- Saham software dan consulting melemah tajam setelah IBM merilis hasil awal Q2 yang mengecewakan.
- IBM anjlok lebih dari 20%, sementara Accenture, Cognizant, ServiceNow, Salesforce, Workday, dan Microsoft ikut tertekan.
- Investor mencermati pergeseran belanja enterprise dari software dan layanan IT menuju server, storage, serta memory chips.
- Kekurangan HBM dan DRAM global mendorong perusahaan mengamankan hardware sebelum harga naik lebih jauh.
- Microsoft turun sekitar 20% secara year-to-date, meski valuasinya mulai terlihat tidak terlalu mahal dibandingkan rata-rata Nasdaq.
- Saham software dan consulting melemah tajam setelah IBM merilis hasil awal Q2 yang mengecewakan.
- IBM anjlok lebih dari 20%, sementara Accenture, Cognizant, ServiceNow, Salesforce, Workday, dan Microsoft ikut tertekan.
- Investor mencermati pergeseran belanja enterprise dari software dan layanan IT menuju server, storage, serta memory chips.
- Kekurangan HBM dan DRAM global mendorong perusahaan mengamankan hardware sebelum harga naik lebih jauh.
- Microsoft turun sekitar 20% secara year-to-date, meski valuasinya mulai terlihat tidak terlalu mahal dibandingkan rata-rata Nasdaq.
Saham software dan consulting dijual tajam setelah IBM merilis hasil awal kuartal kedua yang meleset dari ekspektasi, baik dari sisi revenue maupun earnings. Yang lebih penting, IBM menyoroti perubahan nyata dalam perilaku pelanggan enterprise, yang ditafsirkan investor sebagai potensi sinyal peringatan bagi pasar enterprise software secara lebih luas.
Penurunan terbesar mencakup:
- IBM: lebih dari -20%
- Accenture: sekitar -8%
- Cognizant: sekitar -7%
- ServiceNow: sekitar -7%
- Salesforce: sekitar -5%
- Workday: sekitar -5%
- Adobe, HubSpot, Datadog, dan Microsoft: lebih dari -3%
Perusahaan Mengalihkan Belanja dari Software ke Infrastruktur AI
Di luar hasil keuangan yang mengecewakan, pasar terutama berfokus pada komentar CEO IBM, Arvind Krishna, mengenai perilaku pelanggan menjelang akhir Juni. Menurut IBM, banyak pelanggan enterprise mulai mengalihkan anggaran IT dari software, layanan IT tradisional, dan proyek transformasi digital menuju server, sistem storage, dan memory chips dalam upaya mengamankan hardware penting sebelum harga naik lebih jauh.
Pendorong utama dari tren ini adalah kelangkaan global HBM dan DRAM memory yang masih berlangsung. Permintaan besar dari hyperscaler dan investasi infrastruktur AI terus mendorong kenaikan harga komponen utama data center. Akibatnya, enterprise mengalokasikan porsi anggaran IT yang lebih besar untuk pembelian hardware, sehingga modal yang tersedia untuk lisensi software, langganan SaaS, layanan consulting, dan implementasi software baru menjadi lebih terbatas.
Pasar Khawatir Perlambatan Lebih Luas di Enterprise Software
Bagi investor, kekhawatiran utamanya adalah masalah ini dapat meluas jauh melampaui IBM. Jika enterprise terus mengalihkan modal dari software ke infrastruktur AI, perusahaan software dan consulting dapat menghadapi pertumbuhan revenue yang lebih lambat dalam beberapa kuartal mendatang.
Kekhawatiran ini muncul di momentum yang sensitif karena investor sebelumnya sudah khawatir bahwa AI pada akhirnya dapat mengurangi permintaan terhadap enterprise software tradisional dan layanan consulting, sehingga menciptakan tekanan jangka panjang bagi banyak perusahaan di sektor tersebut. IBM juga menyoroti peningkatan ancaman cybersecurity yang cepat, yang semakin mengalihkan perhatian pelanggan dari pelaksanaan sejumlah proyek IT selama pekan-pekan terakhir kuartal tersebut.
Saham Microsoft (Timeframe D1)
Saham Microsoft telah turun sekitar 7% di bawah EMA 200 hari, yang ditunjukkan oleh garis merah, dan kini melemah hampir 30% dari level tertinggi sepanjang masa. Perusahaan ini menghadapi awal tahun yang menantang. Setelah rebound sekitar 10%, RSI pulih ke 51, menunjukkan posisi teknikal netral, dari mana saham secara teoritis dapat mengalami pergerakan bullish atau bearish yang kuat.

Sumber: xStation5
Saham Microsoft kini turun sekitar 20% secara year-to-date, menjadikan perusahaan ini salah satu performer terlemah di antara saham teknologi mega-cap Wall Street, meskipun hasil keuangannya membaik secara signifikan secara tahunan. Dengan rasio P/E sekitar 23, valuasinya tidak terlalu mahal dibandingkan rata-rata Nasdaq. Namun, investor tetap khawatir terhadap belanja modal besar perusahaan terkait AI, eksposurnya terhadap potensi perlambatan siklus enterprise software, dan investasi besar di OpenAI, yang bersaing langsung dengan pengembang AI terkemuka lainnya, termasuk Anthropic.

Sumber: xStation5
IBM Anjlok 20%, Tekanan Memory Guncang Teknologi
Nvidia vs Broadcom: Duel Raja Chip AI 2026
BofA Survei: Investor Makin Bullish pada Saham Teknologi
TSM Cetak Rekor Revenue, AI Boom Masih Kuat
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.