12.55 · 18 Juni 2026

Johnson & Johnson Bidik Pendapatan $100 Miliar pada 2026

Johnson & Johnson Terus Memperkuat Dominasinya di Industri Kesehatan

Johnson & Johnson (JNJ.US) merupakan perusahaan kesehatan terbesar di dunia berdasarkan pendapatan, dan sepanjang tahun 2026 terus menunjukkan alasan mengapa posisi tersebut layak dipertahankan. Saham JNJ diperdagangkan di sekitar US$235 dengan kenaikan 55,6% selama 12 bulan terakhir. Perusahaan ini juga baru dinobatkan sebagai perusahaan kesehatan terbaik dalam daftar Best Companies for the Future 2026 versi The Wall Street Journal serta mengumumkan investasi baru senilai US$1 miliar untuk memperluas fasilitas manufaktur Vision di Florida.

Dengan pendapatan kuartal pertama sebesar US$24,1 miliar, panduan tahunan yang telah dinaikkan menuju US$100,8 miliar, dan rekam jejak 64 tahun berturut-turut meningkatkan dividen, strategi Johnson & Johnson yang menggabungkan inovasi farmasi, skala MedTech, dan alokasi modal agresif terus menjadi tolok ukur industri kesehatan global.

Johnson & Johnson Menuju Rekor Pendapatan US$100 Miliar

Hasil kuartal pertama 2026 Johnson & Johnson mengonfirmasi bahwa mesin pertumbuhan perusahaan tetap berjalan kuat di kedua segmen utamanya. Total penjualan mencapai US$24,1 miliar, meningkat 9,9% dibandingkan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan operasional sebesar 6,4%, melampaui ekspektasi Wall Street.

Segmen Innovative Medicine membukukan pendapatan US$15,4 miliar dengan pertumbuhan operasional 7,4%, didorong oleh:

  • DARZALEX yang tumbuh 18% dan mencapai penjualan kuartalan US$4 miliar.
  • TREMFYA yang melonjak 64% dalam bisnis imunologi.

Sementara itu, segmen MedTech menghasilkan pendapatan US$8,6 miliar, naik 4,6% secara operasional, didukung oleh pertumbuhan platform kardiovaskular dan robotik bedah.

Manajemen meningkatkan panduan penuh tahun 2026 menjadi:

  • Pendapatan: US$100,8 miliar (titik tengah panduan)
  • EPS disesuaikan: US$11,55

Kedua target tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 7% dan berpotensi menjadikan 2026 sebagai tahun pertama Johnson & Johnson menembus pendapatan tahunan US$100 miliar.

Q1 berakhir pada 29 Maret 2026. Sumber: Johnson & Johnson Investor Relations, XTB Research Indonesia. M = miliar USD.

Penurunan laba bersih GAAP sebesar 52,4% memang terlihat mengkhawatirkan pada pandangan pertama, tetapi seluruhnya disebabkan oleh efek basis perbandingan. Pada Q1 2025, perusahaan mencatat pembalikan cadangan litigasi talc sebesar US$7 miliar yang secara signifikan meningkatkan laba periode tersebut. Jika faktor tersebut dikeluarkan, laba yang disesuaikan relatif stabil. Kondisi ini cukup mengesankan mengingat adanya tekanan sebesar 920 basis poin akibat persaingan biosimilar terhadap STELARA.

Pesan utamanya adalah bahwa franchise pertumbuhan baru Johnson & Johnson seperti DARZALEX, TREMFYA, CARVYKTI, ERLEADA, dan SPRAVATO kini lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan STELARA. Saat ini perusahaan memiliki 28 platform atau produk yang masing-masing menghasilkan setidaknya US$1 miliar pendapatan tahunan.

Taruhan US$1 Miliar pada Vision dan Strategi Investasi AS Senilai US$55 Miliar

Pada 15 Juni, Johnson & Johnson mengumumkan investasi US$1 miliar di Jacksonville, Florida, guna meningkatkan kapasitas manufaktur, pengemasan, dan distribusi untuk merek lensa kontak Acuvue serta teknologi lensa intraokular (IOL) generasi berikutnya.

Investasi tersebut mencakup:

  • Pembangunan pusat distribusi baru yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
  • Modernisasi teknologi manufaktur.
  • Peningkatan fasilitas pengemasan berteknologi tinggi.

Saat ini, fasilitas Jacksonville memproduksi lebih dari 1,7 miliar lensa kontak Acuvue setiap tahun. Kampus tersebut telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun dan mempekerjakan sekitar 3.500 karyawan dengan kontribusi ekonomi tahunan mencapai US$6 miliar bagi negara bagian Florida.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen investasi yang jauh lebih besar, yaitu US$55 miliar untuk manufaktur, penelitian dan pengembangan (R&D), serta teknologi berbasis AS hingga awal 2029.

Secara strategis, keputusan tersebut memperkuat ketahanan rantai pasok perusahaan sekaligus menempatkan Johnson & Johnson pada posisi yang menguntungkan di tengah meningkatnya dukungan politik terhadap investasi manufaktur domestik.

Bisnis Vision sendiri melayani lebih dari 40 juta pasien. Ekspansi ini ditujukan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di pasar lensa kontak global, yang didorong oleh penuaan populasi dan meningkatnya prevalensi miopia di seluruh dunia.

Sumber: Johnson & Johnson Investor Relations, XTB Research Indonesia. M = miliar USD.

Pipeline Inovasi Terus Diperkuat

Selain investasi di Vision, Johnson & Johnson juga terus mengalokasikan modal secara agresif ke pipeline inovasinya. Perusahaan baru saja mengakuisisi Firefly Bio, perusahaan bioteknologi yang berfokus pada jalur kanker yang selama ini dianggap sulit ditargetkan (undruggable), memperkuat strategi ekspansi di bidang onkologi bernilai tinggi. Di sisi lain, TALVEY, terapi multiple myeloma milik Johnson & Johnson, mencatat hasil positif dalam studi Phase 3 MonumenTAL-3 yang diumumkan pada 13 Juni. Perkembangan ini menambah kandidat produk blockbuster baru ke dalam pipeline perusahaan yang sudah sangat kuat. Manajemen kini menyatakan keyakinan bahwa perusahaan mampu mencapai pertumbuhan pendapatan dua digit pada akhir dekade ini.

Apa yang Membuat Johnson & Johnson Tetap di Puncak?

Keunggulan utama Johnson & Johnson dibandingkan sebagian besar pesaingnya terletak pada model bisnis "mesin ganda".

Mayoritas perusahaan kesehatan hanya beroperasi di salah satu area berikut:

  • Farmasi murni yang rentan terhadap patent cliff.
  • Perusahaan alat kesehatan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih terbatas.

Johnson & Johnson menggabungkan kedua bisnis tersebut dalam satu ekosistem yang saling melengkapi.

Sinergi tersebut terlihat pada berbagai bidang seperti:

  • Teknologi penghantaran obat (drug delivery).
  • Robotik bedah.
  • Inovasi oftalmologi.

Banyak analis menyebut Johnson & Johnson sebagai "kisah pertumbuhan paling bersih di industri kesehatan" karena diversifikasi pipeline yang mampu menyerap kegagalan atau perlambatan produk individual. Erosi pendapatan STELARA menjadi contoh nyata bagaimana franchise pertumbuhan yang lebih baru mampu sepenuhnya menutupi penurunan produk lama. Selain itu, rekam jejak 64 tahun berturut-turut menaikkan dividen memperkuat reputasi perusahaan dalam disiplin pengelolaan modal dan komitmen terhadap pemegang saham.

Risiko yang Tetap Perlu Diperhatikan

Meski prospeknya kuat, Johnson & Johnson tetap menghadapi sejumlah risiko penting.

Litigasi Talc

Bayangan litigasi talc masih menjadi tantangan besar.

Per Juni 2026:

  • Lebih dari 90.000 gugatan masih aktif.
  • Terdapat putusan sebesar US$1,5 miliar terhadap perusahaan pada Desember 2025.

Tiga upaya Johnson & Johnson untuk menyelesaikan perkara melalui mekanisme kebangkrutan telah ditolak pengadilan, sehingga risiko litigasi masih terus berlanjut.

Tekanan Tarif

Tarif terhadap komponen farmasi impor mulai memberikan tekanan biaya pada kuartal pertama.

Dampaknya meliputi:

  • Penurunan sekitar 10 basis poin pada margin biaya pokok penjualan.
  • Margin MedTech turun dari 25,9% menjadi 22,3%.

Valuasi

Dengan trailing P/E sebesar 27,3x, saham JNJ tidak dapat dikategorikan murah secara absolut.

Namun valuasi tersebut masih dianggap relatif wajar dibandingkan rata-rata sektor farmasi jika mempertimbangkan:

  • Profil pertumbuhan yang lebih kuat.
  • Diversifikasi bisnis yang luas.
  • Potensi percepatan pertumbuhan menuju 2027 dan seterusnya.

Kesimpulan

Bagi investor yang mempertimbangkan Johnson & Johnson pada level saat ini, kombinasi panduan pendapatan menuju US$100 miliar, pipeline pertumbuhan yang terdiversifikasi, investasi manufaktur AS senilai puluhan miliar dolar, serta rekam jejak dividen yang telah berlangsung sejak 1962 menjadi alasan kuat mengapa perusahaan ini tetap berada di puncak industri kesehatan global.

Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah Johnson & Johnson mampu mempertahankan dominasinya, melainkan apakah valuasi saham saat ini sudah sepenuhnya mencerminkan kualitas bisnis dan potensi pertumbuhan jangka panjang yang dimilikinya.

18 Juni 2026, 13.18

Market Wrap: Fed Pertahankan Suku Bunga, Wall Street Rebound

18 Juni 2026, 01.32

FOMC Tahan Suku Bunga, Dot Plot Hawkish

18 Juni 2026, 00.26

Daily Summary: Pasar Menanti The Fed, Fokus ke Kevin Warsh

17 Juni 2026, 20.51

🚀 SpaceX Bernilai US$2,6 Triliun: Visi atau Bubble?

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.