Harga emas spot kembali menembus US$4.000 per troy ounce pada 4 November 2026, melonjak 2,4% ke sekitar US$4.022 setelah mengalami koreksi hampir 7% sepanjang Oktober. Menariknya, rebound ini terjadi ketika harapan diplomasi AS–Iran mulai meredakan tekanan harga minyak, menunjukkan bahwa pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed) dapat lebih menentukan arah harga emas dibandingkan risiko geopolitik saja.
Emas Kembali Tembus US$4.000 Setelah Koreksi Tajam
Harga emas naik tajam pada perdagangan Rabu, 4 November, setelah kemenangan Partai Demokrat (Democrats) dalam pemilu midterm AS mendorong pelemahan dolar dan kenaikan harga obligasi Treasury. Dolar AS sempat melemah 0,6% terhadap sekeranjang mata uang utama, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,93%, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan pendapatan bunga.
Pemulihan ini terjadi setelah harga emas kehilangan hampir 7% nilainya sepanjang Oktober, ketika kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat. Meski berhasil merebut kembali level psikologis US$4.000, kenaikan dalam satu sesi perdagangan belum cukup untuk membuktikan bahwa tren koreksi emas telah berakhir.

Sumber: xStation
Secara teknikal, harga emas pada timeframe H1 masih menunjukkan momentum bullish, dengan harga berada di sekitar US$4.035, di atas garis tengah Bollinger Bands US$3.952,70 dan mendekati resistance Fibonacci 0,786 di US$4.038,30. Indikator RSI 74,58 menunjukkan kondisi overbought, sementara MACD yang tetap positif mengindikasikan tren kenaikan jangka pendek belum berakhir. Jika mampu menembus US$4.038, emas berpotensi menguji kembali US$4.083,90. Namun, apabila gagal bertahan di atas US$4.002, harga berisiko terkoreksi menuju area US$3.977–3.952.
Mengapa Perang Tidak Selalu Membuat Harga Emas Naik?
Emas umumnya mendapat dukungan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, tetapi konflik AS–Iran memperlihatkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu berlaku. Lonjakan harga minyak selama konflik memperbesar tekanan inflasi, sehingga pasar semakin memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
The Fed sendiri mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75–4,00% dalam pertemuan 28 Oktober, dengan dua anggota Federal Open Market Committee (FOMC) bahkan mendukung kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin. Kondisi ini menjadi tantangan bagi harga emas karena kenaikan yield riil meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak menghasilkan bunga.
Sebaliknya, ketika harga minyak turun akibat harapan diplomasi, tekanan terhadap ekspektasi inflasi dan pengetatan moneter berpotensi mereda. Namun, penurunan harga minyak tidak otomatis menurunkan yield riil karena dampaknya tetap bergantung pada perubahan yield nominal dan ekspektasi inflasi. Artinya, harga emas dapat menguat meskipun risiko perang mereda, selama dolar AS dan yield bergerak ke arah yang mendukung.
Midterm AS dan Data NFP Menjadi Penentu Berikutnya
Kemenangan Partai Demokrat di kedua kamar Kongres AS meningkatkan prospek pemerintahan terbelah (divided government) karena Gedung Putih masih dikendalikan Presiden Donald Trump. Pasar melihat perubahan ini berpotensi membatasi ekspansi fiskal baru, mendorong kenaikan harga obligasi Treasury dan penurunan yield, meskipun belum tentu menghasilkan perbaikan defisit anggaran dalam jangka panjang.
Perhatian berikutnya tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 6 November 2026, pukul 20.30 WIB. Jika pertumbuhan pekerjaan dan upah lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kebijakan The Fed yang ketat dapat kembali mengangkat yield Treasury serta dolar AS dan membatasi kenaikan harga emas.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang melemah berpotensi mendukung harga emas jika pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya. Perkembangan negosiasi AS–Iran dan pergerakan harga minyak juga tetap penting karena dapat mengubah ekspektasi inflasi secara cepat.
Bagi investor, arah harga emas berikutnya bukan hanya ditentukan oleh apakah konflik AS–Iran berakhir, tetapi juga apakah perubahan harga energi, kondisi ekonomi, dan kebijakan The Fed benar-benar mendorong dolar AS serta yield riil lebih rendah.
Lowongan Kerja AS Naik, Wall Street Terancam?
Harga Minyak Anjlok, Risiko Lonjakan Brent dan WTI Belum Hilang
Democrats Sementara Unggul, Trump Terancam Gridlock
Daily Summary: Nasdaq Rebound 1,1% Jelang Pemilu AS!
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.