebagai komponen terbesarnya, menyumbang lebih dari setengah volume tersebut.
Pada April 2026, ekspor distillates bahkan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, level tertinggi sejak 2017.
Mengalihkan sebagian volume tersebut ke pasar domestik dapat dengan cepat menekan spot price di Gulf Coast, pusat industri refinery dan ekspor AS.
Masalahnya, penurunan harga di Gulf Coast tidak otomatis menghasilkan penurunan dengan skala yang sama di Iowa, New York, atau California.
Produk minyak olahan tetap harus didistribusikan melalui pipeline, terminal, kereta, dan fasilitas penyimpanan.
Hambatan logistik regional membuat pasar bahan bakar AS tidak sepenuhnya terintegrasi.
Masalah Terbesar: Diesel Tidak Diproduksi Sendiri
Refinery tidak dapat begitu saja memutuskan hanya memproduksi diesel.
Satu barel crude oil menghasilkan berbagai produk sekaligus, termasuk gasoline, diesel, jet fuel, LPG, dan komponen lainnya.
Pada Juni 2026, sekitar 43,8% output refinery AS berupa gasoline, sekitar 29,6% distillates, dan 12,4% jet fuel.
Di Gulf Coast, distillates menyumbang sekitar 31,5% dari output.
Hal ini penting untuk memahami risiko dari pembatasan ekspor.
Jika larangan tersebut menyebabkan harga diesel Gulf Coast turun tajam, profitabilitas refinery juga dapat ikut tertekan.
Perusahaan refinery tidak hanya melihat harga diesel secara terpisah.
Mereka mempertimbangkan nilai keseluruhan produk yang dihasilkan dibandingkan dengan biaya crude oil.
Dalam skenario ekstrem, kebijakan ini justru dapat menghasilkan paradoks.
Awalnya, suplai diesel domestik naik dan harga turun.
Namun margin refinery ikut melemah.
Jika beberapa perusahaan kemudian mengurangi throughput, atau volume crude oil yang diproses, produksi diesel, gasoline, dan jet fuel juga dapat ikut turun.
Karena itu, Trump mengakui pembatasan ekspor diesel juga berpotensi memengaruhi pasar gasoline.
Masalahnya Bukan Cuma Harga Minyak
Pasar diesel saat ini cukup tidak biasa karena kenaikan harga tidak hanya disebabkan mahalnya crude oil.
EIA menunjukkan harga diesel juga didukung oleh crack spread yang sangat tinggi, yaitu selisih antara harga produk minyak olahan dan biaya crude oil yang digunakan untuk memproduksinya.
Crack spread merupakan salah satu indikator utama profitabilitas refinery.
Suplai produk olahan global juga terbatas akibat gangguan geopolitik dan masalah pada sebagian kapasitas refinery.
Menurut Axios, sekitar 7% hingga 8% kapasitas refinery global saat ini tidak beroperasi, sementara pembatasan terhadap Rusia dan gangguan arus bahan bakar global memberikan tekanan tambahan.
Artinya, harga crude oil dapat stabil atau bahkan turun sementara diesel tetap sangat mahal.
Bagi konsumen, harga Brent atau WTI hanyalah satu bagian dari pembentukan harga.
Masih ada biaya refinery, logistik, distribusi grosir, pajak, dan margin retail sebelum bahan bakar sampai ke konsumen.
Dunia Bisa Kehilangan 1,5 Juta Barel Diesel AS per Hari
Dari perspektif global, larangan ekspor penuh akan memberikan dampak yang jauh lebih besar.
AS saat ini berperan sebagai salah satu pemasok fleksibel produk minyak olahan.
Ketika terjadi kekurangan di negara lain, refinery Gulf Coast dapat meningkatkan ekspor dan mengalihkan bahan bakar ke pasar dengan harga tertinggi.
Pada musim semi 2026, ketika gangguan di sekitar Selat Hormuz meningkatkan permintaan terhadap bahan bakar AS, total ekspor crude oil dan petroleum products AS mencapai rekor 13,6 juta barel per hari.
Ekspor distillates sendiri mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari pada April.
Menghilangkan sebagian besar suplai tersebut dari pasar global akan memaksa importir bersaing mendapatkan diesel dari sumber alternatif.
Meksiko menjadi salah satu negara yang paling terekspos.
Pada Juni saja, lebih dari 7,6 juta barel distillates dikirim dari Gulf Coast menuju Meksiko, setara sekitar 256.000 barel per hari.
Dampaknya dapat berupa kenaikan harga produk olahan di Amerika Latin dan pasar lain yang bergantung pada impor, sekaligus meningkatkan persaingan mendapatkan suplai dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia.
Kenapa Harga di AS Justru Bisa Naik Lagi?
Di sinilah paradoks utama kebijakan tersebut.
Pada tahap pertama, mekanismenya sederhana: lebih banyak diesel bertahan di AS, persediaan domestik naik, dan harga grosir turun.
Namun efek tersebut memiliki batas.
Pada tahap berikutnya, suplai diesel global turun, harga internasional naik, dan crack spread di luar AS melebar.
Kondisi tersebut kemudian mengubah arus perdagangan global sekaligus harga bahan baku dan komponen pencampuran.
Pada saat yang sama, refinery AS kehilangan kemampuan menjual sebagian produksinya ke pasar luar negeri yang menawarkan margin lebih tinggi.
Jika harga domestik ditekan secara artifisial hingga berada di bawah harga global, insentif untuk memaksimalkan produksi dapat berkurang.
Karena itu, sejumlah analis yang dikutip Axios menilai larangan ekspor dapat menurunkan harga AS untuk sementara, tetapi menaikkan harga di luar negeri dan pada akhirnya membawa sebagian kenaikan biaya tersebut kembali ke ekonomi AS.
Diesel Penting untuk Inflasi, Refinery Bisa Tertekan
Dampak ekonomi diesel jauh lebih besar dibanding porsi langsungnya dalam pengeluaran rumah tangga.
Truk angkutan berat, pertanian, alat konstruksi, logistik, dan berbagai aktivitas industri sangat bergantung pada diesel.
Kenaikan harga diesel meningkatkan biaya pengiriman makanan, bahan baku, dan hampir seluruh barang yang bergerak melalui rantai pasok.
Karena itu, kenaikan harga diesel dapat relatif cepat masuk ke core inflation melalui peningkatan biaya transportasi dan produksi.
Dengan harga di atas US$6,50 per galon, tekanan terhadap petani, perusahaan transportasi, dan logistik menjadi jauh lebih besar dibanding tahun lalu.
Menurut AAA, rata-rata harga diesel saat ini hampir US$2,83 per galon lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya.
Dari perspektif pasar keuangan, penting untuk membedakan produsen crude oil dengan perusahaan refinery.
Bagi produsen minyak, dampaknya lebih tidak langsung.
Permintaan crude oil dari refinery baru berpotensi turun jika margin yang lebih lemah akhirnya membuat perusahaan mengurangi throughput.
Bagi operator refinery, dampaknya jauh lebih langsung.
Perusahaan dengan aset di Gulf Coast saat ini mendapat keuntungan dari kemampuan menjual diesel ke pasar domestik maupun internasional berdasarkan harga yang paling menguntungkan.
Larangan ekspor akan membatasi fleksibilitas tersebut.
Reaksi awal pasar kemungkinan berupa penyempitan diesel crack spread AS dibanding benchmark internasional.
Sebaliknya, crack spread di Eropa atau Amerika Latin berpotensi melebar.
American Petroleum Institute menentang pembatasan tersebut dan berpendapat bahwa pasar membutuhkan lebih banyak suplai dan fleksibilitas, bukan pembatasan ekspor.
Pandangan tersebut merupakan posisi kelompok industri dan perlu dibedakan dari penilaian independen terhadap dampak regulasi.
Larangan Penuh dan Pembatasan Sebagian Berbeda
Variabel utama yang perlu diperhatikan pasar sekarang adalah bentuk kebijakannya.
Larangan penuh akan menjadi langkah agresif yang berpotensi mengubah arus perdagangan bahan bakar global secara signifikan.
Sementara itu, pembatasan sebagian, sistem perizinan, atau batas ekspor sementara dapat membantu pemerintah mengendalikan persediaan domestik sambil tetap memungkinkan refinery melayani pelanggan utama di luar negeri.
Bessent mengonfirmasi pemerintah sedang mengevaluasi kedua opsi tersebut sekaligus dampaknya terhadap kapasitas refinery AS.
Memangkas ekspor beberapa ratus ribu barel per hari mungkin terutama berfungsi untuk membangun kembali persediaan domestik.
Sebaliknya, menghilangkan diesel AS sepenuhnya dari pasar internasional dapat menjadi guncangan suplai global yang signifikan.
Pasar Diesel Memasuki Fase Sulit
Wacana pembatasan ekspor menunjukkan betapa ketatnya pasar produk minyak olahan global saat ini.
AS memiliki kapasitas refinery besar dan merupakan eksportir utama diesel, tetapi industrinya tetap terhubung erat dengan pasar global.
Larangan ekspor dapat dengan cepat meningkatkan ketersediaan diesel domestik dan menekan harga grosir AS, terutama di Gulf Coast.
Namun bukan berarti harga di SPBU seluruh AS akan turun dengan besaran yang sama.
Dalam jangka lebih panjang, faktor terpenting adalah respons refinery.
Jika penurunan harga domestik menyebabkan margin dan throughput refinery turun secara signifikan, sebagian peningkatan suplai awal tersebut pada akhirnya dapat berbalik.
Karena itu, pasar akan berfokus pada tiga faktor utama: seberapa besar pembatasannya, berapa lama kebijakan berlaku, dan apakah refinery masih diperbolehkan mengekspor sebagian produksinya.
Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah kebijakan hanya menjadi instrumen jangka pendek untuk menurunkan harga domestik atau justru menjadi sumber gangguan baru bagi pasar bahan bakar global yang sudah sangat ketat.
OECD Naikkan Proyeksi Global Berkat AI
Kalender Ekonomi: PMI AS dan Eropa Jadi Fokus
Market Wrap: Minyak Turun Lagi, Tapi Yield AS Tetap Tinggi
US Open: US100 Dekati Rekor, Saham AI Tetap Memimpin
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.