📈 Pasar Saham
- Sesi pertama Wall Street pada September belum bisa disebut sukses, dengan mayoritas indeks utama saham AS saat ini berada di zona merah.
- Indeks utama S&P 500 turun sekitar 0,7%, Dow Jones melemah 0,8%, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi menjadi yang terlemah dengan penurunan hampir 1%.
- Tekanan jual terlihat pada saham teknologi dan semikonduktor, meskipun skalanya belum tergolong ekstrem.
- Di antara perusahaan teknologi, Amazon turun 2% dan Microsoft melemah 1,2%.
- Micron juga berada di bawah tekanan setelah muncul laporan mengenai potensi aksi mogok pekerja di Taiwan.
- Saham semikonduktor turut tertinggal, dengan Nvidia turun sekitar 1%, sementara AMD melemah sekitar 3%.
- Di sisi sebaliknya, Apple justru menguat lebih dari 2,5%.
📊 Makroekonomi
- Pada Agustus, aktivitas manufaktur AS masih mengalami ekspansi, tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Juli.
- Indeks ISM turun dari 55,6 menjadi 54,6 poin, lebih rendah dibandingkan ekspektasi analis sebesar 55,3 poin.
- Meski melambat, angka di atas 50 poin masih menunjukkan bahwa sektor industri AS berada dalam fase ekspansi.
- Pada saat yang sama, new orders meningkat selama delapan bulan berturut-turut, mengindikasikan bahwa permintaan masih relatif kuat.
- Pada Juli, jumlah lowongan kerja di AS meningkat menjadi 7,27 juta dari 7,18 juta pada Juni, tetapi hasil tersebut masih cukup jauh di bawah ekspektasi sebesar 7,36 juta.
- Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat tetapi mulai mendingin secara bertahap, sementara permintaan perusahaan terhadap pekerja tidak meningkat secepat yang sebelumnya diperkirakan.
🌍 Geopolitik
- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
- Pada Selasa, Amerika Serikat melakukan serangkaian serangan baru terhadap target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, terutama terkait upaya menyerang kapal komersial di kawasan Selat Hormuz serta pasukan AS di wilayah tersebut.
- Ini menjadi babak baru dalam konflik setelah serangan AS pada Minggu terhadap peluncur rudal Iran di Pulau Larak, yang menurut Washington juga digunakan untuk mempersiapkan pemasangan ranjau laut.
- Sebagai respons, Iran menembakkan delapan rudal ke arah pangkalan militer AS di Yordania, tetapi seluruhnya berhasil dicegat.
- Donald Trump mengonfirmasi bahwa serangan terbaru AS merupakan bentuk balasan atas tindakan Iran dan memperingatkan bahwa jika Teheran kembali merespons, AS akan melakukan serangan berikutnya "dalam skala yang jauh lebih besar."
- Iran juga menjanjikan respons lanjutan terhadap tindakan AS. Namun, Presiden Iran pada saat yang sama memberikan sinyal kesiapan untuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata sebelumnya apabila Amerika Serikat memenuhi kewajibannya.
- Bagi pasar keuangan, Selat Hormuz tetap menjadi faktor yang paling krusial.
🛢️ Komoditas
- Setelah rangkaian serangan terbaru, harga minyak Brent telah naik menembus US$90 per barel.
- Laporan terbaru mengenai serangan lanjutan AS serta gangguan terhadap kapal di kawasan tersebut kembali meningkatkan risiko kenaikan harga minyak lebih lanjut.
- Logam mulia berada di bawah tekanan signifikan hari ini, menghapus sebagian kenaikan yang tercatat selama Agustus.
- Harga emas turun hampir 2,5% dan jatuh ke bawah US$4.350 per ounce.
- Harga perak melemah hampir 3% dan turun ke bawah US$65 per ounce.
💱 Mata Uang
- Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama.
- Penguatan tersebut mendapat dukungan jelas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat konflik AS-Iran, yang mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
- Dukungan tambahan datang dari kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi, yang berpotensi membatasi ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dan menopang yield obligasi pemerintah AS.
SLB Belanja US$4,1 Miliar Demi Masuk Infrastruktur AI
Airbnb Makin Besar, Tapi Apakah Ekspansinya Mulai Terlalu Jauh?
Emas Tertekan, Tapi Bank Sentral Justru Makin Agresif Membeli
US Open: Wall Street Tertekan, Minyak Dekati US$90
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.