Harga palladium melonjak 6,2% menjadi US$991,39 per troy ounce pada perdagangan 4 November 2026, melampaui kenaikan emas (gold) dan perak (silver) ketika dolar AS melemah. Namun, reli tersebut terjadi di tengah prospek fundamental yang kurang mendukung, dengan permintaan palladium diperkirakan turun 9% tahun ini dan pasar berpotensi beralih dari defisit menjadi surplus kecil.
Palladium Memimpin Reli Logam Mulia Saat Dolar AS Melemah
Palladium menjadi salah satu komoditas dengan penguatan terbesar pada 4 November setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu midterm AS diikuti pelemahan dolar dan penurunan yield Treasury. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik logam mulia karena pelemahan dolar membuat komoditas berdenominasi dolar AS lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.
|
Logam Mulia |
Kenaikan 4 Nov |
Harga Spot |
|---|---|---|
|
Palladium |
+6,2% |
US$991,39 |
|
Perak (Silver) |
+4,4% |
US$51,94 |
|
Emas (Gold) |
+2,9% |
US$4.041,60 |
Kenaikan palladium yang melampaui emas dan perak menunjukkan sensitivitas harga terhadap perubahan sentimen pasar, terutama setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan tajam juga dapat diperbesar oleh perubahan posisi spekulatif trader, meskipun belum ada bukti cukup untuk menyimpulkan bahwa short covering menjadi pendorong utama reli tersebut.
Meski harga kembali menguat, palladium masih mengalami koreksi signifikan dibandingkan level sebelumnya. Artinya, rebound satu hari belum cukup untuk memastikan bahwa tren penurunan telah berakhir.
Analisis Teknikal Palladium 1D: Rebound Belum Mengubah Tren Bearish
Sumber: xStation
Secara teknikal, palladium pada timeframe harian (1D) bergerak di sekitar US$1.025,50, setelah memantul dari bagian bawah descending channel atau kanal tren menurun. Indikator RSI di 41,60 dan MACD yang mulai membaik menunjukkan tekanan jual mulai mereda, meskipun tren utama masih bearish.
Resistance krusial berada di US$1.042–1.052, dengan peluang kenaikan menuju US$1.073 jika berhasil ditembus. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan rebound dapat membawa harga kembali menguji US$973, dengan support utama di US$927–937.
Permintaan Otomotif Melemah, Palladium Berisiko Mengalami Surplus
Berbeda dari emas yang banyak digunakan sebagai aset investasi dan cadangan bank sentral, permintaan palladium sangat bergantung pada industri otomotif. Logam ini merupakan komponen penting dalam catalytic converter atau konverter katalitik untuk mengurangi emisi kendaraan berbahan bakar bensin, sehingga perubahan produksi mobil konvensional sangat memengaruhi kebutuhan industri.
Pertumbuhan kendaraan listrik murni menjadi tantangan struktural karena mobil berbasis baterai tidak memerlukan catalytic converter. Dalam laporan Mei 2026, Johnson Matthey memperkirakan total permintaan palladium turun 9% tahun ini, sejalan dengan pelemahan kebutuhan industri otomotif dan perubahan komposisi produksi kendaraan global.
Dampaknya cukup signifikan karena pasar palladium yang mengalami defisit selama periode 2012–2025 kini berpotensi mencatat surplus kecil pada 2026. Pada saat yang sama, pemulihan aktivitas daur ulang catalytic converter diperkirakan meningkatkan pasokan sekunder, menambah tekanan ketika kebutuhan industri otomotif mulai berkurang.
Namun, proyeksi surplus tersebut tidak berarti seluruh sumber pasokan palladium sedang meningkat. Produksi tambang Rusia justru diperkirakan turun ke level terendah dalam setidaknya dua dekade, sehingga penurunan permintaan yang lebih cepat daripada penyusutan pasokan menjadi faktor utama perubahan keseimbangan pasar.
Meski prospek permintaan jangka panjang melemah, palladium tetap memiliki beberapa faktor pendukung. Kendaraan hybrid masih menggunakan mesin pembakaran internal yang membutuhkan catalytic converter, sedangkan gangguan produksi tambang Rusia dapat membatasi pasokan primer dan membuat surplus lebih kecil dari perkiraan.
Perkembangan ini menciptakan dua skenario berbeda. Dalam skenario bullish, pelemahan dolar dan penurunan yield Treasury yang berlanjut dapat menopang rebound, terutama jika muncul kekhawatiran baru terhadap ketersediaan pasokan. Namun, jika dolar kembali menguat dan perhatian pasar beralih pada penurunan permintaan otomotif, palladium berisiko kehilangan momentum kenaikan.
Katalis terdekat adalah laporan nonfarm payrolls (NFP) AS pada Jumat, 6 November, pukul 20.30 WIB, yang dapat mengubah ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan arah dolar. Selain itu, perubahan proyeksi produksi kendaraan bensin dan hybrid, perkembangan aktivitas daur ulang, serta pasokan tambang Rusia akan menentukan apakah pasar benar-benar memasuki periode surplus.
Volatilitas yang tinggi juga meningkatkan risiko karena penggunaan leverage dapat memperbesar kerugian ketika harga berbalik tajam. Kenaikan palladium sebesar 6% menunjukkan bahwa sentimen pasar mampu mengalahkan tekanan fundamental dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan reli tetap membutuhkan dukungan permintaan atau perubahan kondisi pasokan yang lebih nyata.
Daily Summary: Dow Jones Meroket 3%, Minyak Anjlok 9%!
Harga Minyak Brent Anjlok 9%, Tembus US$95 Usai Pemilu AS
Wall Street Berbalik Naik, Nasdaq Hapus Kerugian
Blue Wave: Demokrat Menang Telak, Saham AI Terancam?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.